CERPEN: DENTING SUMBANG LONCENG TUA

Oleh: Hasudungan Rudy Yanto Sitohang

Desau angin meluruh, deras bagaikan anak panah melesat. Seperti merobek-robek langit yang menghitam. Langit yang menawar luka, memerih pada kehidupan yang tak pasti. Hingga keabadian terkoyak menjadi lautan merah saga. Lautan kesedihan yang bersanding jerit kepedihan. Bersama pohon-pohon berdesir. Bersama binatang malam melolong. Seperti igauan para pendoa yang tak putus-putus berseru. Suara-suara yang mengoyak dini hari itu. Dan setiap penghuni kampung duduk bersimpuh menanti apa yang terjadi.

Kemudian bumi bergetar, seakan para penghuni neraka turun bersenandung melewati tangga-tangga kegelapan. Nyanyian malam terasa menyeramkan. Nada-nadanya siap menelan orang-orang. Nada-nada itu bersanding dengan untaian doa-doa yang terus dipanjatkan, berharap sang Khalik turun melenyapkan segala murka. Memaafkan laku para pendosa yang tak habis-habisnya merusak alam, menghancurkan kehidupan serta membanggakan diri.

Begitulah ketika bara datang, setiap makhluk diam bersujud. Dan anak-anak memeluk tubuh ibunya erat. Meminta kehangatan dan kedamaian di sela-sela permohonan. Tunas muda yang putih dari dosa. Kemudian langit menyisakan rintik hujan dan suara binatang malam. Sunyi. Lalu pagi kembali. Dan dari sela-sela dinding terdengar ucapan syukur. Tak lama, satu-persatu para penghuni kampung keluar melihat langit yang mencerah, melihat embun pagi yang menetas kedamaian.

***

“Sudah datang…! Sudah datang…!,” teriak seorang lelaki dari kejauhan. Lelaki bertelanjang kaki itu berlari memasuki kampung, berteriak-teriak seperti orang kerasukan. Napasnya terengah-engah. Tubuhnya basah. Matanya nanar bernyala-nyala, membeliak serasa mau lepas. Tangannya menunjuk arah mulut kampung. Orang-orang yang di warung segera beringsut, yang di dalam rumah pun bergegas keluar. Ibu-ibu, anak-anak kecil tak berbaju berbaris di depan rumahnya masing-masing.

Mata para penduduk menyorot ke depan, ke arah mulut kampung. Mereka menanti cemas penuh harap. Tegang. Hari ini mereka menunggu seorang pendeta, kabar yang mereka terima tiga minggu lalu dari kantor resort. Sungguh mereka tak yakin seorang pendeta mau di tempatkan di kampung kecil ini. Sebab, sebelumnya para pendeta yang dikirim tak mau berlama-lama di kampung mereka. Lelaki itu terus berteriak-teriak. Nampaknya ia takut para penduduk terlupa menyambut sang tamu agung.

Dialah Saut, lelaki pembawa berita di Huta Nauli. Sebuah kampung kecil di kaki Gunung Sitamiang, berbatasan dengan gugusan hutan Bukit Barisan. Kampung terjauh dari ibukota kecamatan. Dari desa terdekat, jarak yang ditempuh bisa setengah hari menuju kampung ini dengan berjalan kaki. Jumlah penduduknya pun tak lebih dari dua puluh kepala keluarga. Pendeta yang ditunggu sudah terlihat di kejauhan. Ia bersama kepala kampung, Ompu Lampos, diiringi seekor kuda pembawa barang. Keduanya berjalan beriringan. Para penduduk meringsek ke depan. Orang yang ditunggu semakin dekat. Senyum ramah mengembang darinya. Seorang lelaki tegap berusia muda.

Penduduk kampung menghampirinya, mengeremuni sang pendeta. Mereka menjabat tangannya sambil menebar senyum. Suasana jadi riuh bergemuruh. Anak-anak bertelanjang dada berlarian, berteriak kegirangan. Ya hari ini mereka merayakan kedatangan seorang pendeta. Orang yang diimpikan selama ini. Mereka menyambutnya seperti pahlawan yang kembali dari medan perang.

Horas..Horas..Horas ke Amang Pendeta!,” teriak beberapa orang yang diikuti oleh semua penduduk. Beberapa ibu menyalaminya erat. Inang Rosmala, istri Ompu Lampos datang membawa nampan berisi beras si pir ni tondi. Tepat di depan pendeta itu, dia berhenti. Orang-orang berbaris di belakangnya. Dan sebait umpasa dilantunkannya, sebagai ucapan syukur tanda keselamatan kepada sang pendeta yang baru tiba, dan kepada segenap penghuni kampung . Beras di nampan tadi ditabur di atas kepala sang pendeta, kemudian ke atas menuju langit dan ke orang-orang. Sebuah keyakinan warisan leluhur yang masih dipegang teguh para penduduk.

