CERPEN “SOLU AYAH DI TEPI TAO”

Oleh: Hasudungan Rudy Yanto Sitohang

Aku kembali ke tanah leluhur. Huta dimana aku dilahirkan. Tanah di tepian Tao Toba yang terkenal di pelosok negeri hingga penjuru dunia. Ternyata tanah leluhur sudah banyak berubah. Termasuk huta tempatku ini. Batu-batu dan pohon bambu yang dulu mengelilingi rumah di huta sudah tak ada. Sekarang tinggal bekasnya. Bekas tebangan bambu, akarnya masih mencekeram kuat. Batu-batu bersusun rapi sebagai pembatas dan tembok pertahanan kini hilang. Semua lenyap. Tak tahu entah mengapa. Rumah yang kami sebut sebagai rumah bolon itu sudah banyak berganti. Tak ada lagi rumah panggung yang ditopang kayu kuat bernama hotang. Rumah itu dibanggakan karena penuh lukisan ornamen. Kini berubah menjadi rumah semi permanen berlantai tanah. Rumah bolon yang tersisa pun sudah banyak yang lapuk, tak terurus. Satu diantaranya rumah ayahku. Rumah tempat aku dilahirkan.

Tiga belas tahun silam, aku berangkat dari rumah ini. Seluruh kerabat penghuni huta mangantarku ke bis menuju tanah seberang. Harapan disematkan ke pundakku. Gelar sarjana dari anak penghuni huta yang miskin. Aku adalah yang pertama. Ingatan itu masih terekam hingga sekarang.  Aku memandang keluar rumah. Tao Toba begitu tenang. Tak berombak. Dari kejauhan terlihat satu-dua nelayan di atas solu mencari ikan. Marpasir begitu istilah di huta kami. Nelayan yang marpasir pun tinggal sedikit. Berbeda ketika aku masih tinggal di huta. Bersama dengan teman-teman sepermainan, kami biasanya bertaruh hasil tangkapan yang paling banyak dibawa para nelayan. Kami menunggu di tepi tao sambil berenang. Sore hari, ketika nelayan pulang, kami beramai-ramai membantu menarik solu dan mengangkatnya ke tepian. Kalau hasil tangkapannya banyak, kami diberi satu-persatu ikan kecil, sebagai upah.

“Ganda! Kau makan dulu. Sudah siang,” teriakan istriku Raisa dari ruang belakang membuatku kaget. Lamunanku buyar seketika. Dia sedang menggoreng ikan bersama ibuku. Baunya terasa di tempatku berdiri. Khas mujahir goreng. Ikan kesukaanku ketika kecil.

“Kau panggil si Sahat itu. Mungkin dia sudah lapar pula” lanjutnya menyebut anak kami. Sahat berada di halaman rumah. Umurnya baru tujuh tahun. Tahun ini dia sudah kelas satu sekolah dasar di Jakarta. Dia sedang mengejar ayam ompungnya. Sambil memegang kayu, dia berlari kesana kemari. Ayam itu tak bisa ditangkapnya. Wajahnya mengucurkan keringat. Sesekali dia berceloteh, mungkin kesal karena tak bisa menangkap ayam liar itu. Aku tersenyum melihat tingkahnya. Baru kali ini Sahat menginjak tanah leluhurnya, huta ompungnya, huta bapaknya dan hutanya. Rencana pulang ke huta baru terlaksana ketika aku mendapat cuti dari kantor. Berbarengan dengan libur sekolah si Sahat. Kuputuskan bersama Raisa pulang ke huta. Liburan, ziarah sekaligus menjenguk ibu yang tinggal sendirian.

“Sahaaat…! Ayo makan dulu,” teriakku dari depan pintu. Dia menoleh sejenak, kemudian berlari menuju rumah. Tawanya renyah. Kayu yang dipegangnya dibuang sembarang.

