Jiwa Agama, Bukan Dogma Agama

Oleh: Vayireh Sitohang

vayireh sitohangSudah lama bangsa Indonesia terkungkung oleh dogma-dogma yang menguatkan fanatisme suku dan agama, sehingga rakyat terpecah belah dan menggerus semangat kebangsaan dan kekeluargaan. Kenyataannya konflik sosial ekonomi selalu digiring menjadi konflik suku, agama, ras dan golongan, karena rakyat belum tercerahkan sepenuhnya tentang jiwa dari pada penciptaan kehidupan. Sangatlah disayangkan, jika segelintir orang yang terganggu kepentingan ekonomi dan politiknya, berusaha melibatkan banyak orang dan menyeret-nyeretnya menjadi konflik SARA. Hal ini karena rakyat kurang tercerahkan oleh nilai-nilai dari komunitas yang mengikatnya.

Marilah kembali memikirkan dan merenungkan apa yang terjadi dari masa lalu hingga saat ini.  Dahulu kala, nenek moyang kita merupakan manusia beradat  atau beradab yang menerapkan nilai-nilai spiritual yang tinggi, dan telah memiliki pemahaman serta pengakuan akan adanya kekuatan yang lebih kuat dari kekuatan manusia.

Kekuatan yang tidak bisa dikendalikan manusia tersebut, diyakini para nenek moyang bersemanyam dalam benda yang dianggap memiliki kekuatan yang dapat melindungi dan atau memusnahkan manusia. Kepercayaan kepada benda-benda yang memiliki kekuatan gaib tersebut, kita kenal dengan istilah animisme dan dinamisme.

Perlu kita sadari bahwa letak geografis dan topografi indonesia berperan menentukan corak dari kepercayaan nenek moyang kita. Berbeda tata cara dan tradisi kehidupan nenek moyang yang bermukim di tepi pantai dengan yang bermukim di pedalaman. Begitupun dengan tata cara dan tradisi nenek moyang di dataran pegunungan dengan dataran yang landai.

Tata cara atau tradisi kehidupan tersebut akan menentukan corak spiritualitas masyarakatnya dan media pemujaan untuk mengucapkan syukur dan permohonan kepada kekuatan yang lebih kuat dari kekuatan manusia. Sehingga muncul media komunikasi spiritual nenek moyang kepada kekuatan yang lebih kuat dalam bentuk sasajen, tarian, nyanyian dan sebagainya. Tata cara atau tradisi kehidupan dan media spiritual tersebut diwariskan nenek moyang kepada generasi selanjutnya melalui nasehat (lisan) dan praktek (dibudayakan), karena belum mengenal tulisan sebelum datang pengaruh Agama Hindu pada abad ke-3.

Supaya generasi selanjutnya mau mewariskannya, maka penduhulu-pendahulu dari masa ke masa menyempurnakan nilai-nilai spiritualnya sesuai dengan situasi dan kondisi yang sedang dihadapi. Akibat tradisi kehidupan tersebut tidak pernah dituliskan, maka akan mudah mereduksi nilai-nilainya sesuai dengan kepentingan masa itu. Untuk mempertahankan tradisi tersebut, maka dibangunlah cerita-cerita yang sifatnya mengagung-agungkan sesuatu. Cerita-cerita tersebut dikembangkan menjadi cerita rakyat, yang bertujuan agar seluruh rakyat dan generasi selanjutnya mempertahankan dan melangsungkan hidup serta mengendalikan keseimbangan alam.

Untuk menjaga tradisi-tradisi tersebut dari pengaruh luar, maka nenek moyang menambahkan cerita-cerita yang mengandung gaib dan spiritual, agar terus diwariskan dan menjunjung tinggi kebudayaan nenek moyangnya. Tidak dapat dihindari terbangunlah dogma-dogma kebudayaan yang terkadang berlebihan, seolah-olah kebudayaannya lebih unggul dari pada kebudayaan masyarakat lain.

Sampai hari ini, masih banyak orang yang mengagung-agungkannya tanpa menyadari nilai-nilai dari tradisi warisan leluhur tersebut, sehingga yang berkembang adalah fanatisme kesukuan.

