Bertaburnya Miliarder-Miliarde [Helman Sitohang CEO CSFB Indonesia]

Diposting Oleh : Nimrod Sitohang/Br Sinaga

Rabu, 26 Februari 2003 10:09 WIB – warta ekonomi.com

Akuntan, advokat, dan dokter spesialis dikenal luas sebagai profesi ‘mapan’ yang mampu memberi penghasilan bersih per tahun hingga lebih dari Rp1 miliar bagi para pelakunya. Namun, zaman sudah berubah. Sekarang profesi seperti interim executive, arsitek, investment banker, broker asuransi, artis, broker property, dan perancang busana adalah profesi-profesi yang juga mampu mencetak pelakunya menjadi miliarder.
Who wants to be a millionaire? Jawabnya, semua orang. Hampir pasti semua orang ingin kaya  atau menjadi miliarder. Sampai-sampai ada acara kuis bertajuk ‘Who Wants to be a Millionaire’ di televisi yang juga menjadi acara favorit penonton. Di situ, orang dari berbagai profesi berlomba mengejar perolehan Rp1 miliar jika berhasil menjawab 15 pertanyaan
Akan tetapi, apakah memang itu jalan satu-satunya bagi orang untuk bisa menjadi miliarder? Sepertinya tidak. Sebab, jika orang-orang mau menekuni profesi-profesi tertentu, cepat atau lambat ia bisa juga menjadi miliarder. Profesi-profesi yang umumnya sudah dikenal orang sebagai profesi-profesi penghasil miliarder itu adalah akuntan, advokat, dan dokter spesialis.

Dalam dunia profesi akuntan, akuntan publik yang menjadi partner di firma-firma akuntan besar dikenal luas sebagai akuntan yang paling berpenghasilan tinggi. Firma-firma akuntan mereka ini biasanya terafiliasi dengan firma-firma akuntan kelas dunia, seperti Ernst & Young,  Pricewaterhouse Coopers, KPMG, dan Deloitte Touche Tohmatsu (DTT). Menurut sumber di kalangan akuntan, akuntan publik yang menjadi partner ini biasa dibayar setidaknya US$15.000-20.000 per bulan.
Ahmadi Hadibroto, ketua Ikatan Akuntan Indonesia, mengatakan akuntan publik yang memiliki  reputasi yang baik, otomatis membuat banyak pihak yang percaya menggunakan jasanya. Namun, masalahnya, tenaga dan waktu akuntan itu terbatas, maka muncullah tawar-menawar harga karena demand lebih besar daripada supply. ‘Jika disetarakan, penghasilan mereka melebihi penghasilan seorang eksekutif perusahaan,’ tutur Ahmadi kepada Warta Ekonomi.
Ini berlaku juga untuk profesi advokat atau pengacara (lawyer). Dalam profesi advokat ini, para advokat yang bekerja sebagai partner di firma-firma hukum besar rata-rata bisa berpenghasilan bersih di atas Rp1 miliar setahun. Bahkan pendapatan mereka ini bisa lebih tinggi dari senior partner yang mendirikan firma hukum itu. Pasalnya, mereka kerap mendapat bonus dan insentif jika berhasil memenangkan perkara di pengadilan. Pendapatan para advokat ini sekarang juga diperkirakan makin tinggi karena banyaknya perusahaan atau pengusaha yang membutuhkan jasa mereka dalam menangani restrukturisasi perusahaan dan sengketa bisnis.
Pengacara senior seperti Yan Juanda Saputra sepakat kalau dikatakan bahwa advokat tergolong profesi termahal. Lawyer-lawyer tertentu yang memiliki keahlian khusus, seperti masalah kepailitan, mempunyai jam terbang tinggi, umumnya menangani kasus-kasus besar atau biasa menjadi penasihat hukum perusahaan-perusahaan besar, disebutnya sebagai para pengacara yang bisa berpenghasilan jauh di atas Rp1 miliar dalam setahun.
‘Kalau mereka memberi legal opinion untuk perjanjian-perjanjian yang nilainya puluhan miliar atau bahkan triliun, dan dia mengambil 0,5%-1% untuk fee, itu kan sudah besar,’ tutur pemilik law firm Yan Juanda Saputra SH & Partner’s ini kepada Warta Ekonomi. Menurut sumber di kalangan advokat, tokoh pengacara kepailitan seperti Hotman Paris Hutapea boleh dibilang merupakan contoh terkemuka pengacara miliarder Indonesia.
