HARDONI SITOHANG, LAHIRNYA SEORANG MAESTRO MUDA

Catatan Pagelaran “The Sense of Music” Hardoni Sitohang-Diana Tobing

Laporan: Hasudungan Rudy Yanto Sitohang

Luarbiasa. Mungkin sebuah kata yang tepat menggambarkan pagelaran musik bertema “The Sense of Musik”, berlangsung di Gedung Utama Taman Budaya Sumatera Utara, Jl. Perintis Kemerdekaan, Medan, Senin 2 November 2009. Pertunjukan musik yang disponsori oleh Ben M. Pasaribu MA ini digelar 2 kali, pukul 16.00 WIB untuk pelajar dan pukul 19.30 WIB untuk mahasiswa/umum dengan tiket seharga Rp. 20.000, menampilkan pertunjukan apik dari musisi muda yang berkecimpung dalam musik. Selain Hardoni Sitohang, diantara pengisi acara lainnya adalah Diana Tobing, komposer dan arranger muda yang mempertunjukkan kebolehannya dalam paduan suara (choir), Hendrik Perangin-angin seorang komposer, arranger mengkolaborasikan antara musik tradisional dan modern. Tak ketinggalan Kamaludin Galingging, komposer dan arranger yang menampilkan paduan musik klasik dan kontemporer. Semua menyatu dalam satu bahasa musik nan indah, sesuai temanya, “The Sense of Music”.

hardoni_poster show

Tak berlebihan jikalau bintang pada malam itu adalah sosok muda bernama Hardoni Sitohang yang memimpin 12 orang personil tergabung dalam group “Neo Traditional Art”. Group yang dipimpinnya itu mengkolaborasikan antara alat musik tradisional Batak Toba dengan alat musik modern. Sentuhannnya terasa menyegarkan, irama etnik terlihat mendominasi dari setiap nada-nada musik yang ditampilkan, berkomposisi terbilang sulit. Untaian nada-nada terasa menyentak membuat degup jantung berteriak kegirangan, emosi melonjak-lonjak, terlarut dalam titik-titik komposisi. Para penonton yang mayoritas kaum muda dan mahasiswa tak lepas-lepas memberi aplaus panjang, ikut merasakan setiap nada yang menari-nari dalam binarnya mata, anggukan kepala, gelora hati, mendahagakan jiwa yang haus setelah sekian lama tak pernah terdengar pagelaran musik bertema musik tradisional Batak Toba. Seakan malam itu “Bona Pasogit dan Danau Tobanya” begitu dekat, hadir di tengah-tengah kerinduan para penonton. Tersaji  jelas membuat keharuan. Semuanya begitu indah, sukar dilukiskan dalam kata. Antusias penonton yang memadati gedung berkapasitas 350 orang itu penuh, terasa sesak bahkan sebagian tak mendapatkan tempat duduk, berdiri di belakang dan samping gedung. Mereka sabar mengikuti setiap episode pertunjukan yang digelar sampai selesai, tak beranjak pulang.DSC05202

Pagelaran musik yang menampilkan kolaborasi Hardoni Sitohang dan Diana Tobing dilaksanakan oleh para seniman muda Kota Medan yang tergabung dalam komunitas Seniman Muda Batak (SEMUBA), beberapa panitianya adalah Martahan Sitohang dan Daulat Sitohang. Pertunjukan Hardoni Sitohang dan groupnya menimbulkan hasrat akan indahnya kolaborasi antara alat musik tradisional dan modern. Lantunan drum, perkusi, gitar listik, keyboard bersanding mesra dengan sulim, ogung, sordam, tulila, gondang, menyatu  memperkuat irama-irama setiap noktah, hadir dalam setiap jiwa yang menyaksikannya. Aplaus membahana, teriakan mengelora serasa seisi gedung mau pecah ketika Hardoni Sitohang membawakan komposisi musik berjudul Harapan. Komposisi yang diciptakannya sendiri itu (terlihat dari slide yang ditampilkan) begitu mengejutkan ketika dia mampu membawakan alat musik berbeda, bergantian dalam satu musik. Dimulai dari saxophone, beberapa saat kemudian sulim (seruling), tulila  terakhir perkusi. Beberapa penonton di tengah bahkan sampai harus berdiri memberi aplaus panjang diikuti koor tepuk tangan membahana para penonton. Menit demi menit begitu cepat menyelesaikan pertunjukan indah tak ada duanya. Tak terasa pukul sudah menunjukkan 21.30 WIB. Pagelaran berakhir.

