CERPEN: TEPI MAKAM PAHLAWAN

Oleh: Hasudungan Rudy Yanto Sitohang

Subuh menjelang, kokok ayam bersahut-sahutan. Hawa dingin menusuk relung, menggigit tulang para penghuni, dilanda gelisah. Menggerutu. Betapa hari tak maui membiarkan pulasnya tidur, tarikan selimut rapat-rapat diikuti paduan suara ngorok bernada sumbang. Komposisi alamiah tanpa dirijen-partitur, merentak, mengutuk hidup betapa cepatnya pagi menyapa.
Tapi Hasan tak terganggu igauan para tetangga menikmati tidur ditemani nyamuk nakal penghisap darah, menari-nari selepas kenyang berbagi hidup sepanjang malam. Seisi penghuni Kampung Sei Lepan, sudut sebuah kota, dibawah Jembatan Kalimati, tak terganggu bersanding suara riuh sungai kotor, meluap sehabis hujan deras sepanjang sore hingga malam.

Selepas lafal doa terakhir Hasan bangkit, melipat sarung dengan rapi, meletakkannya ke dalam lemari penuh hati-hati. Tak lupa sajadah bergambar Ka’bah -warnanya pudar- disimpan dibawah rak baju tak seberapa. Peci hitam yang dipakainya digantung di dinding sebelah baju sekolahnya. Sarung dan peci itu, pemberian almarhum ayahnya menjelang lebaran tiga tahun lampau dari seorang dermawan yang mengadakan sunatan massal gratis dikampungnya. Perlahan dia keluar dari kamar, berjalan menuju dapur yang menyatu dengan kamar mandi. Ditengoknya, ibunya sibuk menyiapkan kue-kue, kerupuk ke atas nampan. Hasan jongkok, ikut membungkus kue-kue dan kerupuk hasil masakan ibunya tadi malam.
Ditemani terangnya lampu teplok , Hasan dan Ibunya, Ratih bergegas menyelesaikan bungkusan kue-kue, kerupuk yang berjejer rapi. Takut hari meninggi, mengusir rezeki ditengah kerasnya hidup yang harus ditaklukkan. Bersaing dengan waktu terus berjalan. Tak peduli seorang perempuan beranak satu berjuang mensiasati hidup selepas ditinggal mati suaminya. Hidup adalah perjuangan. Hasan lincah membungkus kue-kue, mengikatnya erat. Sudah terbiasa dikerjakan sejak bapaknya tak ada. Kue dan kerupuk harus dijual pagi ini jikalau tak mau kehilangan rejeki tuk bertahan hidup.

“Sudah sholat kau Nak?,” kata Ratih lembut, menyapa anaknya.

“Sudah Mak, kudoakan juga supaya jualan kita laku,” jawabnya lugas, percaya diri memandang balik ibunya.

Ratih tersenyum getir, sudah empat hari ini dagangannya tak laku, setengahnya-pun tak habis. Dia elus kepala anaknya penuh ketulusan. Berusaha tegar walau hatinya sedih, perih mengingat dia harus membesarkan anaknya sendirian. Berjuang ditengah ganasnya ujian kehidupan yang mendera. Godaan para lelaki yang ingin mempersunting agar mengakhiri status janda yang disandangnya. Dia selalu menolak halus tawaran itu. Belum siap melupakan Amir, suaminya yang mati mengenaskan ketika menyelamatkan seorang anak dikampungnya. Terbawa banjir sungai yang meluap, menerjang kampung dua tahun silam. Anak yang ditolongnya selamat sedangkan Amir tak mampu bertahan menuju tepian, kelelahan, kalah terbawa arus. Tenggelam diantara tumpukan sampah, bongkahan kayu diiringi jeritan menyaksikan wajah suaminya terakhir kali sebelum hilang ditelan air bah sungai yang meluap. Esok hari baru ditemukan, mengambang di pintu air, tiga kilometer dari kampung. Mengingat peristiwa itu, kadang Ratih menitikkan airmata. Tengah malam, dia tak henti berdoa, bersujud memohon kekuatan Maha Kuasa membesarkan pangeran hatinya, Hasan. Satu-satunya buah cinta bersama almarhum suaminya. Ya, dia harus kuat. Sapaan Hasan menyadarkan lamunannya.

Kue dan kerupuk sudah beres dimasukkan. Sekarang tinggal berangkat ke tempat Ratih biasa berjualan di samping Taman Makam Pahlawan. Hasan sudah berpakaian sekolah. Dari tempat jualan, dia langsung berangkat ke sekolah. Pintu rumah dikunci kemudian bergegas berjalan menembus pagi, mengalahkan dingin tak terperi. Ratih mengangkat nampan diatas kepalanya, dipegang supaya tak jatuh. Hasan ikut membawa kantong berisi kue dan kerupuk melintasi gang, selokan. Beberapa tikus masih berkeliaran dalam got tak mau kalah.