Profesi dokter spesialis juga dikenal luas bisa menjadikan orang sebagai miliarder. Sulit kiranya berbohong kalau rata-rata dokter spesialis di Indonesia tidak tinggi pendapatannya. Bahkan kuat ditengarai kalau pendapatan mereka sekarang ini kian tinggi dan tidak pernah turun.
Menurut Ahmad Djojosugito, ketua Ikatan Dokter Indonesia, jika rata-rata penghasilan dokter spesialis di Indonesia Rp1 miliar per tahun, itu tergolong biasa. Banyak dokter spesialis yang sebenarnya berpenghasilan Rp100-120 juta per bulan. ‘Bahkan ada rekan saya yang berpenghasilan Rp240 juta per bulan,’ ujar Ahmad yang juga direktur jenderal Pelayanan Medik Departemen Kesehatan ini kepada Warta Ekonomi.
Dari sekian banyak dokter spesialis, maka dokter spesialis bedah jantung (cardiac surgeon) yang ditengarai kuat sebagai yang termahal. Tarmizi Hakim, dokter ahli bedah jantung Rumah Sakit Harapan Kita, Jakarta, mengemukakan ada beberapa hal yang menyebabkan dokter ahli bedah jantung dibayar mahal. Pertama, karena jumlahnya di Indonesia hanya sedikit, hanya 27 orang. ‘Itu pun kebanyakan berada di Jakarta,’ ujar Tarmizi yang juga direktur medical and research RS Jantung Harapan Kita ini.
Kedua, bedah jantung merupakan bidang yang berbiaya tinggi, memerlukan teknologi canggih, dan berisiko tinggi. ‘Jadi, sebenarnya, apa yang didapat sesuai dengan risiko yang ditanggung,’ tutur Tarmizi. Sayangnya, Tarmizi enggan menyebut secara pasti jumlah penghasilan yang didapat dokter ahli bedah jantung seperti dirinya.
Menurut Tarmizi, kalau dibanding standar gaji dokter ahli bedah jantung di Singapura, penghasilan dia hanya sepertiganya. Sementara itu, kalau dibandingkan dengan standar gaji dokter ahli bedah jantung di AS, penghasilannya tidak sampai sepersepuluhnya. ‘Di Amerika, ada seorang ahli bedah jantung senior, terbaik, dan termahal, penghasilannya bisa mencapai US$1 miliar per tahun,’ papar Tarmizi yang mengaku pernah ditawari bekerja di rumah sakit di Australia dengan gaji menggiurkan ini.
 
Profesi-Profesi Penghasil Miliarder
Lalu, apakah hanya profesi-profesi ‘mapan’ seperti akuntan, pengacara, dan dokter spesialis saja yang bisa menghasilkan banyak miliarder? Kalau menilik hasil penelusuran yang dilakukan Warta Ekonomi (lihat boks ‘Mencari Profesi-Profesi Termahal’), ternyata ada tujuh profesi lain yang juga mencetak miliarder. Setidaknya 10 orang yang menekuni masing-masing ketujuh profesi itu layak disebut miliarder-miliarder juga. Profesi-profesi itu adalah broker properti, broker asuransi, interim executive, investment banker, perancang busana, artis, dan arsitek.
Orang mungkin tak bakal heran kalau profesi seperti artis dan perancang busana cukup banyak mencetak miliarder. Nama artis top seperti Krisdayanti kiranya sulit dimungkiri kalau penghasilannya mampu lebih di atas Rp1 miliar setahun. Menurut sumber di kalangan manajemen artis, bayaran Krisdayanti untuk sekali naik panggung saja bisa mencapai Rp250 juta.
Demikian juga halnya perancang busana atau desainer. Perancang busana papan atas seperti Kanaya Tabitha mengaku penghasilannya bisa mencapai lebih dari Rp1 miliar setahun. ‘Seorang desainer mungkin saja bisa membukukan pendapatannya lebih dari Rp1 miliar setahun,’ ujar Kanaya kepada Warta Ekonomi.
Kanaya mulai menggeluti profesi perancang busana sejak 1998. Ia hanya berbekal pendidikan desainer selama setahun ditambah kursus singkat. Belum lama menjadi perancang busana, Kanaya nekat menggelar acara peragaan busana karyanya. Hasilnya luar biasa. Usai acara itu, Kanaya mengaku berhasil memperoleh pendapatan hingga Rp200 juta waktu itu. ‘Tidak sampai sebulan setelah acara peragaan busana itu,’ tutur Kanaya.
