CERPEN: MEKAR DI MALAM NATAL

Oleh: Hasudungan Rudy Yanto Sitohang

Angkot sudah lama berhenti di depan mall. Supir membunyikan klakson berkali-kali, memanggil orang-orang yang berdiri di depan halte. Seorang penumpang di dalam angkot kelihatan gelisah, kakinya bergeser tak mau diam.

Tangannya memegang erat sebuah keranjang. Di dalamnya sebuah bungkusan ditutupi kertas koran. Dia sudah tak sabar, lama menunggu di dalam angkot berpenumpang tiga orang. Dirinya, seorang ibu muda berlesung pipit dan lelaki paruh baya, sejak tadi tertunduk sedih.

Udara di dalam angkot cukup gerah, terbakar terik matahari. Sudah dua hari panas menyelimuti kota ini. Beberapa kali dia menghapus cucuran keringat dengan sapu tangan dari sakunya. Tiba-tiba HP-nya berbunyi. Dia angkat. “Sudah dimana kau, Johan?,” suara ibunya dari HP-nya. Nadanya penuh cemas. “Aku masih di angkot, Mak! Di depan Medan Plaza”. “Cepatin sedikit, Nak, kondisi bapakmu makin menurun”.

“Iya Mak!,” kata Johan dengan suara berserak. Perasaan khawatir menghujam dirinya. Terbayang wajah ayahnya tergolek lemah di rumah sakit. Sudah hampir dua bulan ini ayahnya sakit, dua hari setelah pernikahannya dengan Marry.

Ayahnya mengidap penyakit diabetes akut. Sudah menyerang bagian tubuh lainnya terutama ginjal. Mereka sudah berjuang maksimal membawa ayahnya berobat ke rumah sakit, termasuk ke luar negeri. Semua dokter sudah menyerah. Tak ada harapan. Helaan napas Johan terasa berat. Dadanya sesak serasa palu godam menghantam jantungnya. Bulir air mata mengalir di pipi, tanpa disadarinya.

Doa-doa sudah dipanjatkan. Sanak keluarga sudah datang memberi kekuatan. Tak habis-habis kata penghiburan diberikan kepada mereka. Bahkan Pendeta dan jemaat gereja silih berganti menjenguk, mendoakan agar mukzijat-Nya datang menghampiri, menyembuhkan penyakit ayahnya. Dia, Marry dan ibunya belum siap ditinggalkan ayahnya.

Tanpa terasa angkot pun sampai. Berhenti di depan rumah sakit. Setelah membayar ongkos, Johan bergegas turun, setengah berlari memasuki rumah sakit. Keranjang yang dia pegang terayun-ayun mengikuti langkahnya tak beraturan.

Di depan kamar ayahnya dirawat, Johan berhenti.  Di balik pintu, dia mendengar raungan tangisan dari dalam. Suara itu dikenalnya. Ya, suara Marry, istrinya. Johan segera masuk. Dia lihat ibunya, Marry dan beberapa keluarga dekat menangisi tubuh yang tak bergerak di tempat tidur.

Mulutnya terkunci, tubuhnya menegang, tas keranjang yang dipegangnya terlepas, jatuh menghantam lantai. Johan segera menghambur menuju tempat tidur. Menangis, meraung-raung, mengguncang tubuh lelaki terbujur kaku. Larut bersama ibunya, istrinya dan sanak keluarga mengelilingi tempat tidur itu.

Johan, istrinya Marry dan ibunya merapikan tanah makam yang masih basah  berwarna merah. Istrinya membantu ibunya menanam beberapa tanaman dipinggirnya. Dia sendiri memadatkan gundukan tanah. Johan tak menyangka ayahnya pergi secepat itu, meninggalkan mereka. Tak ada pesan atau kata terakhir kepadanya. Teringat ucapan sang ayah ketika berbicara kepadanya setahun lampau. “Segeralah menikah Johan, Bapak dan Ibumu sudah tua!”

“Apa kau sudah punya calon? Kalau belum, Bapak akan carikan untukmu. Kamu ingin gadis seperti apa, Johan?,” kata ayahnya tertawa terkekeh. “Tak ada kriteria khusus, Pak. Aku hanya ingin gadis yang baik saja. Tentunya baik buat Bapak dan Ibu,” kata Johan tersenyum simpul, malu. Tawa ayahnya berderai, terbahak-bahak. Johan anak semata wayangnya memang sudah pantas menikah.

Entah kenapa sudah hampir kepala tiga, Johan belum juga menemukan jodohnya. Padahal pekerjaannya sudah mapan. Dia sudah bekerja di sebuah kontraktor terkenal yang mengerjakan proyek Bandara di Kuala Namu. Bandara baru pengganti Bandara Polonia yang sudah tak layak. “Carilah, Nak gadis pilihanmu itu! Moga-moga kau bisa memberikan cucu buat Ibumu.”

“Buat Bapak juga,” kata Johan tersenyum. Ayahnya tertawa lagi, keras, mengangguk-angguk senang. Ibunya datang membawa nampan berisi kopi dan pisang goreng. Wajahnya heran dengan tawa suami dan anaknya itu, dari tadi. Dia tersenyum menggeleng kepala melihat kelakuan mereka berdua.

Ayahnya memang periang dan pintar membuat cerita lucu. Kadang Johan tertawa deras mendengar banyolan ayahnya, ketika mereka duduk berdua di teras rumah menikmati malam. Kadang  ditemani bulan dan bintang.

Seperti biasa, malam itu dia dan ayahnya duduk di teras. Bercengkerama. Johan cerita, sepulang kerja dia bertemu dan berkenalan dengan seorang gadis di dalam angkot sekitar Terminal Amplas. Johan mengutarakan ketertarikannya pada gadis itu. “Tinggalnya di Binjai, Pak. Dia kerja di Tanjung Morawa”.

