INDONESIA MEMILIH

pilpres2009_mega_propilpres2009_sby_budiono2pilpres2009_jkwin2

Oleh: Petrus M. Sitohang

Kelanjutan dari kejutan hasil pemilu legislatif 2009 yang menempatkan Partai Demokrat sebagai pemenang adalah lahirnya tiga pasangan calon Presiden dan wakil presiden yang maju ke pemilihan presiden tanggal 9 Juli 2009 nanti. Sebagaimana kita semua tahu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memutuskan untuk berpasangan dengan Prof. Dr. Boediono, seorang guru Ekonomi yang terkemuka dari Universitas Gajah Mada dan sangat dihormati karena rekam jejaknya yang sukses dalam hampir semua pos-pos di bidang Ekonomi dan Moneter dalam empat kabinet Indonesia terakhir yang dijalaninya termasuk menjadi Menteri Keuangan, Menko Perekonomian dan sekarang menjadi Gubernur Bank Sentral.

Sebelumnya Wakil Presiden Jusuf Kalla telah lebih dulu berhasil menggandeng Jenderal purnawirawan mantan Panglima ABRI dan Menko Polkam Wiranto untuk mendampinginya sebagai calon wakil presiden. Terakhir mantan presdien kelima RI  Megawati Sukarnoputeri dan Letnan Jenderal purnawirawan dan mantan komandan pasukan elit Indonesia Kopassus dan mantan Panglima Kostrad Prabowo Subianto sepakat maju berpasangan sebagai calon presiden dan wakil presiden.

Bagi saya kelahiran ketiga pasangan itu sangat di luar dugaan. Tadinya saya memperkirakan SBY akan kembali maju bersama dengan Jusuf Kalla. Banyak peramal dan pengamat juga memperkirakan pasangan ini akan tetap bersama-sama dan dengan mudah memenangkan kembali tiket kedua dalam pemilu presiden yang akan datang siapapun lawan yang akan dihadapi.

Namun ketika SBY memberikan sinyal bahwa dia tidak akan berpasangan dengan Jusuf Kalla feeling saya mengatakan dia akan menggandeng salah satu calon wakil presiden dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) atau salah satu partai politik berbasis Islam lainnya untuk memastikan dukungan dari basis massa Islam yang sangat besar itu.

Ini masuk akal pemilih awam seperti saya. Apalagi sejak awal setelah pemilu legislatif berakhir PKS melalui Presidennya Tifatul Sembiring sudah memberikan endorsement kepada SBY untuk maju menjadi calon presiden. Publik dapat membaca bahwa endorsement PKS yang sangat awal ini adalah bagian dari lobby PKS untuk menggolkan salah satu kadernya menjadi calon presiden SBY yaitu Ketua MPR Hidayat Nur Wahid atau Tifatul Sembiring.

Kalaupun SBY tidak berkenan dengan calon dari PKS, prediksi saya sebelumnya SBY akan memilih satu dari kandidat partai-partai berbasis Islam lainnya seperti Hatta Rajasa yang dicalonkan Partai Amanat Nasional yang secara de facto dipimpin oleh pendirinya Amin Rais atau Muhaimin Iskandar Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) atau Suryadharma Ali Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Prediksi saya ini didasarkan bahwa calon-calon wapres dari salah satu partai politik Islam itu akan membantu Yodhoyono meraih banyak suara dari kantong-kantong massa pemilih Islam.

Ternyata SBY meruntuhkan prediksi saya dan prediksi banyak peramal dan pengamat. Dia ternyata memilih Dr. Boediono, seorang yang hingga awal tahun ini tidak masuk dalam perbincangan politik di negeri ini akan menjadi calon wakil presiden yang serius. SBY bahkan pasang badan menghadapi protes keras dari PKS dan PAN yang dikomandani Amin Rais yang menyesalkan keputusan SBY memilih Boediono sebagai calon Wapres dan bukannya salah seorang dari kalangan partai politik anggota koalisinya. Amin Rais bahkan menuduh Boediono akan menjadi beban bagi SBY dalam pemilu yang datang karena dia menilai Boediono sebagai jawara ekonomi neoliberal yang menurut Amin Rais telah menggadaikan Indonesia kepada kekuatan asing seperti sekarang ini. Menghadapi protes keras Amin Rais yang adalah seorang guru besar Ilmu Politik di Universitas Gajah Mada yang telah terbukti merupakan salah seorang politisi paling ulung yang pernah di miliki bangsa ini, SBY ternyata tidak mundur selangkahpun. Sebuah sikap yang selama ini jarang dipertunjukkan SBY.

Pasangan Jusuf Kalla dan Wiranto tidak kurang mengejutkan. Karena Jusuf Kalla adalah satu-satunya calon presiden yang bukan orang Jawa. Meski tidak dilarang Undang Undang Dasar, selama ini Presiden Indonesia selalu berasal dari suku Jawa. Hal ini masuk akan karena lebih dari 60% penduduk Indonesia adalah orang Jawa. Bahkan pada suatu ketika Jusuf Kalla pernah dikutip mengatakan bahwa dia tidak akan mencalonkan diri sebagai Presiden Indonesia karena sadar dia bukan orang Jawa. Selama ini Golkar tidak pernah mencalonkan bukan orang Jawa menjadi presiden Indonesia. Dalam Pemilu presiden tahun 2004 konvensi Partai Golkar justru mencalonkan Wiranto sebagai  Presiden berpasangan dengan Solahuddin Wahid yang dikalahkan oleh pasangan SBY dan Jusuf Kalla.