****
Sepulang sekolah, Hasan langsung ke tempat jualan menemani ibunya menunggu para pembeli. Bocah berperawakan kurus ini duduk di kelas tiga sebuah sekolah dasar. Dia siswa yang berprestasi, kerap mendapat juara kelas. Bahkan membawa harum sekolahnya pada perlombaan baca puisi di kantor Gubernur minggu lalu. Hasan mengalahkan sekolah yang kerap menjadi langganan juara. Menurut gurunya, minggu depan dia akan berangkat ke Jakarta mewakili provinsi di pentas nasional. Bukan main bangganya Hasan terlebih ibunya, Ratih mendengar kabar itu melalui sepucuk surat dari dinas kemarin.
Hari menjelang sore, kue-kue jualannya hampir habis. Sejenak dia melongok mencari anaknya.

“Hasan dimana kau Nak?,” teriak Ratih memanggil anaknya. Sejak tadi tak kelihatan.

“San..Hasan..Hasan..!,” teriaknya berulang kali. Nada cemas terlihat dari panggilannya. Khawatir.

Wajahnya celingukan mencari Hasan. Sudah sejam sejak anaknya sampai, tak kelihatan. Dia sibuk melayani pembeli. Lumayan banyak pembeli hari ini. Terlupakan anaknya.

“Coba kau tengok di dalam taman Ratih!, mana tau dia ke sana,” kata Wak Soleh, pemilik warung rokok sebelah.

Ratih bergegas menuju pagar tembok taman, sambil melihat cemas arah yang dimaksud Wak Soleh. Ternyata benar. Hasan berada disana, diantara jejeran makam, berdiri tegak mematung sambil memperhatikan nisan-nisan bercat putih. Terawat rapi.

Dia perhatikan anaknya, bingung apa yang dilakukan Hasan di dalam Taman. Bergegas menyusul anaknya ke dalam, setelah menitipkan nampan berisi beberapa bungkus kue tersisa kepada Wak Soleh. Ratih masuk dari pintu utama, dia buka engsel pintunya yang tak digembok. Masuk. Perlahan, takut mengagetkan anaknya.

Hasan berdiri memandangi makam-makam itu, dia baca nama-nama yang tertulis dalam nisan. Berjalan lagi mengitari kompleks makam yang luas. Berhenti pada sebuah makam tak bernama, tak ada tulisan sama sekali. Hanya nisan berwarna putih pucat, pudar. Dia bergumam seperti ada sesuatu yang dibisikinya. Jongkok di depan makam tersebut. Perlahan dia elus nisan makam tak bernama itu, pelan, berulang, matanya tak lepas mengikuti elusan tangannya. Berikutnya dia pegang topi dibawah nisan, terbuat dari semen mirip topi tentara yang sering dia lihat kalau berbaris. Warnanya agak pucat, hitam bahkan topi di makam sebelahnya sudah berlumut.

Hasan tersadar, ibunya sudah berada di samping, berdiri tak jauh. Tadi melangkah tak kedengaran, hati-hati bagai langkah pencuri. Takut kepergok.

“Mak, apa semua yang dikubur disini, pahlawan?,” Tanya Hasan membuka percakapan.

“Iya Nak, semua yang dikubur disini pahlawan,” sahut Ratih.

“Semua?”.

“Ya, semua!,” jawab Ratih tegas tak yakin.

Hasan termenung, berdiri, memandang ibunya. Matanya berkaca-kaca. Bibirnya bergetar seperti ingin mengungkapkan sesuatu, tapi tak bisa. Mulutnya terkunci rapat. Hening kembali. Dia beranikan menatap ibunya yang mengelus rambutnya, lembut, penuh kasih.

“Mak, bisakah Bapak dikubur disini?, bisakah Mak?”.

Ratih terkejut tak menyangka anaknya bertanya demikian. Dia peluk anaknya, tanpa sadar butir air mata mengalir. Hasan membenamkan dirinya dalam pelukan sang ibu. Menangis.

“Bisakah Mak?”. Suara Hasan berserak, menahan segukan tangis dalam pelukan sayang ibunya yang ikut menangis pula.

“Bukankah Bapak juga seorang pahlawan?”.

“Kata Mak dan orang sekampung, Bapak mati karena menyelamatkan orang di sungai. Mereka bilang Bapak Pahlawan”. Kali ini tangis Hasan lebih kencang. Deraian air mata ibu dan anak saling bertaut dihadapan makam terbentang bisu.

“Bisakah Bapak Hasan dikubur disini, Mak?,”.

Ratih hanya menangis, memeluk anaknya erat bagai takut kehilangan, tak memberi jawaban. Dia cium kepala anaknya dengan air matanya.

Medan, Nopember 2009

(Cerpen ini dimuat di Harian Medan Bisnis edisi 22 November 2009)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s