GERBONG DI LORONG SUNYI

Cerpen: Hasudungan Rudy Yanto Sitohang

Malam perlahan mulai meranjak. Bulan pun terbangun, mengeluarkan selaksa tanya. Sinarnya terpancar dibalik dahan-dahan tak berdaun. Redup dibalik langit berwarna jingga. Langit yang menanti bumi, yang siap menelan anak-anaknya. Anak-anak yang dilupakan, yang menjadi sampah peradaban dari lorong penghuni neraka. Penghuni yang terbuang oleh kejamnya kota, yang melahirkan pembunuh, pencuri dan pemangsa anaknya sendiri. Kota yang memuakkan, kota para pemangsa. Continue reading “GERBONG DI LORONG SUNYI”

Advertisements

CERPEN: DENTING SUMBANG LONCENG TUA

Oleh: Hasudungan Rudy Yanto Sitohang

Desau angin meluruh, deras bagaikan anak panah melesat. Seperti merobek-robek langit yang menghitam. Langit yang menawar luka, memerih pada kehidupan yang tak pasti. Hingga keabadian terkoyak menjadi lautan merah saga. Lautan kesedihan yang bersanding jerit kepedihan. Bersama pohon-pohon berdesir. Bersama binatang malam melolong. Seperti igauan para pendoa yang tak putus-putus berseru. Suara-suara yang mengoyak dini hari itu. Dan setiap penghuni kampung duduk bersimpuh menanti apa yang terjadi.

Kemudian bumi bergetar, seakan para penghuni neraka turun bersenandung melewati tangga-tangga kegelapan. Nyanyian malam terasa menyeramkan. Nada-nadanya siap menelan orang-orang. Nada-nada itu bersanding dengan untaian doa-doa yang terus dipanjatkan, berharap sang Khalik turun melenyapkan segala murka. Memaafkan laku para pendosa yang tak habis-habisnya merusak alam, menghancurkan kehidupan serta membanggakan diri.

Begitulah ketika bara datang, setiap makhluk diam bersujud. Dan anak-anak memeluk tubuh ibunya erat. Meminta kehangatan dan kedamaian di sela-sela permohonan. Tunas muda yang putih dari dosa. Kemudian langit menyisakan rintik hujan dan suara binatang malam. Sunyi. Lalu pagi kembali. Dan dari sela-sela dinding terdengar ucapan syukur. Tak lama, satu-persatu para penghuni kampung keluar melihat langit yang mencerah, melihat embun pagi yang menetas kedamaian. Continue reading “CERPEN: DENTING SUMBANG LONCENG TUA”

CERPEN “SOLU AYAH DI TEPI TAO”

Oleh: Hasudungan Rudy Yanto Sitohang

Aku kembali ke tanah leluhur. Huta dimana aku dilahirkan. Tanah di tepian Tao Toba yang terkenal di pelosok negeri hingga penjuru dunia. Ternyata tanah leluhur sudah banyak berubah. Termasuk huta tempatku ini. Batu-batu dan pohon bambu yang dulu mengelilingi rumah di huta sudah tak ada. Sekarang tinggal bekasnya. Bekas tebangan bambu, akarnya masih mencekeram kuat. Batu-batu bersusun rapi sebagai pembatas dan tembok pertahanan kini hilang. Semua lenyap. Tak tahu entah mengapa. Rumah yang kami sebut sebagai rumah bolon itu sudah banyak berganti. Tak ada lagi rumah panggung yang ditopang kayu kuat bernama hotang. Rumah itu dibanggakan karena penuh lukisan ornamen. Kini berubah menjadi rumah semi permanen berlantai tanah. Rumah bolon yang tersisa pun sudah banyak yang lapuk, tak terurus. Satu diantaranya rumah ayahku. Rumah tempat aku dilahirkan. Continue reading “CERPEN “SOLU AYAH DI TEPI TAO””

CERPEN: MEKAR DI MALAM NATAL

Oleh: Hasudungan Rudy Yanto Sitohang

Angkot sudah lama berhenti di depan mall. Supir membunyikan klakson berkali-kali, memanggil orang-orang yang berdiri di depan halte. Seorang penumpang di dalam angkot kelihatan gelisah, kakinya bergeser tak mau diam.

Tangannya memegang erat sebuah keranjang. Di dalamnya sebuah bungkusan ditutupi kertas koran. Dia sudah tak sabar, lama menunggu di dalam angkot berpenumpang tiga orang. Dirinya, seorang ibu muda berlesung pipit dan lelaki paruh baya, sejak tadi tertunduk sedih. Continue reading “CERPEN: MEKAR DI MALAM NATAL”

CERPEN: TEPI MAKAM PAHLAWAN

Oleh: Hasudungan Rudy Yanto Sitohang

Subuh menjelang, kokok ayam bersahut-sahutan. Hawa dingin menusuk relung, menggigit tulang para penghuni, dilanda gelisah. Menggerutu. Betapa hari tak maui membiarkan pulasnya tidur, tarikan selimut rapat-rapat diikuti paduan suara ngorok bernada sumbang. Komposisi alamiah tanpa dirijen-partitur, merentak, mengutuk hidup betapa cepatnya pagi menyapa. Continue reading “CERPEN: TEPI MAKAM PAHLAWAN”

INANG

Oleh: Irwan Siregar dan Firman Triyadi

Inang yakin, “Kalau Barita sudah menjadi orang yang hebat, dan pasti pula segalanya dia ingat, rumah, kebun, kerabat, semuanya, dan tentu pula padaku … Barita sedang berjuang di ibukota, sebaiknya aku terus berdo’a agar dia hebat seperti impianku”. Dulu, supaya anaknya itu dapat menjadi sarjana, Inang bersemangat mengerjakan apa saja. Selain berkebun dibelakang rumah, dia menjadi buruh bangunan, Mengetok batu dipinggir jalan, tukang pengaspal jalan dan juga mengamen di tempat-tempat keramaian. Uang yang didapatnya selalu ia kumpulkan seperak demi separak. Bahkan sering dia berlauk garam dan cabe kalau makan. Semua dia lakukan demi mengirit untuk biaya kuliah Barita di Jakarta. Continue reading “INANG”