“Aha…gadis Binjai rupanya, Johan?” “Iya Pak, wajahnya bulat, rambutnya tergerai lurus menutupi punggung, matanya teduh. Namanya Marry”. “Oh… sosoknya mirip ibumu?” kata ayahnya. Kali ini tawanya tak bisa ditahan. Bahunya terguncang. Dia pun ikut tertawa terbahak-bahak mengikuti ayahnya.

“Jangan sampai terlepas, Johan. Hati-hati kumbang lain datang menggoda. Kau harus cepat-cepat menaklukkan hatinya. Tunjukkan pesonamu. Bapak juga begitu, ketika bertemu dengan ibumu. Kalau urusan itu, Bapak ahlinya,” kata ayahnya. Tawanya makin keras. Johan pun terpingkal-pingkal mendengar cerita ayahnya, pengalaman ketika mendekati ibunya sewaktu masih muda dulu.

Tak lama berselang, akhirnya dia berpacaran dengan Marry. Cintanya bersambut. Ayahnya memang jitu memberi kiat mencari calon buatnya. Sering dia bawa Marry ke rumahnya. Ayah-Ibunya senang. Tak salah dirinya memilih Marry. Selain baik, ramah, Marry juga pintar masak, kopi buatannya sangat disenangi ayah. “Kopi buatanmu enak sekali, Nak Marry.” Marry hanya tersenyum malu. Menunduk. Wajahnya merona merah mendengar pujian ayah Johan, calon mertuanya.

Sentuhan tangan lembut Marry dibahunya, menyadarkan lamunannya. Pekerjaan merapikan makam sudah selesai. Dia bantu ibunya berdiri. Sebelum pulang, dia pimpin sebuah doa buat ayahnya yang sudah pergi meninggalkan dunia, menuju kehadirat-Nya. Dalam perjalanan pulang ke rumah, di dalam mobil, Johan melirik Marry duduk di sebelahnya. Ayahnya pernah berkata pada mereka berdua, sepulang dari gereja di malam Natal tahun lalu.

“Ingatlah pesanku ini! Yesus dilahirkan bukan di istana megah, gedung indah bertabur emas berlian atau rumah berpagar pengawal bersenjata. Dia lahir di kandang domba, kandang yang sangat hina. Dia lahir ke dunia bukan dalam kebesaran walaupun tiga Raja Majus  dari timur datang mencari-Nya, setelah sekian lama mengikuti bintang sebagai penanda. Mereka menemukan-Nya, menyembah-Nya. Tak ragu memberi persembahan di kandang kotor berbau!,” kata ayahnya tegas.

“Kalau nanti kalian berdua sudah menikah, hiduplah dengan jujur, tak memandang orang dari hartanya. Hiduplah penuh kasih! Karena sesungguhnya, Dia berada di antara kaum papa, tak berpunya, terlantar dan miskin. Kalau ingin mencari Tuhan, pergilah ke orang-orang itu!”.

Johan, Marry istrinya dan ibunya semangat menyanyikan lagu Malam Kudus, bersama anak-anak panti asuhan. Diiringi denting piano yang dimainkan seorang pengasuh, anak-anak itu bernyanyi penuh semangat. Tangan kanannya memegang lilin bernyala terang. Senyum gembira mengembang dari mereka.  Asa tersembul di balik tawa, sambil memegang kado-kado pemberian Johan dan Marry. Tak ada guratan kesedihan walau harus tinggal di panti. Tak berayah, tak beribu.

Tepat tengah malam, anak-anak panti asuhan bergegas ke luar. Mereka menyalakan lilin di halaman. Malam terang benderang. Langit bercahaya taburan bintang gemerlap. Tawa mereka berderai  bersama beberapa pengasuh.

Lagu-lagu natal masih dilantunkan sebagian anak. Johan memeluk pinggang istrinya yang menggendong seorang anak balita penghuni panti, menggelayut manja di bahunya. Mata mereka bertatapan. Tersenyum penuh arti.

Ibunya duduk di teras, memandang kelakuan anak-anak panti yang  berlarian, berkejaran dan asyik dengan lilin menyala indah. Dia lihat air jatuh mengalir di wajah ibunya. Johan terpekur melihat ibunya menitikkan air mata. Dia hampiri ibunya perlahan. Dia pegang tangannya. Ibunya tersenyum menatap Johan. Linangan air matanya masih tampak di matanya. Johan seperti merasakan kesedihan dari pancaran tatapan ibunya. “Ibu tak sedih Johan. Walau Natal ini tanpa Bapakmu lagi,” ibunya mencoba tegar.

Johan memegang erat tangan ibunya. Dia tak boleh menangis. Dia harus kuat, karena tongkat keluarga sudah berpindah ke pundaknya untuk menjaga ibunya dan istrinya. Johan memandang langit, terbayang tawa khas ayahnya, bagai bunga mekar di antara onak duri kehidupan. Dari halaman terdengar syahdu lagu pujian yang dinyanyikan anak-anak bersama pengasuh, mengelilingi pohon natal berbalut lampu-lampu kecil bernyala kelap-kelip.

Daunnya bermekaran menggandeng malam dalam keriangan. Johan, istrinya Marry dan ibunya mengikuti nyanyian pujian. Serasa malam beriringan dengan penghuni surga.  Mekar di malam natal.

KSI-Medan, Desember 2009

Dikutip dari Harian Analisa Medan: http://www.analisadaily.com/index.php?option=com_content&view=article&id=38738:mekar-di-malam-natal&catid=113:cerita-pendek&Itemid=149

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s