***

Ketika malam tiba, seluruh penduduk sudah berkumpul di halaman rumah Ompu Lampos, kepala kampung sekaligus pemimpin adat. Mereka duduk di atas tikar yang digelar rapi. Di hadapan mereka, Pendeta dan Ompu Lampos duduk bersila. Acara adat penyambutan sang pendeta akan dimulai. Anak-anak duduk berjejer, diam, dan tak lepas-lepas memandang pendeta baru itu. Makanan mulai disajikan. Para perempuan muda sibuk membagikan gelas dan menuangkan kopi.

Kemudian Ompu Lampos berdiri, badannya tegap berbalut kulit tuanya. Ia memegang Tunggal Panaluan, tanda kebesaran pemimpin adat. Matanya tajam menyapu satu persatu penduduk di hadapannya. Helaan napasnya keluar, menyentak angin malam yang menggigit tulang. Halaman penuh dengan orang-orang dan hanya diterangi beberapa lampu teplok serta obor yang ditancapkan. Cahaya langit dari sang rembulan pun ikut menerangi. Lalu Ompu Lampos berbicara lantang membangunkan gunung-gunung, pohon-pohon dan para makhluk hutan agar menyaksikan peristiwa ini. Semua penduduk diam terpekur mengikuti prosesi adat.

“Saudara-saudara sekalian, hari ini kita kedatangan amang pendeta, Amang Lambas, bakal pemimpin gereja di kampung ini!,”tegasnya. Suaranya bergetar di antara kerutan wajahnya yang keras. Mulutnya berwarna merah, karena sejak tadi makan sirih. Begitu juga dengan para inang yang sudah tua.

“Sudah lama kampung ini tak punya pemimpin gereja. Terakhir pendeta hadir disini empat tahun lalu. Sejak itu kantor resort tak pernah lagi mengirim pendeta ke kampung ini. Tak tahu entah kenapa,” ucapnya penuh tekanan. Suaranya lirih berserak. Raut mukanya dingin. Sedingin udara malam dari bukit yang menghijau. Penduduk mengangguk-angguk membenarkan perkataannya.Ya..sudah lama sekali.

“Gereja di pinggir kampung ini seperti rumah kehilangan makna! Bangunan itu diam berdiri dan membisu. Tak ada lagi panggilan dari denting lonceng tua itu. Tak ada lagi yang mengajarkan kebenaran itu kepada kita,” lanjutnya sambil sesekali memperbaiki ulos yang terbalut pada tubuhnya. Suaranya menggelegar seperti membangunkan semua binatang malam.

“Tapi ketahuilah! Tuah yang diucapkan dari langgatan itu tak akan redup. Walau aku tak bisa menjelaskan buku suci dari debata itu, namun sesungguhnya kebenaran-Nya tetap tertanam dan mengakar di kampung ini!,” katanya tegas penuh keyakinan. Wibawanya menyihir para penduduk. Sesekali dia menghentakkan tongkat panaluan ke tanah.

“Bumi dan langit menjadi saksi!,” teriaknya sambil mengangkat tangan ke udara. Suaranya menelan desau angin, lalu perlahan mengalir ke relung terdalam hati setiap penduduk. Pendeta Lambas tertegun mendengar petuah yang diucapkan Ompu Lampos. Ia terdiam, memandang wajah-wajah penduduk, wajah-wajah polos berselimut harapan, wajah-wajah yang mengusik hatinya. Baginya, Huta Nauli adalah huta terjauh yang pernah dimasukinya. Dari desa terdekat, ia bersama Ompu Lampos harus menembus jalan berlicin, sawah terhampar, pepohonan lebat dan bukit-bukit terjal. Ia pun harus rela basah ketika menyeberangi sungai. Untung barang bawaannya ditaruh di atas kuda milik Ompu Lampos. Para penduduk terdiam mendengar seluruh perkataan Ompu Lampos. Tak seorang pun berbicara. Masing-masing tunduk menyimak, mencari arti kebenarannya.

Ketika petuah dan nasehat dari Ompu Lambas masih terus mengalir, Lambas menerawang ke atas bukit yang berkabut. Ia melihat kabut tipis membatas pandangan matanya. Lalu kabut itu membuka sebuah pintu. Ya, sebuah pintu yang di dalamnya, ia melihat perdebatannya dengan bapaknya, yang juga seorang pendeta.

