GERBONG DI LORONG SUNYI

Cerpen: Hasudungan Rudy Yanto Sitohang

Malam perlahan mulai meranjak. Bulan pun terbangun, mengeluarkan selaksa tanya. Sinarnya terpancar dibalik dahan-dahan tak berdaun. Redup dibalik langit berwarna jingga. Langit yang menanti bumi, yang siap menelan anak-anaknya. Anak-anak yang dilupakan, yang menjadi sampah peradaban dari lorong penghuni neraka. Penghuni yang terbuang oleh kejamnya kota, yang melahirkan pembunuh, pencuri dan pemangsa anaknya sendiri. Kota yang memuakkan, kota para pemangsa.

Tepat di ujung stasiun, kota itu, Ahmad segera membereskan alas tempat ia tidur. Satu-satunya yang tersisa, kardus bekas yang ia dapatkan dari toko kelontong di belakang stasiun. Rasanya baru kemarin Ahmad mengganti alas itu. Ritual tiga bulanan, jikalau ia tidak ingin badannya bentol-bentol karena tungau. Dengan cekatan, ia segera menyusunnya. Tuntas sudah malam ini. Ahmad pun tak lupa memberikan tanda silang pada kelender. Karena tiga bulan kemudian ia harus menggantinya.

Ahmad pun mulai merebahkan tubuhnya. Rasanya lantai itu tetap dingin, bahkan ia harus membiasakan diri lagi, walau sudah bertahun-tahun lamanya ia telah tinggal di gerbong ini. Matanya menerawang, menerobos di balik tembok jendela gerbong. Memandang langit berwarna jingga yang mengeluarkan taring.

“Apa yang kau tangisi?” bulan itu tertawa terbahak. Wajahnya mengeluarkan bau busuk dari bopengnya yang tak datar.

“Aku tak menangis! Aku tak pernah merintih!” desis Ahmad membela diri.

“Kau bohong, matamu tak bisa berbohong!” desak sang bulan lagi. Warnanya memerah seperti bara. Siap memuntahkan amarah, melesatkan keangkuhan, kekuatan sang penguasa malam.

Ahmad melompat dari tidurnya, seperti berpencak. “Pergilah, jangan ganggu diriku! Aku tak akan berubah!” amarahnya meluap-luap. Suaranya bergema. Ahmad sampai tersengal-sengal. Batuknya kambuh lagi. Ia merasa udara di sekelilingnya berubah jadi panas. Seperti percikan lidah-lidah api yang mulai membakar seisi gerbong. Api itu mulai menelannya, menggulungnya dengan asap hitam. Nyaris ia tak kelihatan, walau secarik sinar jingga masih memberi cahaya.

Mimpi buruk itu datang lagi menghantui dirinya. Ahmad tercekat. Berulangkali ia mengebas bayangan yang selalu datang ketika malam tiba. Bagi sebagian orang, malam adalah kenikmatan. Sehingga tak heran jika banyak orang menari-nari ketika malam menjelang, bersorak-sorai ketika malam datang dan menyapa. Seperti manusia yang menyembah kegelapan, manusia yang memper-Tuhankan malam.

Begitulah ketika bayangan malam datang. Awalnya masih satu-satu. Kemudian hari berikutnya, minggu berikutnya, bulan berikutnya dan tahun-tahun berikutnya, bayangan itu mulai bergerombol di lapangan luas, di seberang stasiun ini. Sorak- sorai dan musik terdengar membahana dari sana. Berbagai macam laku orang-orang yang datang. Pakaiannya berkilapan. Riasannya seperti badut, menghiasai setiap pojok lapangan. Dan para pelayan dengan sigap bergegas membawa makanan terlezat yang pernah ada di kota ini. Petugas keamanan pun siap menjaga, seperti anjing di bawah pintu yang siap menggongong manusia tak berguna. Manusia yang mulutnya menganga di balik tembok pagar. Mereka; manusia sial, tak diundang ke dalam pesta karena tempat mereka bukan di sana.

Mereka; manusia hina itu, akan mendapat giliran setelah sisa-sisa pesta selesai dikumpulkan. Mata mereka kuyu menatap sendu, melihat gemerlapnya pesta. Anak-anak yang digendongnya takjub melihat makanan yang bersiliweran keluar-masuk tiada henti. Mata mereka tak berkedip oleh gemerlapnya lampu. Air liur mereka jatuh menetes ke tanah, menganak sungai. Tak satupun mereka berani mendekat. Hanya suara mereka keluar bagai paduan yang serasi dan nyaris serentak. “Nguk…nguk…nguk,” seperti anjing.

Semakin malam, tamu-tamu di pesta semakin liar. Kata-kata makian tumpah ruah keluar dari mulutnya. Berbau sampah. Lalu pagelaran pun dimulai. Petinggi kota mulai berdansa ria bersama bidadari malam, meliuk-liuk bagaikan ular beludak. Mulut perempuan-perempuan itu berdesis liar, bergoyang seirama dengan tubuh para petinggi. Tamu-tamu lainnya tak mau kalah. Mereka berlomba menelan sajian makanan. Tak peduli perut-perut mereka yang membesar. Pesta akan terus berlangsung hingga langit membiru laut. Hingga tubuh-tubuh mereka tergeletak di lapangan bersama mimpi-mimpinya. Ah, di dalam mimpi pun mereka masih melanjutkan pesta. Sungguh menjijikkan.