Sejak itu, rezeki terus mengalir ke kantong Kanaya. Permintaan pembuatan busana terus berdatangan, terutama pemesanan seragam perusahaan dan lembaga pemerintahan. Belum lagi pendapatan dari penyewaan busana yang bisa mencapai puluhan juta rupiah sekali pinjam. Ia mengungkapkan, rumah mode Kanaya yang dimilikinya bisa mendulang pendapatan hingga lebih dari Rp10 miliar per tahun. ‘Saya akan membuka dua butik baru lagi tahun ini,’ tuturnya.
Namun, bagaimana halnya dengan profesi lain, seperti broker properti, yang ternyata bisa mencetak miliarder-miliarder juga? Mungkin bisa disimak pengalaman salah seorang broker properti bernama Ali Hanafiah. Direktur utama Century 21 Pertiwi Jakarta ini mulai menekuni profesi broker properti sejak tahun 1998 dengan bekal pengalaman sebagai project manager pembangunan sebuah kawasan perumahan.
Dalam tempo setahun, perusahaannya yang terafiliasi dengan perusahaan broker internasional Century 21 sudah mencatatkan diri sebagai top sales office Century 21 se-Indonesia. Saat itu ia rata-rata mampu menjual 10-15 unit properti sebulan, mulai dari rumah, kavling tanah, ruko, hingga pabrik, dengan rata-rata nilai transaksi mencapai Rp750 juta-Rp1,5 miliar. Sementara itu, fee yang ia pungut sebesar 2%-3% dari nilai transaksi. Fee itu kemudian dipotong royalti sebesar 10,8% ke kantor pusat Century 21, dan setelah itu dibagi dua dengan agen properti yang menjadi bawahannya.
Menginjak tahun 2000 hingga sekarang, perusahaannya terus berhasil bertahan sebagai salah satu top sales office Century 21 se-Indonesia. Rata-rata penjualannya pun terus meningkat. Ia rata-rata mampu menjual 20-25 unit properti per bulan. Bahkan ia pernah berhasil menjual tanah senilai Rp9,1 miliar, gedung perkantoran senilai Rp43 miliar, kompleks pertokoan senilai Rp25 miliar, dan pabrik senilai Rp36 miliar. Dari kebolehannya menjadi broker properti inilah bisa digambarkan betapa Ali jelas mampu memperoleh penghasilan di atas Rp1 miliar per tahun.
Menurut Ali Hanafiah, dibandingkan dirinya yang merupakan broker properti yang terafiliasi dengan perusahaan broker properti dunia, sekarang ini ada kecenderungan justru broker properti yang bersifat perorangan atau tak resmi yang penghasilannya bisa lebih besar. Mereka ini khusus menangani transaksi puluhan hingga ratusan miliar rupiah dan bisa mendapatkan fee hingga 10%
yang sepenuhnya masuk ke kantongnya sendiri sehingga penghasilannya pun praktis bisa puluhan miliar rupiah per tahun. ‘Mereka bisa begitu karena sudah mendapatkan kepercayaan besar dari para klien,’ ujar Ali kepada Warta Ekonomi.
Bagaimana pula dengan profesi arsitek? Mungkinkah profesi ini bisa mencetak para miliarder? Menurut Bambang Eryudhawan, ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jakarta, hal itu bisa terjadi karena si arsitek mendapatkan banyak proyek dan nilai proyeknya pun besar. ‘Terutama gedung-gedung bertingkat tinggi yang nilai proyeknya miliaran rupiah seperti hotel dan gedung perkantoran,’ ujar Bambang kepada Warta Ekonomi.
Bambang menambahkan bahwa sebenarnya ada standar penetapan fee dalam menentukan jasa layanan arsitek. Dalam hal ini, IAI mengeluarkan suatu pedoman yang sifatnya tidak mengikat. Misalnya, untuk proyek pembangunan rumah tinggal seluas di atas 250 meter persegi, besarnya fee yang didapat si arsitek minimal 8% dari nilai proyek. ‘Tetapi umumnya besarnya fee arsitek bisa dinegosiasikan dengan pemilik proyek dan biasanya jauh lebih besar dari ketetapan itu,’ tutur Bambang. Menurut sumber di kalangan arsitek, tokoh arsitek seperti Hendra Hadiprana dan keluarganya merupakan contoh terkemuka arsitek-arsitek miliarder Indonesia.
