SI JAOGOT

Oleh: Mula Harahap*)

Mula Harahap

Untuk pertama kalinya saya membaca kisah “Si Jaogot” dalam sebuah buku terjemahan terbitan KPG (Kepustakaan Populer Gramedia) yang saya lihat pada sebuah pameran buku di Istora Senayan tahun lalu. Saya tidak ingat judul dan nama pengarangnya (saya masih ingin untuk mencari serta membeli buku tersebut). Saya juga tidak terlalu ingat apa topik buku tersebut. Tapi saya mendapat kesan bahwa buku tersebut berisi kisah-kisah tentang kehidupan orang Hindia Belanda di Negeri Belanda pada tahun 1800-an.

Salah satu dari tulisan di dalam buku tersebut yang sempat saya baca sambil berdiri, dan yang sangat mengesankan saya ialah tentang seorang budak kecil (Si Jaogot) yang ditebus oleh seorang pendeta Belanda kemudian diperkenalkan dengan agama Kristen, diajari tata-krama Eropa dan dikirim ke Belanda untuk sekolah. Kisah yang ditulis oleh orang Belanda itu (mungkin dia adalah seorang pendeta) tentu saja penuh dengan ucapan syukur kepada Tuhan, karena atas perkenanan Tuhan dia telah berhasil “menyelamatkan” seorang anak kecil dari “kegelapan” dan membawanya kepada Yesus. Tapi sebagai orang Indonesia, dan juga sebagai orangtua yang sedikit banyak bisa memahami psikologi anak, dari tulisan tersebut saya bisa merasakan betapa tidak bahagianya sebenarnya Si Jaogot. Dia mengalami sebuah lompatan kebudayaan. Dari sebuah masyarakat yang tidak mengenal baca-tulis, pantalon, sepatu, sendok-garpu, dia masuk ke sebuah masyarakat yang telah mengenal semua itu. Dan Si Jaogot adalah satu-satunya anak Batak (bahkan anak Hindia Belanda) yang ada di rumah pendeta dan sekolah di negeri Belanda itu. Di dalam kisah yang dituliskan oleh orang Belanda itu saya juga bisa merasakan betapa asing, sepi dan terkucilnya perasaan Si Jaogot. Perasaan-perasaan itu jugalah saya pikir–walau pun tidak dijelaskan di dalam kisah tersebut–yang membuat Si Jaogot menjadi jatuh sakit pada usia remaja, dan kemudian meninggal dunia di Belanda. Tentu saja oleh si penulis kisah (sekali lagi: mungkin dia adalah seorang pendeta) kematian Si Jaogot dilihat sebagai “kemenangan”. Dituliskan di dalam kisah tersebut kira-kira begini: Kini Si Jaogot telah benar-benar terbebas dan mengalami sukacita yang abadi. Dia telah bertemu dengan Yesus–juruselamatnya.

Ternyata- dalam versi yang berbeda kisah Si Jaogot ini saya temukan juga dalam buku “Sitotas Nambur Hakristenon di Tano Batak (A.A Sitompul–Editor). Terbitan Penerbit Dian Utama, Jakarta. 1981. Terjemahan Indonesia-nya diterbitkan oleh Penerbit BPK Gunung Mulia dengan judul “Sejarah Kekristenan di Tanah Batak. (Silakan baca: http://bs-ba.facebook.com/topic.php?uid=272034647310&topic=17045).

Kisah Si Jaogot jadi mengingatkan saya akan kisah Willem Iskandar, yaitu seorang tokoh pendidikan di Panyabungan–Tapanuli Selatan, yang hidup pada pertengahan tahun 1800-an. Willem Iskandar (namanya banyak diabadikan sebagai nama jalan di berbagai kota di Sumatera Utara) memang bukan seorang budak, dan bukan pula penganut agama suku. Dia adalah anak-anak bangsawan Mandailing yang menganut agama Islam. Tapi sama halnya seperti Si Jaogot, pada usia yang masih sangat muda Willem Iskandar telah berkenalan dengan seorang kontrolir Belanda dan mendapat pendidikan secara Belanda. Ia pun disekolahkan ke Belanda. Dan setamat sekolah ia kembali ke Tapanuli Selatan serta mendirikan sebuah sekolah untuk guru rendah di Tano Bato-Panyabungan. Tapi Willem Iskandar tidak lama tinggal di Panyabungan. Menurut kabar ia jadi merasa kesepian dan terasing di negerinya sendiri. Masyarakat di sekitarnya bahkankan menganggap bahwa ia telah memeluk agama Kristen. (Dan ini terutama mereka lihat dari namanya yang sekarang telah menjadi Willem). Oleh karena itu ia kembali ke Belanda dan sempat menikah dengan seorang perempuan Belanda yang tak sempat memberinya keturunan. Willem Iskandar juga akhirnya menderita sakit di Belanda. Bahkan kuat dugaan ia menderita gangguan kejiwaan. Ia mengakhiri hidupnya yang muda itu dengan menembak dirinya sendiri di sebuah taman di Amsterdam.

Kisah Si Jaogot dan Willem Iskandar menjadi menarik perhatian saya, disebabkan oleh karena akhir-akhir ini sedang berpikir-pikir tentang sebuah topik yang untuk pertama kalinya saya temukan dalam lokakarya yang diselenggarakan oleh HKBP Serpong pada November 2009 yang lalu. Topik itu adalah “habatahon”, “hakristenon” dan “hamajuon”. Seperti yang mungkin juga telah saya katakan dalam tulisan-tulisan saya terdahulu, topik itu membuat saya berpikir tentang apa sebenarnya yang disebut sebagai “kebatakan” (“habatahon”), “kekristenan” (“hakristenon”), dan “kemajuan” (“hamajuon”) itu.

