ECENG GONDOK TAO TOBA

sal_hutahaeanOleh:  Sal Hutahaean*)

Salah satu masalah yang sering dikemukakan oleh orang yang mencintai Danau Toba adalah masalah enceng gondok. Tumbuhan air yang cantik ini tampaknya mulai bikin gondok orang, karena mereka berkembang-biak sangat cepat dan mengurangi keindahan danau. Berita2 tentang kolonisasi danau oleh enceng gondok yang dikatakan dapat mengubah danau menjadi daratan membuat eceng gondok benar2 jadi momok menakutkan.

burung dan ecenggondok1
Burung mencari makan di koloni eceng gondok (Foto: Petrus M. Sitohang)

Saya sendiri melihat masalah ini tidak sedramatis yang dikhawatirkan banyak orang. Danau Toba tidak mungkin jadi danau mati yang seluruh permukaannya ditutupi tubuhan air ini. Danau Toba tidak subur-subur amat, daya topangnya tidak memadai bahkan untuk kehidupan eceng gondok.

Lalu, apakah eceng gondok bukan masalah? Dibiarkan saja, begitu?

Bukan. Hanya perlu dipetakan masalahnya, agar jelas. Perlu dipisah antara eceng gondok sebagai masalah dan eceng gondok sebagai petunjuk ada masalah (lain).

Yang bisa disebut eceng gondok sebagai masalah adalah apabila di suatu perairan pertumbuhannya benar2 sudah tak terkendali lagi, mengarah pada ledakan populasi atau blooming. Jika itu terjadi, memang eceng gondok jadi masalah besar, mereka menghalangi cahaya masuk ke bawah permukaan air, menghalangi pertukaran udara melalui lapisan ‘karpet’ yang dibangun perakarannya, dan dengan demikian membunuh perairan karena lingkungan air di bawahnya menjadi tidak layak untuk kehidupan ikan dan organisma air lainnya. Saya tak melihat Danau Toba mengalami hal itu, atau sedang bergerak ke arah itu. Belanda masih jauh.

Lalu, bagaimana dengan keindahan danau? Tergantung cara melihatnya. Saya sendiri menganggap eceng gondok tumbuhan cantik, bunganya yang ungu kalau sedang mekar-mekarnya sangat indah. Beberapa rumpun eceng gondok di tepian danau masih bisa jadi hiasan cantik, saya bayangkan di sekitarnya berenang-renang juga jalak putih yang leher dan paruhnya panjang itu … indah sekali. Tapi memang, jangan kebanyakan. Apa-apa yang kebanyakan jadi nggak indah lagi.

Yang terjadi di danau Toba sekarang adalah pertumbuhan awal eceng gondok di beberapa tempat. Eceng gondok yang hadir di tahap awal sebaiknya jangan langsung dipandang sebagai masalah lalu dibasmi. Pada tahap awal kolonisasi, ia seharusnya dipandang sebagai pertanda adanya masalah di perairan.

Ia sahabat baik yang sedang mengingatkan kita akan adanya masalah lain!

Dalam kasanah ekologi perairan, eceng gondok bersama2 dengan beberapa tumbuhan air lainnya dikenal sebagai bioindikator. Kehadiran tumbuhan ini di suatu perairan adalah petunjuk hayati bahwa perairan tadi telah tercemar oleh bahan-bahan organik. Karena itu, pada tahap awal kolonisasi, yang perlu dilakukan bukan pembasmian enceng gondok tapi penanganan masalah pencemaran yang terjadi di perairan. Sumber utama pencemaran ini tentu saja dari aktivitas di daratan.

Kita bisa lihat bahwa enceng gondok di Danau Toba berkembang pesat di daerah pantai yang dekat dengan pemukiman atau dekat persawahan penduduk. Saya telah melihatnya di Porsea, Sigumpar, Sitoluama, Lumban Binanga Laguboti, juga di Balige. Aktivitas sehari2 penduduk, seperti mencuci pakaian, membuang sampah dapur ke danau atau ke sungai yang akhirnya terbuang ke danau, menjadi sumber bahan organik yang membuat area pinggir danau menjadi subur. Leaching pupuk dari persawahan ke badan air juga menjadi sumber bahan organik yang menyuburkan tepian danau. Hal-hal inilah yang harus ditangani terlebih dahulu, bukan enceng gondoknya sendiri. Yang paling pokok dilakukan sekarang adalah bagaimana agar proses penyuburan danau tidak terus berlanjut, apalagi meningkat. Penyuburan dari sumber2 tadi harus dikurangi, untuk sekarang sisa-sisa pakan keramba juga mungkin sudah perlu mendapat perhatian.

Marilah kita tangani masalahnya, bukan indikator masalahnya!

Kalau masalah penyuburan danau bisa diselesaikan maka masalah eceng gondok pun akan lebih mudah diselesaikan. Saya kira, justeru masalah hulu inilah yang belum cukup ditangani. Memang tidak mudah, karena harus menyeluruh sifatnya dan mungkin juga menyangkut perubahan kebijakan dan perilaku umum masyarakat.

bunga eceng gondokIni ngomong-ngomong lain, tapi masih berhubungan. Sebenarnya eceng gondok ini tak harus bikin orang sekitar pantai Danau Toba ikut gondok. Malah sebaliknya. Enceng gondok bisa dipanen secara rutin, digunakan untuk bahan baku industri kerajinan, menjadi sumber pendapatan. Saya melihat di Jogjakarta eceng gondok ternyata bisa diolah secara kreatif jadi sumber uang. Dibikin sandal, matras, tikar hias, tas cantik, macam-macam. Jika itu bisa dilakukan orang di sekitar Danau Toba, penduduk pantai bisa memperoleh tambahan pendapatan, danau pun akan makin sehat, karena sebagian dari bahan pencemar akan terangkut keluar danau bersama biomassa eceng gondok yang dipanen.

*) Sal Hutahaean, seorang pemerhati kebudayaan Batak dan lingkungan berasal dari Laguboti Kabupaten Toba Samosir. Artikel ini dikutip dari catatan Sal Hutahaean di Facebook atas ijin yang bersangkutan dengan tambahan foto karya Petrus M. Sitohang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s