Profesi investment banker juga tak kalah banyak menghasilkan miliarder. Dalam dunia profesi bankir, profesi inilah yang dikenal luas paling mampu memberikan penghasilan tertinggi. Ia berbeda dengan profesi commercial banker yang fungsinya menghimpun dana dari masyarakat berbentuk tabungan atau deposito dan disalurkan lagi ke masyarakat. Seorang investment banker lebih berfungsi sebagai jembatan antara pemilik dana dan pihak yang membutuhkan dana. Misalnya, pemerintah yang melakukan divestasi atau ketika sebuah perusahaan melakukan go public karena membutuhkan dana bisa dijembatani oleh investment banker dengan para investor asing.
Para investment banker ini khas dikenal mampu melakukan pemindahan uang dalam jumlah besar dengan cepat. Dari kemampuan khusus inilah mereka akan mendapatkan kompensasi besar, terutama dalam bentuk bonus. Menurut seorang investment banker yang tak mau disebut namanya, tokoh-tokoh seperti Jonathan Chang, CEO JP Morgan Chase Indonesia dan Helman Sitohang, CEO CSFB Indonesia adalah contoh investment banker Indonesia yang terkemuka saat ini. Penghasilan mereka diperkirakan di atas Rp1 miliar dalam setahun.
Memang sebagian pengamat mengatakan bahwa dalam kondisi perekonomian nasional yang tak begitu cerah seperti saat ini, banyak membuat investment banker menjadi ‘gerah’ dan ingin berganti profesi saja. Namun, menurut sebagian pengamat yang lain, sesungguhnya penghasilan seorang investment banker tidaklah turun. Artinya, para investment banker yang merupakan perwakilan dari lembaga investment bank asing seperti CSFB dan JP Morgan Chase tidaklah turun penghasilannya.
Hal itu disebabkan mereka sebenarnya tidak hanya menguasai pasar di dalam negeri saja tetapi juga di luar negeri. Jadi, saat kondisi perekonomian nasional normal, mereka sebenarnya sudah memperoleh keuntungan besar di Indonesia dan sudah cepat-cepat keluar dari pasar Indonesia ketika mencium gejala pasar akan memburuk.
Ada lagi profesi bernama interim executive yang juga mampu menghasilkan miliarder-miliarder. Orang-orang yang disebut interim executive ini pada intinya bertugas untuk membenahi kondisi sebuah perusahaan dalam jangka waktu tertentu. Ia terutama memiliki latar belakang keahlian di bidang konsultan manajemen dan ahli dalam melakukan restrukturisasi grup usaha yang sedang mengalami kesulitan.
Profesi interim executive ini memang tak banyak dikenal di Indonesia. Padahal di negara-negara Barat, profesi ini sudah dikenal lama. Namun, sejak satu-dua tahun belakangan, interim executive mulai banyak dicari di Indonesia.
Pasalnya, banyak perusahaan membutuhkan jasa mereka untuk mengembalikan keadaan perusahaan yang tak menguntungkan menjadi menguntungkan. Boleh dibilang, hampir semua perusahaan yang masuk ‘perawatan’ di BPPN (Badan Penyehatan Perbankan Nasional) membutuhkan jasa mereka. ‘Ia mirip seperti tentara bayaran,’ ujar Peter Ong, presiden i2bc (Indonesia Infocosm Business Community).
Karena tugasnya itu berisiko tinggi, wajar saja jika para interim executive ini dikontrak perusahaan dengan nilai yang jauh lebih besar dibanding gaji pegawai perusahaan itu sendiri. Mereka ini bisa merupakan interim CEO (chief executive officer), interim CFO (chief financial officer), atau interim manager saja. Mereka ini tidak terlalu mementingkan jabatan atau posisi mereka di perusahaan. Asal bayarannya sesuai, diberi kartu nama dengan jabatan supervisor juga mereka tak keberatan.
Munculnya para miliarder dari profesi interim executive ini bukan tanpa sebab. Banyak perusahaan di Indonesia sekarang ini sedang melakukan restrukturisasi. Mereka ini sebenarnya membutuhkan jasa konsultansi manajemen untuk restrukturisasi perusahaan mereka. Namun, mereka cenderung enggan menggunakan jasa firma-firma konsultan manajemen kelas dunia seperti Accenture, McKinsey, Boston Consulting Group, dan lain-lain. Alasannya, bayarannya terlalu mahal, hingga puluhan juta dolar AS, sementara hasilnya mereka anggap tidak terlalu istimewa.