Saya mendapat kesan bahwa banyak orang (paling tidak di dalam lokakarya tersebut) yang secara “taken for granted” menganggap bahwa perjumpaan “kebatakan” dengan “kekristenan” telah membawa “kemajuan” dalam masyarakat Batak. Kalau yang kita maksudkan dengan “kemajuan” adalah Peradaban Eropa, dan “kekristenan” adalah nilai dan gaya hidup Eropa yang dibawa oleh para misionaris, maka memang telah terjadi “kemajuan”. Tapi–belajar dari kisah Si Jaogot dan Willem Iskandar–muncul pula pertanyaan dalam diri saya: Apakah suatu kebudayaan itu boleh disebut sebagai kemajuan bila ia justeru menimbulkan alienasi (keterasingan) dalam diri para penyandangnya?

Proses perjumpaan “batak” dengan Islam yang Arab itu dan Kristen yang Eropa itu (tapi dalam konteks tulisan ini: terutama dengan Kristen yang Eropa itu) dalam waktu yang sangat singkat telah membawa perubahan besar dalam diri masyarakat Batak. Dari sebuah masyarakat yang tidak mengenal baca-tulis huruf latin, memakai pantalon dan sepatu, makan dengan sendok-garpu, pendidikan modern dsb maka hanya dalam waktu kurang dari 50 tahun Batak telah menjadi masyarakat yang akrab dengan semua aspek kebudayaan tersebut. Tapi lompatan besar itu–sebagaimana juga kita tahu–telah menghilangkan begitu banyak aspek kebudayaan tradisional Batak itu sendiri (terutama kebudayaan yang dalam pandangan pietis para misionaris Eropa “bertentangan” dengan Alkitab).

Walau pun masih harus diteliti secara ilmiah, tapi banyak juga orang yang merasakan bahwa Batak itu kini adalah sebuah masyarakat yang asing dengan dirinya. Bulan September 2009 yang lalu saya membawa seorang teman saya–pelukis–ke Samosir. Ketika kami berkeliling di pulau tersebut ia berkata kepada saya, “Saya tidak melihat dan merasakan sesuatu yang “batak” dalam semua ini….” Teman saya itu boleh jadi benar adanya. Kalau kita berkeliling di Bali kita bisa melihat dan merasakan sesuatu yang “bali” di sana. Demikian juga kalau kita mengunjungi Jawa Tengah atau Jogjakarta kita bisa melihat dan merasakan sesuatu yang “jawa” di sana. Tapi di Batak? Memang di sana-sini masih ada rumah dengan arsitektur tradisional. Tapi setelah itu semua adalah hal yang juga kita bisa lihat dan rasakan di bagian lain dari Indonesia ini. (Bahkan sebagian besar cendermata yang dijual pada ratusan kios di Tomok itu adalah barang-barang hasil desain dan produksi pengrajin di Jawa yang dipoles dengan sedikit sentuhan Batak).

Kebudayaan adalah sebuah kosa kata yang tidak terlalu sering diucapkan oleh orang Batak. Mereka lebih sering memakai kata “adat”. Padahal menurut hemat saya adat hanyalah sebagian dari kebudayaan. Ia hanya berkaitan dengan sistem kekerabatan dan upacara. Dan kalau yang dimaksud dengan adat itu hanyalah apa yang terjadi dalam upacara-upacara kelahiran, perkawinan dan kematian itu (karena di luar itu orang Batak tokh menjalani hidupnya sebagaimana yang juga dijalani oleh etnis lain) maka saya cenderung mengatakan bahwa dewasa ini kebudayaan Batak itu adalah sampiran dalam kehidupan orang Batak (seperti ulos yang disampirkan oleh para lelaki yang memakai jas, dasi dan sepatu pada upacara-upacara Batak).

Terhadap konflik yang melanda HKBP, saya pun sudah lama menaruh “kecurigaan” bahwa boleh jadi ini bukan sekedar masalah politik, manajemen, hukum atau ekonomi. Boleh jadi ini adalah masalah kebudayaan. Atau tepatnya: ada sesuatu yang “salah” dalam proses transformasi kebudayaan kita sebagai orang Batak. Sebenarnya saya ingin sekali melihat diskusi, seminar atau lokakarya dalam membahas persoalan orang Batak memakai pisau kebudayaan. Tapi justeru itulah hal yang paling jarang saya lihat. Diskusi, seminar atau lokakarya kita lebih banyak memakai pisau politik, hukum, manajemen atau ekonomi.

Saya tidak ingin seperti Si Jaogot, yaitu menjadi sakit dan aneh karena mengalami alienasi. Saya ingin menjadi Batak, sekaligus menjadi Kristen (atau Islam, Hindu, Budha dsb), sekaligus menjadi Indonesia, sekaligus menjadi warga dunia yang memiliki sebuah identitas kebudayaan yang khas dan kental, serta yang berdamai dengan diri saya sendiri. Saya sedang dalam proses pencarian. Dan bila semasa hidup ini saya bisa menemukan apa yang saya cari, maka itulah yang disebut sebagai “keluar dari kegelapan” dan memperoleh “kemenangan”.

*) Mula Harahap, seorang pengamat kebudayaan Batak  tinggal di Jakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s