Juri Idola cilik audisi sumatera

Dikirim oleh: Denny Sitohang – Medan *)

Denny Sitohang
Denny Sitohang
“Dari awal atau reff-nya aja om?” tanya anak laki-laki berusia sekitar 7 tahun yang berdiri di depanku itu. Mimiknya lucu. Kulitnya coklat. Ia mengenakan kemeja lengan pendek yang dimasukkan rapi ke dalam celana panjang berwarna coklat. Sepatunya putih. Masih bersih. Sepertinya masih baru.

Matanya terus memandangku. Aku senyum dan mencoba mengajaknya berbicara.

“Sama siapa tadi kemari?”

“Sama mama om” katanya bersemangat.

Aku lalu membalik formulir yang dibawanya. Anak itu datang dari Binjai, kotamadya yang memiliki rentang perjalanan hampir 45 menit dari pusat Kota Medan. Kubaca di cerita yang katanya ditulis oleh mamanya, ia adalah anak seorang pedagang tahu Medan keliling. Bla… bla… bla… mataku tertumbuk pada sebaris kalimat yang menyebutkan, ia mengikuti audisi Idola Cilik ini agar jika menang, ia bisa membantu orang tuanya membeli susu untuk adiknya yang masih kecil. Aku lagi-lagi memandang wajahnya. Ia bersemangat.

“Adik mau nyanyi lagu apa?” tanyaku lagi.

“ST 12 om, judulnya Jangan… jangan…” jawabnya.

Uppssss… hampir aku tertawa ngakak. Ya Tuhan, anak sekecil ini datang mengikuti audisi dan ingin menyanyikan lagu ST 12 untuk juri, yang berwenang penuh akan “nasib” nya lolos atau tidak ke audisi berikutnya, dan juri itu adalah aku.

Sejenak aku berharap dia bisa menyajikan mukjizat kecil di depanku. Setidaknya bisa memesonaku dengan suaranya yang luar biasa, agar aku bisa meloloskannya ke babak berikutnya. Paling tidak, aku bisa memenuhi keinginannya agar niat mulianya untuk membantu orang tuanya bisa tergenapi.

”Ayo silahkan dimulai sayang…”

Ia mulai bernyanyi… Di dalam hati, aku tersenyum melihat dirinya. Ia polos. Sangat lucu. Suaranya cempreng. Menyanyi hampir tanpa nada. Datar. Tapi aku terpesona dengan cengkok melayu ala ST 12 yang dikeluarkannya. Kubiarkan ia terus menyanyi sampai lagunya habis. Ia bersemangat. Sesekali tangannya digerakkan, berusaha mengikuti nada lagu.

”Ada lagu yang lain sayang…” tanyaku saat ia menyudahi aksinya itu.

”Gak ada om… udah?” ia kembali bertanya.

“Udah, terima kasih ya sayang… Tanya om di luar habis ini mau apa. Selamat siang…”

Minggu itu, sejak pagi sampai jam 14.00, aku bersama tujuh juri lain – 3 dari Medan dan sisanya dari RCTI Jakarta – mengaudisi sekitar 800 an anak dai berbagai kota di Sumatera ini dalam kontes nyanyi Idola Cilik. Program ini memang sedang digilai anak-anak Indonesia. Mereka bermimpi bisa menjadi seperti Siti, Gabriel, Kiki, Sion, atau ahhh… siapalah, aku tak hapal nama-nama mereka.

Sejak pagi pukul 08.00 Wib, anak-anak itu sudah mengantri di barikade besi yang dipasang oleh Visi Production, event organizer yang mendapat kepercayaan dari RCTI untuk mengelola event ini. Ada perbedaan mencolok dalam antrean itu kalau dibandingkan dengan antrean kontes-kontesan sejenis, Indonesian Idol, misalnya. Antrean anak-anak ini rapi, meski mereka bersama mama, papa, om, tante, kakak, atau kerabatnya yang lain yang membuat ruang barikade tak lebih dari semeter itu semakin sesak. Karena rapi, aliran jadi lancar.

Tak sampai pukul 14.00 Wib, plus sekitar 1 jam waktu break makan siang, seluruh kontestan di hari pertama sudah selesai mengikuti audisi. Masing-masing juri kebagian sekitar 80 peserta. Herannya, dari sekian banyak anak-anak itu, tak satupun lolos dari tanganku untuk mengikuti audisi berikutnya. Aku tau ini keputusan sadis bagi mereka. Tapi aku mencoba untuk fair. Kekalahan di sini mudah-mudahan akan memicu mereka untuk lebih giat berlatih, mengasah kemampuan vokal. Mungkin di tahun depan mereka lebih matang. Aku mau, mereka lolos karena memang “bisa” bernyanyi, bukan karena ingin menjadi selebritis dengan cara potong kompas. Mudah-mudahan mereka bisa memetik pelajaran: kesuksesan itu hasil perjuangan, bukan instant.

Sebenarnya bukan tak ada yang layak untuk diloloskan. Tapi, ia kesandung usia. Sudah lewat dari batas yang ditetapkan. Panitia mengambil kebijakan untuk meloloskan mereka pada saat registrasi karena sudah capai-capai mengantre. Tapi, jangan pernah meloloskan mereka dari ruangan juri, karena itu akan bisa membahayakan keberlangsungan event ini.

Esoknya, Senin, sebanyak 32 anak lolos pada audisi itu. Kami, para juri mengevaluasi mereka dari berbagai sudut pandang. Kemampuan vocal memang tetap yang utama, tapi jangan pernah lupakan packaging (penampilan) si anak. “Ini untuk televisi, minimal mesti good looking,” pesan si “pemilik” acara.

Begitupun, kisah hidup si anak tetap menjadi pertimbangan lain. Karena, selain kemampuan vocal, penampilan fisik, acara ini juga mengharapkan simpati dari jutaan penonton. Apalagi, kalau bukan dalam bentuk sms dukungan dari Anda. Jadi, semakin memprihatinkan background story si anak, logikanya akan semakin kasihan pemirsa televisi padanya, dan ujung-ujungnya meringankan tangan untuk mengetikkan sms dukungan lewat ponsel. Sekali kirim, dua kali, bahkan mungkin sudah puluhan kali, saat Anda tersadar. Ah, sudahlah… mudah-mudahan kontestan dari Medan bisa “bicara” di Jakarta. (joe)

*) Denny Sitohang, seorang jurnalis di kota medan (sumatera utara), lebih dekat dengan Denny silahkan klik disini

3 thoughts on “Juri Idola cilik audisi sumatera

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s