Pilihan mereka kemudian jatuh kepada para interim executive, yaitu individu-individu yang memang jago restrukturisasi (restructuring specialist) atau perusahaan nasional yang memiliki kemampuan serupa tetapi bayarannya lebih murah dan hasilnya jelas. Daripada membayar global consulting firm puluhan juta dolar AS, lebih baik mereka mengontrak interim executive dengan bayaran ‘cuma’ ratusan ribu dolar AS. Order perusahaan-perusahaan untuk restrukturisasi ini yang sekarang diduga kuat banyak beralih ke individu-individu seperti interim executive.
 
Barrier to Entry dan Pendapatan
Jika diperhatikan, kesepuluh profesi pencetak para miliarder itu memiliki perbedaan mendasar dalam menghasilkan miliarder. Ini penting untuk menjawab pertanyaan bagaimana bisa kesepuluh profesi itu mencetak miliarder-miliarder. Kesepuluh profesi itu kiranya bisa dibedakan antara profesi yang bersifat tertutup dan bersifat terbuka.
Apa yang dimaksud dengan adanya profesi tertutup dan profesi terbuka? Profesi tertutup dapat diartikan kurang lebih adalah profesi yang memiliki syarat-syarat profesional yang ketat. Dalam profesi ini, seseorang umumnya dituntut harus melewati jalur pendidikan tinggi formal terlebih dahulu yang sesuai dengan profesi itu. Kemudian ia juga disyaratkan harus memiliki keahlian khusus dan sertifikasi tertentu untuk bisa menggeluti profesi itu.
Di samping itu, dalam profesi tertutup, biasanya juga dicirikan oleh adanya organisasi profesi (self regulatory body) yang secara ketat mengawasi para anggotanya, termasuk memberikan sanksi. Orang yang menekuni profesi tertutup ini umumnya juga memiliki kode etik profesi dan kewajiban mempertanggungjawabkan pekerjaan profesinya kepada publik. Dengan kata lain, profesi tertutup ini memiliki tingkat barrier to entry yang tinggi. Dokter spesialis bedah jantung merupakan contoh ekstrem profesi yang bersifat tertutup ini.
Sementara itu, yang dimaksud dengan profesi terbuka kurang lebih adalah profesi yang tidak diatur secara ketat seperti profesi tertutup. Untuk bisa menekuni profesi terbuka ini, orang tak diharuskan menempuh pendidikan tinggi formal khusus yang sesuai profesi itu. Ia juga tak harus memiliki sertifikasi khusus sesuai profesi itu.
Dengan kata lain, profesi terbuka ini memiliki tingkat barrier to entry yang tidak terlalu tinggi. Profesi artis merupakan contoh ekstrem profesi yang bersifat terbuka ini. Meskipun demikian, kehadiran profesi terbuka ini sangat nyata di masyarakat dan terus berkembang. Para pelakunya juga sudah mengarahkan profesi itu untuk bisa semapan profesi tertutup. Misalnya, sudah ada organisasi profesinya walaupun tidak mengatur secara ketat anggotanya.
 
Makin Terdidik, Makin Kaya ?
Lantas, apa makna dari adanya tingkat barrier to entry yang berbeda-beda dari sepuluh profesi pencetak miliarder? Nilai apa yang bisa diambil dari pembedaan profesi terbuka dan tertutup? Apakah ada hubungan antara tingginya tingkat barrier to entry sebuah profesi dan besarnya penghasilan pelaku profesi itu?
Dalam bahasa logika sederhana, normalnya, makin sulit atau ketat persyaratan (barrier to entry) yang harus dilalui seseorang untuk bisa menekuni sebuah profesi, maka seharusnya profesi itu bisa memberikan pendapatan yang makin tinggi dan bahkan bisa menjadikan seseorang sebagai miliarder. Alasannya, persyaratan ketat itu membuat tak semua orang bisa menekuni profesi itu dengan mudah. Misalnya, profesi tertutup seperti dokter spesialis bedah jantung. Karena jumlah orang yang menekuni profesi itu sedikit, sementara jasa profesi itu sangat dibutuhkan masyarakat, maka terjadilah mekanisme pasar.