Tradisi leluhur mulai dipengaruhi Hindu, sejak pemerintahan bercorak Hindu hadir sebagai pemerintahan pada abad ke-4, yakni kerajaan Tarumanegara di Jawa Barat pada tahun 358 M, dan Kerajaan Kutai di Kalimantan. Tetapi sampai berakhirnya masa kejayaan Kerajaan Majapahit pada awal abad ke-16, Hindu belum sempurna mempengaruhi tradisi-tradisi leluhur tersebut. Bahkan Kerajaan Majapahit sejak tahun 1293 hingga tahun 1500, Kerajaan Majapahit menciptakan dogma-dogma baru hingga menciptakan fanatisme yang terasa hingga saat ini. Misalnya : Fanatisme matrilinier (Minang) di Sumatera Barat akibat pengakuan hak kuasa putri raja pagaruyung yang dikawinkan dengan Pangeran Majapahit. Perang bubat telah menguat fanatisme sunda di Jawa Barat. Bangsawan-bangsawan Majapahit yang beragama Hindu menyingkir ke Bali untuk membangun fanatisme baru dan mempertahankan Bali tetap bercorak Hindu, dan lain sebagainya. Sebenarnya Hindu sudah hadir di Indonesia sejak sebelum masehi, yang dibuktikan tulisan-tulisan sejarawan india sekitar tahun 200 SM yang telah menyebut Dwipantara atau kerajaan Hindu Jawa.

Agama Budha mulai mempengaruhi tradisi leluhur sejak abad ke-7, yakni dengan berdirinya Kerajaan Sriwijaya di Palembang pada tahun 670 M, walaupun pada tahun 425 M agama Buddha telah mencapai kerajaan Kutai di pesisir Sungai Mahakam, Kalimantan.

Selanjutnya pada abad ke-12, Islam mulai mempengaruhi tradisi leluhur dan hadir sebagai pemerintahan, walaupun pada abad ke-7 sudah ada raja yang pertama beragama Islam, yaitu Srindravarman raja jambi tahun 718 M, yang telah berkomunikasi dengan Khalifah Umar Bin Abdul Aziz dan tahun 839 M sudah berdiri Kesultanan Peureulak, kerajaan Islam pertama di Indonesia. tetapi sampai masuknya bangsa Eropa menjajah Indonesia, Islam belum sempurna mempengaruhi tradisi-tradisi leluhur tersebut. Bahkan fanatisme tetap berkembang dan merasuki agama monotheis pertama yang masuk ke Indonesia tersebut, karena Islam harus berakulturasi dengan tradisi leluhur yang sedikit banyak telah dipengaruhi Hindu dan Budha.

Haruslah kita akui bahwa lahirnya kerajaan-kerajaan di Indonesia tidak terlepas dari pengaruh Hindu, Budha dan Islam. Tidak dapat disangkal lagi, bahwa tabiat orang yang berkuasa di masa lalu adalah mempertahankan singgasana dan mewariskannya pada keturunan berikutnya. Untuk mendukung tabiat dari para penguasa tersebut, maka Istana berperan memodifikasi tradisi-tradisi yang berlaku di masyarakat serta membangun dogma-dogma baru untuk meningkatkan fanatisme terhadap tradisi-tradisi budaya, agar mudah dikendalikan dan tetap mentaati semua titah raja / sultan.

Awal abad ke-16, Bangsa Eropa yang dimulai oleh Portugis dan Spanyol menguasai Indonesia, mengelola dengan baik semangat fanatisme agama dan suku tersebut, untuk memudahkannya menaklukkan semua raja-raja di Nusantara. Pada awal abad ke-17, Perusahaan Hindia Timur Belanda (VOC: Verenigde Oostindische Compagnie) menyusul hadir menguasai Indonesia. Namun akhir abad ke-19 sampai dengan pertengahan abad ke-20 Pemerintah Belanda mengambil alih penguasaan Indonesia akibat VOC bangkrut dalam menghadapi berbagai gejolak perlawan rakyat Indonesia. Sistem Devide et Impera digunakan Pemerintahan Belanda dalam mempertahankan kekuasaannya di Nusantara selama 350 tahun. Perang saudara terjadi di seluruh daerah yang bergejolak menolak keberadaan Belanda. Misalnya, Perang yang digerakkan Pangeran Diponegoro dan para alim ulama melawan Tentara Belanda yang didukung Kerajaan Yogyakarta, Perang Paderi yang dipimpin Tuanku Imam Bonjol dan para alim ulama melawan Tentara Belanda dan didukung oleh Kaum Adat Sumatera Barat, Perang Makassar yang dipimpin Sultan Hasanuddin melawan Belanda yang didukung Arufalaka, Perang Banten yang dipimpin Sultan Ageng Tirtayasa melawan Belanda yang didukung Pangeran Haji, dan sebagainya.