“Apa yang kau cari di sana? Kampung itu jauh dari kota!,” sahut ayahnya keras.

“Aku ingin melayani di sana!,” teriak Lambas tak mau kalah.

“Mengapa harus di kampung itu? Kau bisa memimpin jemaat di pinggiran kota atau di kota sekalian! Di sana kau bisa dapatkan uang masuk. Kalau di kampung itu, berapalah kau dapat?” kata ayahnya. “Kau tahu, gaji pendeta tak seberapa!,” lanjut ayahnya sambil berdiri.  Lambas menunduk merenungi perkataan ayahnya. Batinnya berkecamuk. Padahal ia sudah bersumpah ketika ditabalkan menjadi seorang pendeta, ia akan  bersedia ditempatkan di mana saja.

“Kau ingat tunanganmu si Rotua, tahun depan dia akan menjadi pegawai di kota. Apa kau tega meninggalkan Rotua sendirian? Sudahlah! Bapak akan minta tolong pamanmu di kantor pusat, agar memindahkanmu ke kota!,” kata ayahnya sambil bangkit berdiri lalu pergi meninggalkannya.

Lambas tersentak dari lamunannya, ketika sorak-sorai menyudahi petuah Ompu Lampos. Perkataan ayahnya itu masih terngiang di lubuk hatinya. Ia menjadi risau dan galau.

***

Hari cukup cerah. Langit kembali biru, menebar sinarnya. Beberapa burung kecil bercicit-ria menyambut asa para penduduk yang bergotong royong memperbaiki bangunan itu. Sebuah bangunan kecil beratap seng. Di sana-sini sudah terlihat bocor. Dindingnya yang terbuat dari kayu sudah lapuk. Tiangnya, berlubang dimakan rayap. Bahkan sebagian bangku panjang banyak yang patah, tak terpakai. Lonceng di atas pintu masuk pun sudah karatan, tua, lama tak bertali. Lama tak mengeluarkan bunyi.

Bangunan itu tak mirip gereja. Walau begitu, mereka bekerja bahu-membahu menyelamatkan rumah ibadah yang tak terpakai sejak pendeta terakhir meninggalkan kampung  empat tahun yang lalu. Dan hari ini, Pendeta Lambas dan seluruh penduduk kampung, dipimpin Ompu Lampos memperbaiki bangunan itu, membuat langgatan baru dan memasang tali lonceng tua.

Namun tiba-tiba dari kejauhan Saut-lelaki pembawa berita- berlari, berteriak memanggil Pendeta Lambas. Dia membawa sebuah amplop. Beberapa orang berhenti bekerja memperhatikan pemuda itu.

Amangamang…ada surat buat amang!,” katanya. Lambas menerima surat itu. Ternyata dari Rotua, tunangannya. Ia segera membuka dan membaca isinya.

“Abang Lambas aku diterima pegawai di kota. Rotua harap abang pindah ke kota. Bukankah dalam waktu dekat ini kita akan melangsungkan pernikahan?”. Lambas tersentak. Tangannya bergetar. Hatinya bergemuruh. Tubuhnya lemas, terasa mau jatuh. Bumi seakan bergoncang.

Saat matanya terpejam dan masih memegang surat itu, tiba-tiba lonceng tua di atas pintu gereja berbunyi lantang. Ompu Lampos di bawahnya menarik tali penuh semangat, mengayunkan lonceng dengan kedua tangannya. Penduduk kampung bersorak-sorai. Kampung menjadi riuh seakan menyambut panggilan surga yang lama hilang. Suara lonceng tua telah kembali walau nada-nadanya sumbang. Tapi iramanya membahana, memanggil para makhluk dalam sujud syukur.

Lambas tersentak mendengar lonceng tua itu. Bunyinya bergelora mengalun indah dalam tubuhnya. Ia kembali merasa nyaman. Namun tiba-tiba Lambas bergetar hebat. Ia merasakan nada sumbang lain hadir dalam hatinya. Perih. Mengiris-iris. Nada sumbang yang datang dari surat yang dipegangnya. Lalu surat itu terjatuh, terbang entah kemana, pergi menjauhi irama sumbang lonceng tua.

Medan, Juli 2010

Cerpen ini dimuat di Harian Suara Pembaruan, Minggu, 31 Oktober 2010. 

 

Catatan:

Si pir ni tondi: yang memberi kekuatan pada tubuh dan jiwa

Umpasa: sejenis perumpamaan, pantun

Tunggal Panaluan: tongkat kebesaran raja atau pemimpin adat

Langgatan: mimbar

Debata: Tuhan Yang Maha Esa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s