***

Malam meranjak tinggi. Udara terasa dingin. Angin dari tao berhembus perlahan. Desirnya membuat penghuni huta terlelap dalam mimpi-mimpinya. Huta menjadi sunyi. Sepi. Di dalam kamar, Raisa dan anakku Sahat sudah terlelap. Mereka berdua tenggelam dalam selimut membalut tubuhnya. Wajah mereka terlihat lelah. Sejak subuh hingga menjelang siang, kami bersama ibu, ziarah ke makam ayah dan abangku Parulian. Makam keduanya terletak di sebelah utara huta. Persis di bawah Bukit Sibaganding. Kedua makam itu tegak berdiri menghadap tao. Bersanding dengan makam-makam lain, kerabat dari huta.

Jendela belakang rumah kubuka. Aku berdiri mematung ke arah tao. Kucoba menikmatinya di tengah malam bersama cahaya bulan yang buram. Tak seperti biasanya. Dulu, ketika masih kecil, aku bersama abang Parulian berdiri di pinggir jendela memandang tao setiap malam. Cahaya bulan bersinar merekah. Dalam pekatnya malam, kami bernyanyi bersama. Parulian bersulim sedangkan aku menyanyikan sebait lagu. Kami melagukan O Tao Toba dan Pulo Samosir, sambil menunggu ayah pulang marpasir. Di bibir jendela kami melihat lampu dari solu ayah. Seperti biasa, kami bertaruh berapa ekor ikan mujahir atau pora-pora yang dibawa ayah pulang. Abang Parulian paling sering menang. Aku tersenyum getir mengenang itu.

Kurasakan udara dingin semakin menggigit tulangku. Cepat kurekat erat jaket tebal di tubuhku. Sambil menghembuskan asap rokok, kupandangi kabut malam. Tak ada lagi nelayan yang marpasir malam ini. Tao sepi terasa mati. Di tepi tao, kulihat solu ayah tertambat. Warnanya hitam pekat dimakan malam.

Langkah ibu berderak di lantai papan yang berpanggung. Suaranya sumbang mengikuti suara binatang malam. Dia menghampiriku. Tak menegur. Sepertinya ibu tahu apa yang kupikirkan. Dia berdiri di belakangku, ikut memandang keluar jendela dan lampu kerlap-kerlip kampung di seberang tao. Helaan napasku berat, terasa ada beban yang mengganjal. Sudah lama mimpi ini tersimpan rapi. Bahkan menggangguku setiap malam. Suara-suaranya memanggil namaku. Melolong. Kadang diiringi jeritan. Berganti tangis yang menghiba.

“Bagaimana cerita kematian abang Parulian, Mak?” tanyaku tiba-tiba. Ibu tersentak. Tak ada jawaban. Aku melirik. Dia diam tertegun. Langkahnya mendekatiku. Sekarang ibu berada disampingku. Bersisian disamping jendela. Kami berdua memandang ke luar menuju tao.

Mak, ceritakan kepadaku peristiwa itu! Ceritakan Mak,” lanjutku sambil memohon. Suaraku serak menahan beban. Rokok di tanganku terjatuh. Meluncur ke bawah, deras menghantam tanah. Aku menunggu jawaban ibu.

Mamak tak tahu persis Ganda!” suara ibu bergetar. “Malam itu, Parulian tiba-tiba  sudah di berada dibawah pintu. Badannya basah penuh darah dan air. Dia menjerit memanggil Mamak dan namamu! Mamak menangis dan memeluk tubuhnya,” kata ibu sambil menahan tangis. Segera aku rangkul ibu. Memegang tubuhnya, berbalut keriput kulitnya. Aku menyesal bertanya, membuat ibu sedih kembali.

Kali ini ibu lebih tenang bercerita. Abang Parulian malam itu pamit mencari ikan setelah seharian memperbaiki solu. Ibu sempat melarang. Tapi Parulian bersikeras. Malam itu dia mencari ikan. Ibu mengantarnya sampai ke teras. Dari jendela ini, ibu masih melihat Parulian mendorong solu sebelum menaikinya. Lampu petromak dia letakkan di tengah.