Gerakan misionaris Kristen nyata hadir mempengaruhi tradisi leluhur yang sudah dipengaruhi agama Hindu, Buddha, dan Islam, setelah perang Napoleon Bonaparte pada abad ke-19. Walaupun pada tahun 1546 M, Francis Xavier, seorang misionaris terkenal sudah melakukan misi pelayanan Kristen di Ambon dan diteruskan ke Ternate. Dikala para misionaris murni memenuhi panggilan pelayanan untuk pemberitaan keselamatan, Pemerintah Hindia Belanda mewajibkan semua komunitas misionaris agar melakukan misi pelayanan keselamatan di daerah yang ditentukan. Misalnya, di Pulau Jawa para misionaris diwajibkan melakukan misi pelayanan diawali dari semarang – salatiga – solo- yogya. Di Pulau Sumatera dimulai dari Sibolga – Tarutung – Simalungun – Medan, di Sulawesi ; Toraja – Poso – Palu- Benggala, di Kalimantan ; Pontianak – Palangkaraya, dan seterusnya.

Perlu dipahami bahwa pada awalnya Kristen sulit mempengaruhi tradisi Indonesia, karena tradisi leluhur yang mengandung fanatisme tinggi telah dipengaruhi Hindu, Budha dan Islam. Sehingga komunitas missionaris terlebih dahulu melakukan aktifitas sosial seperti memberikan pengobatan gratis, mengajari cara bertani dan beternak yang baik, mengajari baca tulis, bahkan akhirnya sampai membuka sekolah-sekolah yang menjadi cikal bakal terbukanya kesadaran rakyat untuk merdeka dari Penjajahan. Ada juga pemberontakan dipimpin Kristiani untuk mengusir penjajahan, misalnya di Maluku digerakkan oleh Kapitan Pattimura.

Terlepas dari kebencian rakyat terhadap Penjajahan, tetapi banyak penganut kristiani yang tersadarkan untuk berjuang memerdekakan Indonesia. Misalnya, Snevliet, keturunan Belanda dan beragama Kristen yang mempelopori terbentuknya PKI dan yang pertama menyatakan Indonesia harus merdeka tahun 1920. Kemudian Dewes Dekker, keturunan Belanda yang beragama Kristen. Amir Syarifuddin, J. Leimena, TB. Simatupang, Kawilarang, Wolter Robert Mongonsidi, Sam Ratulangi, dan masih banyak lagi dengan tegas mendukung Indonesia Merdeka dan ikut melawan Belanda.

Pada masa penguasaan Belanda, berbagai aliran atau sekte agama diberikan kesempatan untuk masuk Indonesia, serta membangun menguatkan semangat fanatisme baru. Misalnya, Bangsa Arab, China dan Asia lainnya dikategorikan sebagai warga kelas II atau yang lebih didahulukan setelah bangsa Eropa, sedangkan bangsa Indonesia tetap dikategorikan sebagai warga kelas III atau yang paling akhir untuk diperhatikan. Sehingga fanatisme “pribumi”  tetap mengakar di keseharian kehidupan rakyat.

Untuk memudahkan pengendalian kaum Muslimin, Islam diberikan kesempatan yang luas mengorganisir diri dalam Masyumi pada masa penjajahan Jepang, yang berbeda dengan sikap komunitas ahmadiyah tetap memilih di luar Masyumi karena konsistensi untuk membebaskan umat yang tertindas.

Salah satu founding father Indonesia, Soekarno menyadari fanatisme yang mengakar dalam kehidupan masyarakat, sehingga beliau berulang kali membuat tulisan yang bertujuan untuk mempersatukan rakyat. Tulisan-tulisan Bung Karno saat dibuang di Ende, mengkritisi berbagai dogma yang berlaku pada Muslim Indonesia. Bung Karno memberi pencerahan tentang tabir pemisah pria dan wanita di Mesjid, hingga berkomentar tentang Ahmadiyah yang dinyatakan kaum ulama bertentangan dengan prinsip Islam, tetapi memiliki spirit membuka cakrawala berpikir untuk penyadaran memerdekakan Indonesia.

