Ancaman China Bukan Lagi Komunisnya Tapi SDM dan Nasionalisme Warganya

Oleh: Elsafrida Sitohang*

elsa-sitohang_cina4Sejarah Tiongkok merupakan salah satu sejarah kebudayaan yang paling diingat dunia, peradaban yang begitu besar yang memang sudah saya buktikan ketika saya mengikuti program dari Kemenpora, Indonesia China Youth Exchange Program 2016.

Kali ini, saya akan mengulas sedikit tentang China di mata saya. Proses pembangunan di China berjalan sangat pesat dan fenomenal. Bagaimana tidak? China hanya membutuhkan waktu tiga dekade untuk menjadi salah satu kekuatan ekonomi dan perdagangan besar di dunia.

Saya melihat ada energi positif yang dimiliki China. Dalam konteks ini, China mampu memanfaatkan ‘kelemahan’ jumlah penduduk untuk menaikkan posisi tawar. Pilihan yang dijalankan, sangatlah tepat ketika China mencoba menunjukkan eksistensi diri kepada dunia luar.

elsa-sitohang_cina5Sebuah negeri yang terkenal dengan julukan Tirai Bambu, memang mampu membuat strategi penyembunyian kemampuan diri tanpa ketauan orang sampai kepada puncak strategi aktif dan berprestasi. Kebijakan pintu terbuka merupakan kunci utama sukses nya berbagai bidang di China.

Model kebijakan ekonomi China yang dirancang guna memobilisasi pengembangan industri dan properti yang sangat ambisius. Bisa kita lihat sekarang ini China juga menjadi salah satu pasar konsumsi paling penting di dunia.

China telah menjadi customer telepon tanpa kabel terbesar di dunia, juga menjadi pasar mobil nomor tiga terbesar di dunia. Sejalan dengan ledakan konstruksi pembangunan dan manufakturnya, juga hampir secara sendirian menentukan harga dunia untuk materil struktural kasar (semen, baja, tembaga, dll).

Yang saya tangkap dari optimisme China sendiri adalah China bisa bangkit karena memanfaatkan perekonomian dunia yang melemah. Sebuah negeri yang mampu dan berhasil menangkap peluang globalisasi dan liberalisasi ekonomi. Sehingga membuat hal ini menjadi sebuah ‘kekuatan besar’ dalam ekonomi dan perdagangan dunia.

Perlu diperhatikan pula bahwa sekarang ini konsep negara dituntut pula menjadi mitra yang efektif dan lebih dapat dipercaya dalam pembangunan guna mewujudkan tujuan-tujuan yang diinginkan rakyat. China sendiri mampu hadir memberikan ruang bagi anak muda sebagai pelopor pembangunan, dukungan suntikan dana bagi anak muda per individunya bisa mencapai Rp. 2M bagi setiap individu yang mau dan berusaha meningkatkan kapasistas diri demi sebuah tolak ukur kesejahteraan.

Tidak hanya itu, hal yang juga menakjubkan adalah pemerintah China sendiri juga memberikan tempat sebagai inkubator usaha bagi anak muda yang sekali lagi mau dan berusaha mengembangkan kapasitas diri. Sekali lagi, negeri ini sungguh merata sejahteranya, merata pendidikannya.

Pembangunan kapasitas pengelolaan daerah juga adalah hal yang disorot pemerintah China sendiri, bagaimana China melihat kemampuan untuk menggerakkan masyarakat, memobilisir sumber-sumber daerah yang ada. Salah satu contoh yang saya gambarkan adalah, Provinsi Ningxia.

Salah satu daya jual Ningxia adalah salah satu wilayah yang memiliki umat muslim terbanyak di China (sekitar 30%), sehingga pada tahun 2010 mulanya kerjasama ekonomi Tiongkok-Arab terlaksana. Ada industri tekno kimia, produk-produk halal, dan industri berciri khas.

Sedikit gambaran geografis daerah ini adalah, sebuah kota yang masih terbilang belum maju untuk skop China karena sangat banyak daerah kering yang belum tersentuh pembangunan.

Tapi tak disangka, ternyata beras terbaik di China dan buah-buahan yang sangat manis ada di provinsi kering ini. Intinya adalah, bagaimana memainkan peran Ningxia tersebut.

Dalam hal ini juga, pemerintah memainkan peran Ningxia dalam OBOR, sebuah kota yang sengaja di design masuk dalam jalur lintas OBOR. Bisa dibayangkan, ada total 64 negara yang bekerja sama dengan wilayah Ningxia sendiri.

Keberhasilan kebijakan pembangunan China jelas bisa dijadikan pelajaran berharga bagi Indonesia yang notabenenya tidak hanya gagal dalam melakukan pembangunan ekonomi, tetapi juga bangkrut.

Kebangkrutan yang terjadi karena utang-utang yang terus membengkak, sementara sumber daya alam yang terus menerus dieksploitasi tanpa memberikan peningkatan kesejahteraan yang signifikan bagi masyarakat.

Ancaman China kini tidak terletak dalam komunismenya, tetapi lebih kepada ancaman-ancaman yang bersifat ekonomi dan perdagangan sebagaimana yang sering terefleksikan dipemberitaan media dan serbuan produk-produk China.

China telah memberikan pelajaran berharga bagi kita, khususnya kepada negara untuk mampu bertindak dan berperan dalam ekonomi, politik di zaman global seperti sekarang ini. Pelajaran yang tidak kalah pentingnya adalah bagaimana memupuk semangat nasionalisme dalam keseluruhan konteks proses kebijakan.

Memang menurut saya pribadi, China telah mampu melakukan liberalisasi ekonomi dan seolah-olah ‘mengkhianati’ ideologi komunis. Namun, Rakyat China sendiri tetap nasionalis.

*)Elsafrida Sitohang

Alumni Indonesia China Youth Exchange Program 2016.
Mahasiswa Ilmu Pemerintahan Universitas Maritim Raja Ali Haji
Kabid PKK GMKI Tanjungpinang 2016-2017

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s