Maka ketika akhirnya Jusuf Kalla memutuskan akan maju menjadi calon Presiden berpasangan dengan Ketua Umum Partai Hanura Wiranto tak pelak dia telah memelopori upaya menembus tabu politik di negara ini melalui salah satu Partai politik terbesar yaitu Golkar yang dipercaya mempunyai mesin politik yang bekerja sangat baik dan dukungan danan yang besar.

Pasangan Megawati Prabowo tidak kurang mengejutkan. Meskipun kedua partai ini mempunyai platform yang sama yaitu nasionalis sekuler, proses negosiasi keduanya sangat panjang dan melelahkan. Setidaknya itu saya dan beberapa teman pengamat lain alami.

Pada awalnya Partai Golkar, PDIP, Partai Gerindra, Partai Hanura, PPP dan beberapa partai-partai politik non parlemen lainnya telah sepakat untuk membentuk koalisi besar. Tetapi rupanya negosiasi di antara mereka untuk memutuskan kandidat calon presiden dan wakil presiden tidak berhasil mencapai kata sepakat. Dari semua partai-partai itu Partai Golkar adalah yang terbesar dengan 107 kursi di DPR diikuti oleh PDIP dengan 95 kursi, Gerindra 26 kursi dan Hanura 18 kursi.

Di atas kertas Golkar merasa paling layak untuk memajukan calonnya sebagai Presiden diikuti calon PDIP sebagai Wakil Presiden. Tapi massa akar rumput dan pendukung setia PDIP bersikukuh untuk mendesak Megawati sebagai calon presiden. Lagipula PDIP sudah jauh-jauh hari dalam kongres dan rakernas terakhirnya di Solo memutuskan akan mencalonkan Megawati sebagai Presiden.

Keputusan  Kongres partai seperti itu teorinya hanya bisa dianulir oleh kongres dan tidak bisa dikalahkan oleh tawaran kursi kabinet dari partai-partai lain termasuk dari SBY yang selama tiga minggu sebelum batas akhir pengajuan calon ke Komisi Pemilihan Umum menugaskan Menteri Sekretaris Negara Hatta Rajasa untuk menjadi penghubung dengan elite-elite PDIP. Peta politik Indonesia sempat disuguhi kejutan dengan manuver yang dilakukan Yodhoyono untuk mendekati PDIP yang selama lima tahun terakhir selalu berhadap-hadapan dalam banyak issue di pemerintahan maupun DPR. Oleh karena itu ada yang mengistilahkan manuver ini sebagai strategi ”putar arah” atau ”angin balik” Partai Demokrat yang tujuannya adalah untuk merangkul sebanyak mungkin kekuatan politik guna memuluskan usaha SBY untuk memenangi pemilihan presiden yang akan datang.

Tetapi bagi PDIP nampaknya tidak ada jalan keluar yang aman kecuali mengajukan calon poresiden sendiri meskipun Golkar meraih suara yang lebih besar, dan telah memutuskan untuk memajukan Jusuf Kalla sebagai calon presiden berpasangan dengan Wiranto.

Yang menjadi harapan PDIP satu-satunya untuk dapat meloloskan Megawati sebagai calon presiden adalah berkoalisi dengan Prabowo yang oleh banyak pendukungnya dijuluki sebagai Sukarno kecil. Masalahnya ialah Gerindra sangat kukuh menginginkan koalisi PDIP Gerindra mengajukan Prabowo menjadi calon presiden dengan calon wakil presiden dari PDIP. Sempat beredar nama Puan Maharani, puteri Megawati sebagai kandidat calon Wakil Presiden mendampingin Prabowo Subianto. Di banyak kalangan Gerindra dan sebagian elit PDIP sempat beredar prediksi bahwa Megawati yang sudah kalah dua kali dalam kontes pemilihan presiden sebelum ini tidak mempunyai peluang untuk mengalahkan SBY yang dianggap sebagai saingan terberat. Sedangkan Prabowo diperkirakan akan menjadi satu-satunya penantang yang paling potensial yang dapat mengalahkan SBY. Tidak jelas bagi saya darimana dasar perhitungan semacam itu. Meski saya harus mengakui kinerja Prabowo membangun Gerindra dengan kampanyenya yang menarik dan berhasil membawa partainya lolos parliamentary treshold memang patut diacungi jempol.

Drama yang berlangsung berbulan-bulan sejak pemilu legislatif akhirnya berakhir tanggal 15 Mei 2009 di nihari ketika Megawati dengan Prabowo akhirnya sepakat untuk maju sebagai calon Presiden dan Wakil Presiden RI yang akan bertarung menghadapi pasangan SB SBY dengan Dr. Boediono serta pasangan Jusuf Kalla dengan Wiranto dalam pemilihan umum presiden tanggal 9 Juli 2009 yang akan datang.

Sekarang saya akan dihadapkan pada tiga pilihan yang sulit… karena ketiga pasangan ini saya sukai. Ketiganya memiliki kekuatan dan juga kelemahannya sendiri-sendiri.

Tetapi satu hal yang membanggakan saya, ketiga pasangan ini pasangan anak bangsa dengan kadar nasionalisme yang sangat saya banggakan. Saya belum pernah sebahagia ini menunggu hari pemilihan itu tiba. Karena siapapun pemenangnya akan membuat saya bangga sebagai bangsa Indonesia.

*) Petrus M. Sitohang, Ketua Institute for Good Governance in Indonesia (INGGRID)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s