Pada saat penyampaian prinsip dasar mendirikan negara merdeka pada tanggal 1 Juni 1945 di depan BPUPKI, Bung Karno mengatakan : ”Kita mendirikan negara Indonesia, yang kita semua harus mendukungnya. Semua buat semua! Bukan Kristen buat Indonesia, bukan golongan Islam buat Indonesia, bukan Hadikoesoemo buat Indonesia, bukan Van Eck buat Indonesia, bukan Nitisemito yang kaya buat Indonesia, tetapi Indonesia buat Indonesia, semua buat semua!“. Pada kesempatan tersebut, Bung Karno menyampaikan bahwa jika ingin nilai-nilai Islam yang dilakukan Negara, perbanyaklah wakilnya di badan perwakilan Indonesia, jika nilai-nilai kristiani yang mau diwujudkan negara maka perbanyaklah wakilnya di badan perwakilan Indonesia, dan seterusnya.

Kemudian Bung Karno dalam Pidato tanggal 24 September 1955 di Surabaya, mengatakan : ” Negara Republik Indonesia ini bukan milik sesuatu golongan, bukan milik sesuatu agama, bukan milik sesuatu suku, bukan milik sesuatu golongan adat-istiadat, tetapi milik kita semua dari Sabang sampai Merauke!” Bung Karno berharap pada agama-agama di Indonesia berbasiskan bangsa dan nasional, supaya Islam yang mengindonesia, kristen yang mengindonesia, budha yang mengindonesia, dan seterusnya.

Selama menjadi Presiden RI, Soekarno selalu berpidato di berbagai perayaan keagamaan apapun dengan berpesan agar umat atau jemaat menggali api atau jiwa dari pada Firman dalam kitab suci agama masing-masing. Bung Karno menghendaki Api Islam yang digali. Bung Karno meminta umat Kristiani menjadi domba-domba yang baik dengan menjadi garam dan terang dunia, dan sebagainya. Tidak sedikit pidatonya yang menyetir ayat alquran, alkitab, weda, tripitaka, dan lain sebagainya. Bung Karno dengan tegas menolak negara yang berlandaskan suku dan agama. Walaupun satu guru dan satu pondokan dengan kartosuwiryo, dengan tegas Bung Karno menolak Darul (Negara) Islam yang dideklarasikan Kartosuwiryo, dan sekaligus memerintahkan TNI untuk menghancurkan kekuatan Negara Islam Indonesia di berbagai daerah. Dengan tegas juga Bung Karno memerintahkan TNI menghentikan Dr. Soemokil mendirikan Republik Maluku Selatan, dsb.

Apabila Bung Karno berusaha mempersatukan Indonesia, malah di masa pemerintahan Soeharto   mengembangkan sentimen kesukuan dan terang-terangan menggunakan tradisi Jawa dalam berbagai aktifitas kenegaraan. Pelayanan pemerintahan menomorduakan warga pribumi, sehingga sentimen ras semakin menguat. Kelompok Islam dan Kristen Fundamental dibredel atau dihancurkan secara paksa, sehingga terjadi fanatisme antar aliran atau sekte-sekte dalam agama-agama, dan lain sebagainya. Peristiwa Aceh, Tanjung Priok, St. Cruss Dilli, Papua, Dukun Santet, dan lain sebagainya menjadi saksi akan kekejamannya, yang berujung pada penguatan fanatisme agama. Di akhir kekuasaan Soeharto dan kroninya menggunakan simbol-simbol Islam untuk mempertahankan kekuasaan dengan membangun Pam Swakarsa yang akhirnya bereinkarnasi menjadi FPI.

Sistem diskriminatif di era pemerintahan Soeharto tersebut, berdampak pada era reformasi. Puncak amarah rakyat di kala terjadi kerusuhan sosial di berbagai kota pada tahun 1998 yang mengorbankan warga keturunan, perang antara dayak-melayu melawan madura di singkawang pada tahun 2000, kerusuhan Ambon, Poso, dan lain sebagainya. Yang terbaru adalah pengusiran komunitas Ahmadiyah dan Syiah serta penutupan rumah-rumah ibadah di berbagai kota yang karena alasan tidak memiliki ijin pendirian atau tidak memenuhi SKB 2 menteri tahun 2005.

