Diskusi Para Pelayat Tentang Pilpres

Beberapa minggu lalu saya melayat kenalan yang meninggal dunia di kota saya di Tanjungpinang, Kepulauan Riau. Seperti kebiasaan warga komunitas Batak di manapun berada, banyak kenalan almarhum semasa hidupnya akan menunggui berjam-jam kadang hingga malam sebagai ungkapan perpisahan sebelum jasad kenalan atau kerabatnya yang meninggal itu dikebumikan. Seringkali keluarga yang berduka sampai memasang tenda untuk menghindarkan pelayat dari kepanasan saat siang hari atau basah saat turun hujan.

Sejak saya tiba di rumah duka, diantara pelayat ada yang bergerombol dan diskusi dengan suara yang ditahan-tahan tetapi dengan wajah yang dikondisikan suasana duka.

Penasaran ingin tau apa yang mereka bicarakan, mendekatkan kursi saya ke kerumunan itu. Dari dialog mereka saya mendengar antara lain begini:

“Sudahlah Jokowi itu yang peduli kita rakyat kecil. Itu sudah dibuktikan waktu dia Walikota di Solo dan Gubernur di Jakarta. Malah dia sering keluar masuk kampung dan pasar. Jadi dia asti tau betul bagaimana sulitnya kehidupan rakyat kecil”, kata yang satu.

“Ya…Bagaimana Prabowo tau apa kepedulian rakyat kecil, dia tidak pernah mau keluar dari rumah, mobil mewah dan helikopternya, dan merasakan kesulitan yang kita rasakan”, jawab yang satu lagi.

Tiba-tiba satu orang menimpali dengan wajah serius.

“Kalau saya sih gampang aja. Kalau Jokowi Presiden, saya pingin punya Kartu Indonesia Sehat dan Kartu Indonesia Pintar seperti yang dia berikan untuk penduduk Jakarta. Hanya kalau dia presiden kita semua di Indonesia ini bisa punya kartu-kartu itu…Sekarang saya tanya, kalian semua mau kartu Indonesia sehat dan kartu Indonesia pintar gak?”

“Mauuuuuuuuuuuuuuu…..u” sahut semua orang yang rupanya sejak tadi nguping diam-diam medengar penjelasan soal Kartu Indonesia Sehat dan Indonesia Pintar yang hanya mungkin dimiliki oleh warga Indonesia di luar DKI Jakarta kalau Jokowi JK terpilih jadi presiden tanggal 9 Juli nanti. Dialog kecil itu akhirnya menarik perhatian para pelayat lainnya yang tidak mengetahui apa yang terjadi.

Tanpa sadar diskusi kecil pelayat dan para pengupingnya itu menarik pelayat yang lain mendekat dan bertanya-tanya satu dengan yang lain apa yang terjadi. Ketika yang lain menjelaskan dengan nada berbisik mengenai kartu Indonesia Pintar dan Kartu Indonesia sehat itu kontan pelayat yang baru mendengarkan juga berteriak kecil,

“Ya mau lah saya. Siapa yang tidak mau Pintar dan Sehat”.

Cerita kecil ini berasal dari kejadian di lapangan, jadi bukan dari diskusi di dunia maya yg kadang-kadang terjadi antara “ghost account” dengan akun benaran (nama akun yang sama dengan nama pemiliknya dan jelas identitasnya).

Petrus Sitohang/ br Purba di Tanjungpinang Kepulauan Riau

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s