“Siapa membunuhnya Mak!,” kataku geram.

“Orang-orang seberang huta! Setelah perusahaan keramba masuk ke Tao Toba ini, ikan di tao banyak yang mati karena makanan ikan keramba itu. Makanan itu menjadi racun bagi ikan di tao. Ikan semakin sedikit. Akhirnya terjadi persaingan diantara sesama nelayan. Masing-masing huta membuat batas mencari ikan di tao. Tak jarang diantara nelayan terjadi perselisihan”.

“Jadi abang Parulian korban dari persaingan itu!” mataku mendengus tajam menatap solu ayah di kejauhan. Tanganku mengepal.

“Mungkin begitu! Mamak dengar, nelayan huta seberang hendak merampok hasil tangkapan ikan abangmu. Dia melawan. Pertarungan itu tak imbang. Solunya dikepung dari semua arah. Parulian kalah”. Ibu tak lagi menangis. Matanya memandang jauh ke arah tao. Mungkin melihat solu ayah yang tertambat.

“Apa pelakunya sudah ditangkap Mak,” tanyaku kemudian. Kali ini aku lebih tenang setelah mendengar penjelasan ibu. Aku nyalakan lagi sebatang rokok.

“Setelah peristiwa itu, penduduk huta ini balas menyerang. Amangtuamu memimpin serangan ke huta seberang. Dendam menumpuk menuntut balas. Peristiwa itu membuat nelayan semakin sedikit marpasir. Walau setahun sesudahnya diadakan perdamaian adat, dendam dengan huta seberang tak pernah tuntas. Bahkan hingga sekarang. Jadi sewaktu abangmu mati, amangtuamu tak mengijinkan Mamak menyuruhmu pulang”. Aku mendengar penjelasan Ibu sambil mengangguk. Mataku berkaca-kaca. Malam semakin larut. Langit tetap bersinar walau cahayanya buram.

***

Aku berdiri di depan solu yang tertambat. Solu peninggalan ayah ini sudah lapuk dimakan rayap. Bertahun-tahun setelah peristiwa abang Parulian, solu ini tak lagi terpakai. Terlantar begitu saja. Tanganku memegang kapak. Aku mematung sejenak menatap solu kebanggaan keluargaku ini. Pikiranku berkecamuk. Peristiwa kematian abang Parulian meninggalkan kesedihan mendalam bagi Ibu. Dia terpukul, selalu terkenang peristiwa itu setiap melihat atau melewati solu ayah ini. Tak akan kubiarkan itu terjadi. Ibu tak boleh bersedih kembali. Aku tak punya siapa-siapa selain ibu. Ayah dan Parulian sudah pergi meninggalkan kami.

Sejak hari ini tak boleh ada lagi kesedihan dan dendam. Semua harus diakhiri. Hatiku mantap sambil memandang langit. Kuayunkan kapak membelah solu mengakhiri masa lalu. Membelah kesedihan, membelah dendam. Tao Toba menjadi saksi. Airnya jernih membersihkan hati. Ya…, tak boleh ada kesedihan dan dendam lagi.

KSI-Medan, akhir Desember 2009

Cerpen ini menjadi Pemenang III dalam Lomba Menulis Cerpen Harian Waspada 2010. Pembacaan nominasi dan pemenang diumumkan pada puncak perayaan ulang tahun harian Waspada ke 63 di grand ball Room Hotel Garuda-Medan , Senin 11 januari 2010, pukul 18.00 WIB.

**Penulis tinggal di Medan, bergiat di Komunitas Sastra Indonesia- Medan.

Catatan:

Huta : kampung

Tao : danau

Rumah bolon : rumah adat khas batak.

Hotang : penyangga langit-langit rumah

Solu : sampan; kapal kecil

Marpasir : mencari ikan dengan pancing, jala atau bubut

Ompung : kakek atau nenek

Mamak : panggilan untuk ibu

Amangtua : saudara lelaki dari ayah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s