***

Ahmad menghela napas, kucuran keringatnya semakin deras serupa mata air yang mengalir, di sela-sela urat dan otot tuanya. Rambutnya yang putih kembali menghitam. Terbakar karena panasnya gerbong. Serasa berada di pinggir tanur yang terus mengeluarkan bisa api, berdesis serupa ular yang sering datang ke gerbong ini. Ya, ular..ular yang senyumnya serupa iblis. Tangannya meliuk-liuk, menjulur dari luar. ”Bulanan…!” teriak sang ular dari luar. Puih! Apanya bulanan, terang saja ular itu minta jatah tak resminya. Lelaki di depan pintu gerbongnya tersenyum dingin seperti yang sudah-sudah, sama seperti bulan-bulan sebelumnya. Lelaki berseragam itu datang-pergi setiap awal tanggal. Selesai. Ahmad pun tetap akan tinggal di ruang besi ini tanpa gangguan.

Sudah lima tahun Ahmad menempati gerbong ini. Lima tahun sebelumnya ia adalah penghuni sebuah panti jompo di sebelah utara kota. Ketiga anaknya di perantauan telah memindahkannya ke tempat itu. Ia tidak kerasan. Ia merasa anak-anaknya ingin membunuhnya pelan-pelan. Lalu ia lari hingga terdampar di stasiun ini. Ketika Ahmad pergi dari panti itu, ia sebenarnya ingin menjumpai Sodikin, teman seperjuangannya di masa revolusi dulu, yang tinggal di stasiun kereta kota ini. Terakhir mereka bertemu ketika sama-sama mengambil uang pensiunan di kantor pos, beberapa blok dari stasiun.

Hampir seharian ia mencarinya. Para pegawai stasiun ditanyainya, pun tukang becak yang mangkal di depan, bahkan penjual buku-buku bekas di bawah jembatan kereta. Tapi tak satupun yang tahu, hingga langkahnya membawa dirinya di ujung pintu perlintasan kereta, sebelah tugu perjuangan ini.

Di tugu itu, Ahmad bertemu seorang pemulung yang kerap tidur di bawahnya. Bocah kurus-kumal itu mengatakan bahwa Sodikin, suatu ketika telah ditemukan mati persis di samping tugu. Tubuhnya membiru seperti laut. Matanya mendelik. Beberapa semut merah menggerogoti luka lehernya yang menganga. Pagi-pagi, mayatnya cepat-cepat dibawa petugas kota. Sejak itu, Sodikin lenyap ditelan bumi, tak ada yang tahu dimana dia dimakamkan. Ahmad menatap tugu dengan bimbang. Lukisan perjuangan tergambar jelas di dindingnya. Di bawahnya terukir sebagian nama-nama yang sempat ia kenal. Tapi terakhir, Sodikin mati di tempat ini seperti bangkai, tanpa penghormatan. Ah, sejak kapan mereka membuat tugu ini?

Sejak saat itu, Ahmad tinggal di sekitar tugu. Dan bermalam di emperan stasiun, hingga waktu membawanya tinggal di dalam gerbong. Tak terbayangkan termasuk ia sendiri bahwa akan tinggal di rumah besi ini. Dan selama itu pula, sudah banyak hal yang ia lalui. Hampir satu periode, sama dengan usia para petinggi yang menjabat di kota ini.

Malam sepertinya tak pernah tenang lagi. Suara kereta api menderu, dari sore ke malam hingga pagi, dan tak henti-henti menjerit. Lengkingan kereta besi itu seakan terus mengingatkan Ahmad pada sesuatu, baik ketika kereta datang atau pergi meninggalkan stasiun. Dan selama itu pula ia hapal suara-suara kereta yang kerap hadir dalam mimpinya. Pada malam-malam selanjutnya ia akan terus mendengar lengkingan binatang malam. Entah sampai kapan bunyinya akan berhenti. Karena kereta telah berubah jadi binatang malam seperti yang lain. Bahkan ia sering mendengar suara lenguhan di sebelah gerbongnya. Bau-bau keringat tercium menyengat. Deru napas berkejaran, berlomba-lomba, terus….terus hingga lelah melengking. Selesai.

Ahmad hanya menutup kedua telinganya rapat-rapat. Hanya lengkingan sesosok bayi yang membuat ia tergerak keluar dari gerbongnya. Ia temukan di bawah, teronggok sesosok bayi berbalut kain ungu. Rupanya bayi yang dibuang, bayi yang bernasib malang seperti dirinya. “Bajingan! Siapa yang tega membuang makhluk tak berdosa ini?” pekiknya tertahan. Segera ia angkat bayi itu ke dalam gerbong.