hardoni sitohang_the sense of music

Salah satu kelemahan dalam pagelaran ini hanya terletak pada sound system yang kurang mendukung suara alat musik, kurang jernih, akhirnya tak memancarkan suara musik dengan optimal. Beberapa AC gedung di sekeliling ruangan kelihatan mati, dan yang hidup pun tak maksimal membuat udara di dalam gedung menjadi gerah, terasa panas membuat sebagian penonton tak nyaman mengikuti jalannya pagelaran. Suasana pagelaran juga ditingkahi oleh beberapa penonton di bagian belakang yang kurang bisa mengikuti setiap musik yang ditampilkan dari pengisi acara lain di luar Hardoni Sitohang. Sebuah sikap yang harus di perbaiki oleh kaum muda agar menghargai setiap karya siapapun pengisi acara walau bukan pengisi acara yang disukai. Situasi ini terlihat ketika pertunjukan biola dan cello digelar, beberapa penonton berusia muda terlihat gelisah dalam duduknya, tak tenang, asyik mengobrol dengan teman di sampingnya. Sedikit mengganggu kenyamanan para penonton yang hikmat mengikuti guna merasakan setiap alunan musik yang terus berjalan. Terlepas demikian, pagelaran musik dari para musisi muda ini terbilang sukses besar, menutupi kelemahan yang muncul karena seperti biasa, tak ada yang sempurna.

Hardoni Sitohang, pemusik tradisional Batak Toba adalah lulusan jurusan musik Universitas Negeri Medan (Unimed). Kelebihannya adalah mahir memainkan alat musik sulim (seruling), tulila hingga saxophone. Sehari-hari beliau mengajar di almamaternya, di Universitas Negeri Medan (Unimed) Fakultas Budaya dan Sastra (FBS) Jurusan Musik disamping memimpin groupnya “Neo Traditional Art”.  Menurut pembawa acara pagelaran, Hardoni Sitohang dengan group yang dipimpinnya sudah pernah mempertunjukkan kebolehan dalam sebuah pagelaran musik etnik di Negeri Kangguru, Australia. Bahkan pertunjukan anak didiknya baru-baru ini membawakan alat musik Batak Toba, mendapat penghargaan dari Presiden pada acara Hari Anak Nasional di Jakarta. Kita bisa membayangkan begitu pedulinya seorang anak muda (mungkin berusia 29-30 tahun) bernama Hardoni Sitohang menyegarkan kebekuan akan rindunya sebuah pagelaran musik beretnik Batak Toba, seakan lahir kembali musik Batak Toba yang miskin pagelaran khususnya di Kota Medan.

Di Medan atau Sumatera Utara jarang kita dengar atau saksikan pagelaran musik Batak Toba. Mungkin kita hanya melihat alat musik Batak Toba digunakan pada pesta perkawinan atau acara adat saja. Tapi loncatan baru tadi malam telah dibuka. Hardoni Sitohang dan groupnya hadir menembus kebekuan akan keberadaan musik Batak Toba khususnya bagi para kawula muda di tengah maraknya musik impor. Ia menembus waktu bahwa sentuhannya membuat musik Batak Toba kembali bergairah, mungkin pagelarannya ini sebagai salah satu bukti awal kebangkitan pagelaran musik Batak Toba di Medan. Dimulai dari anak muda bernama Hardoni Sitohang. Selanjutnya siapa lagi.

DSC05209
Rudy Sitohang berpose dengan hardoni Sitohang setelah pentas The Sense of Music

Sehabis pertunjukan, para penonton yang rata-rata berusia muda merangsek ke depan memberi ucapan salam. Tak lupa berphoto sejenak dengan berbagai macam pose. Hardoni yang malam itu dibalut baju hitam juga celana hitam, dikalungi ulos berenda indah membalut leher, begitu ramah menyambut gairah para penggemar, senyumannya selalu mengembang walau lelah, sabar menyalami para penonton. Dia tak bersosok “selebritis” kebanyakan, tapi rendah hati berbaur di tengah-tengah kursi penonton. Dia tak kehilangan nada ramahnya menyambut setiap ucapan dan uluran tangan. Bukan basa-basi,  terlihat tulus karena dia tahu setiap penonton yang hadir ikut merasakan dahaga akan kehausan pagelaran musik Batak Toba yang sempat redup, terbilang jarang (jikalau tak dikatakan hampir tak ada). Pagelaran musik Batak Toba malam ini menembus keraguan, karena lelaki yang beralamat di Jl. Pasar 7 Padang Bulan No. 54 B Medan ini menjanjikan akan membuat pagelaran jilid II. Kita tunggu pagelaran Hardoni Sitohang dan grup “Neo Traditional Art” selanjutnya. Dan tak salah setelah maestro Marsius Sitohang, Martogi Sitohang telah lahir Hardoni Sitohang, maestro muda musik Batak Toba dari Medan.

3 thoughts on “HARDONI SITOHANG, LAHIRNYA SEORANG MAESTRO MUDA

  1. Proficiat, selamat atas suksesnya pertunjukan Sense of Music yang digagas SMUBA Medan dengan bintan Hardoni Sitohang dan Diana Tobing.

    Ini merupakan pekerjaan nyata untuk melestarikan budaya Batak yang patut dihargai.

    Saya ikut bangga.

  2. salut puang mambege baritani Sense Of Music on apalagi molo manonton iba,maju terus sitohang mungkin inilah yang di sebut r e g e n e r a s i group musik sitohang dari group musik marsius heeee…..horas mat berkarir……ateeeee.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s