Berdasarkan cuplikan sejarah diatas, agama cenderung digunakan sebagai alat untuk mempertahankan kekuasaan. Dogma-dogma agama bertujuan memperkuat kekuasaan atau memperkuat  perlawanan terhadap penindasan yang diajarkan oleh para tokoh agama kepada umat atau jemaat diarahkan untuk memperkuat rasa kepemilikan agama, sehingga Abdulrahman Wahid yang biasa dipanggil Gus Dur pernah menyatakan bahwa para penganut Agama telah menuhankan agama. Ajaran tokoh-tokoh agama terus mengembangkan menjadi tradisi yang mengakar sehingga terbangun fanatisme yang berlebihan. Tujuan dari pengembangan semangat fanatisme tersebut agar umat atau jemaat mudah digerakkan untuk memenuhi “panggilan” tertentu.

Seharusnya tokoh agama mengajarkan jiwa dari pada agama-agama tersebut, sehingga secara objektif dapat menyikapi kondisi dan situasi yang terjadi pada masanya, serta menolak segala bentuk yang tidak sesuai dengan jiwa agama. Lahirnya agama dipengaruhi kondisi dan situasi masyarakat pada masa lahirnya agama tersebut, sehingga dapat disimpulkan bahwa agama bertujuan untuk membela kebenaran, keadilan dan mewujudkan kesejahteraan, selain mengendalikan masyarakat agar teratur.

Oleh karena hal-hal diatas, perlulah kiranya dievaluasi ulang tradisi kehidupan masyarakat yang berkembang masa kini. Komunikasi dan silaturahmi antar tokoh agama, budayawan dan tokoh masyarakat lainnya, tidak cukup menjawab persoalan tentang konflik SARA, karena fanatisme yang ditonjolkan dalam setiap pengajaran atau bimbingan agama dan budaya. Para tokoh agama diharapkan mampu mengajarkan umatnya dengan pesan-pesan kenabian yang bersifat pencerahan. Latar belakang, maksud dan tujuan lahirnya firman yang seharusnya disampaikan disaat berkhotbah atau berdakwah nilai-nilai agama. Begitupun dengan para tokoh adat atau budayawan, harus menyampaikan latar belakang, maksud dan tujuan lahirnya tradisi budaya tertentu, saat menjelaskan tradisi tersebut.

Para tokoh agama dan budayawan harus dengan hati yang bersih dan tulus melakukan pencerahan terhadap rakyat, agar terbangun budi pekerti yang bersumber dari budi nurani umat dalam memperkuat kebersamaan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Jiwa dari Ketuhanan yang termaktub dalam kitab suci dan jiwa yang terkandung dalam tradisi budaya harus digali dan diberitakan kepada rakyat. Nilai-nilai Ketuhanan harus disampaikan para tokoh agama dan nilai-nilai spiritual yang harus dijelaskan para tokoh adat, untuk menghilangkan fanatisme dari para penganut agama dan pengikut budaya, agar ditemukan benang merah dalam mempersatukan semua masyarakat yang dipecah-belah berbagai ikatan dan komunitas.

Jikalau api atau jiwa agama dan budaya yang disampaikan dalam khotbah-khotbah, maka kesadaran moral rakyat akan terbangun. Keberhasilan peran agama membangun moral rakyat, akan mengurangi semangat berbuat jahat menurut nilai-nilai Ketuhanan dan Kemanusiaan.  Korupsi, kolusi dan nepotisme akan berkurang, jikalau moral rakyat yang bersumber dari api agama dan jiwa agama telah dipahami. Cara dogtrinisasi dengan menakut-nakuti rakyat dengan istilah “neraka dan surga”, kurang menyentuh jiwa dan perasaan umat. Tetapi jika disampaikan arti dan makna hakiki dari pada jiwa agama adalah untuk keselamatan, melawan kezaliman, melawan ketidakadilan, melawan ketidakbenaran, dan lain sebagainya, maka akan semakin banyak umat menyadari perbuatannya telah merugikan umat lain.

*) Vayireh Sitohang adalah Alumnus Institut Pertanian Bogor, Ketua Pemuda Demokrat Indonesia Kota Bogor dan Ketua GMNI Bogor tahun 2001 – 2005

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s