Pagi-pagi, tepat awal bulan, petugas berseragam datang menjemput tagihan bulanan. Tak sekedar itu, Lelaki yang tersenyum bagai binatang jalang itu membawa pula bayi yang ditemukannya kemarin malam, setelah memaksanya untuk menyerahkan makhluk malang itu.

“Kemana akan kau bawa?” tanya Ahmad penuh selidik.

“Bayi ini akan kulaporkan ke atasan, kemudian diserahkan kepada panti asuhan, agar dipelihara dengan baik,” jawab petugas itu. Senyumnya seringai, matanya berkilat seakan hendak menelan dirinya dan sang bayi. Ia tak bisa berbuat apa-apa. Posisinya teramat lemah.

“Kau benar-benar akan bawa bayi itu ke panti?”

“Itu bukan urusanmu, Pak Tua! Yang penting anak ini akan diperlakukan dengan baik, dibandingkan jika makhluk malang ini tinggal bersamamu!” Lelaki berseragam itu mulai emosi. Matanya melotot. Ahmad membalasnya tak mau kalah. Walau sudah tua, sisa-sisa dirinya sebagai mantan pejuang masih terlihat. Emosi lelaki berseragam itu perlahan surut. Dia berbalik. Tangannya memegang bayi itu. Ahmad hanya menatap tajam punggung lelaki berseragam itu, hingga hilang di antara gerbong-gerbong hitam yang kosong.

***

Bulan hitam yang biasanya hadir dalam tidurnya kembali datang. Tapi ini benar-benar nyata. Secarik kertas buram bergambar bulan yang bergerigi telah ia terima dari seorang petugas kereta berseragam lainnya. Bukan petugas biasanya. Kali ini petugas berseragam yang lebih muda. Tubuhnya tegap, kulitnya bersih dengan wajah yang licin seperti habis dicukur. Hanya tatapan matanya yang tajam membuat Ahmad ragu, apakah yang dihadapannya seorang malaikat penolong atau iblis pemangsa.

“Aku harus pergi dari sini?”

“Benar! Bapak harus segera pindah.”

“Kemana?“ tanya Ahmad tegas.

“O…itu terserah Bapak,” jawabnya terbata-bata. Petugas berseragam itu gelagapan. Mungkin tak terpikir olehnya dia akan bertemu penghuni gerbong yang banyak tanya. Biasanya, dari pengalaman yang sudah-sudah, perintah pengosongan gerbong akan segera dilaksanakan oleh penghuni gerbong tanpa banyak tanya.

“Aku tak punya tempat. Tempatku adalah di sini.”

“Tidak bisa! Ini perintah atasan. Besok, walikota akan meresmikan kereta baru, sekaligus meninjau tempat ini. Atasan tak ingin melihat ada kekurangan di stasiun ini.”

“Jadi kau kira aku ini pengganggu! Kau kira aku ini, sampah!” geram Ahmad. Ia merasa dilecehkan. Matanya merah melotot. Napasnya naik turun menahan bara amarah yang ingin keluar.

“Bukan maksud saya demikian! Tapi begitulah instruksi atasan.”

“Persetan dengan atasanmu itu! Aku tetap akan di sini. Aku juga ingin berbicara dengan walikota!

“Maaf, Pak! Itu sulit. Pak Walikota sudah mempunyai agenda yang jelas ketika akan berkeliling di seputaran stasiun ini.”

“Aku tak mau tahu! Aku akan bertahan di sini. Aku ingin bertemu dengannya!” tegas Ahmad. Petugas kereta yang berseragam itu mulai tak sabaran. Tatapan matanya makin tajam menatap Ahmad. Sinarnya seperti kilatan belati. Sungguh menyilaukan. Hingga tiba-tiba begerak secepat kilat, “Gress…” Beberapa saat kemudian Ahmad telah tersungkur. Matanya mendelik. Tangannya memegang perutnya, yang menahan sesuatu mendesak keluar. Tubuhnya bergerak sebentar lalu diam. Terbujur kaku. Kembali hening.

“Sudah beres?”, terdengar suara berbisik dari belakang. Petugas muda itu mengangguk.

“Ya, semua beres.” “Cepatlah kau urus itu! Aku tak ingin rahasia kita terbongkar. Segera letakkan mayatnya di tugu sana! Biar besok petugas kota yang mengurusnya. Aku yakin mereka tak mau repot urusan mayat ini dengan kepolisian.”

“Baik!,” jawab petugas muda itu singkat. Dengan cekatan dia membawa tubuh Ahmad turun, lalu membawanya melewati gerbong-gerbong kosong. Melewati malam yang dingin, sepi. Malam yang kembali terlelap di antara lolongan anjing di bawah temaram bulan. Bulan hitam di bawah langit yang mengeluarkan sinar jingga. Bulan yang setia menanti penghuni malam di deretan gerbong kosong tak terpakai. Gerbong yang menjadi tumbal keserakahan. Gerbong yang siap memangsa seperti tikus-tikus kelaparan. Gerbong yang menjadi saksi bisu di bantaran lorong sunyi. Lorong kematian yang kembali menelan anak-anak zaman.

Medan, November 2010

Cerita ini dapat dikutip dari blog Rudy Sitohang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s