Jadi, hukum supply and demand menjadi berlaku di sini. Karena supply kurang, sementara demand berlebih, maka muncul harga produk jasa yang tinggi. Dengan kata lain, orang yang menekuni profesi tertutup ini besar kemungkinan berpenghasilan tinggi atau menjadi kaya. Logika semacam itu persis seperti nasihat orang tua supaya anaknya bersekolah setinggi mungkin supaya nanti bisa kaya.
Akan tetapi, lalu sesungguhnya ada paradoks. Ada profesi terbuka seperti artis yang penghasilannya bisa sama tingginya dengan penghasilan profesi tertutup seperti dokter spesialis bedah jantung. Ini artinya ada profesi yang memiliki tingkat barrier to entry yang lebih rendah bisa juga mencetak miliarder-miliarder seperti halnya profesi-profesi yang memiliki tingkat barrier to entry yang lebih tinggi. Paradoks seperti ini seolah-olah menasihati anak-anak bahwa tidak usah sekolah tinggi-tinggi atau terlalu lama, tetapi sewaktu masih muda mulailah berbisnis atau mengembangkan bakat seni.
Mengapa paradoks itu bisa terjadi? Penyebabnya agaknya bisa bermacam-macam. Misalnya, profesi artis. Banyak artis top tak kesulitan berpenghasilan Rp1 miliar ke atas diduga karena memang memiliki kualitas yang jauh lebih tinggi dibanding artis-artis lainnya. Mereka pantas berpenghasilan tinggi hingga mencapai miliaran rupiah setahun karena memang sangat berkualitas.
Menurut Peter Ong, jika pendapatan para artis digambarkan dalam bentuk piramida, maka piramida pendapatan para artis itu akan berbentuk mengerucut ke atas. Artinya, ada kesenjangan pendapatan yang besar antara pendapatan artis top dan pendapatan artis yang berada di bawahnya.
Ini berbeda halnya, misalnya, dengan gambar piramida pendapatan profesi akuntan yang lebih membesar ke bawah. Artinya, rata-rata akuntan memang tinggi pendapatannya. ‘Karena memang sudah ada standar internasionalnya untuk menentukan besarnya penghasilan mereka,’ ujar Peter. Kalau kemudian ada akuntan yang mampu memiliki pendapatan lebih tinggi, itu lebih disebabkan layanan mereka lebih baik dibanding layanan akuntan yang lain.
 
Faktor Waktu dan Tempat
Selanjutnya bagaimana perkembangan kesepuluh profesi pencetak para miliarder di masa depan? Apakah kesepuluh profesi itu di perjalanan tahun 2003 dan tahun-tahun berikutnya masih bisa menjadi profesi-profesi pencetak miliarder? Apakah nanti semua profesi yang memiliki tingkat barrier to entry yang tinggi, otomatis kompensasinya mesti tinggi? Atau, apakah justru makin banyak terjadi paradoks hubungan antara tingkat barrier to entry sebuah profesi dan besarnya penghasilan?
Jawabannya agaknya sangat bergantung pada perubahan kurun waktu. Bisa jadi profesi yang dahulu atau sekarang banyak mencetak miliarder, nantinya tidak lagi demikian. ‘Ini terjadi di profesi seperti distributor MLM (multilevel marketing). Pelakunya yang mampu menjadi miliarder, sejauh ini, saya lihat masih itu-itu saja tanpa banyak perubahan,’ ujar Irham Dilmy, partner perusahaan executive search Amrop Hever Indonesia.
Dugaan yang sama muncul juga di profesi konsultan manajemen. Perusahaan-perusahaan konsultan manajemen kelas dunia seperti McKinsey, Accenture, Boston Consulting Group, dan Ernst & Young saat ini ditengarai sedang mengalami kesulitan bisnis karena banyak perusahaan klien mereka sekarang enggan memakai jasa mereka. Kalaupun masih memakai, banyak perusahaan klien mereka meminta pemotongan biaya-biaya konsultansi yang mereka anggap tak perlu. Padahal perusahaan konsultan manajemen kelas dunia itu dihuni oleh orang-orang berpendidikan tinggi, lulusan sekolah manajemen terkenal dan bergaji tinggi.
Perusahaan-perusahaan kini banyak berpaling menggunakan jasa interim executive individual atau perusahaan konsultan yang bukan perusahaan konsultan global. Alasannya, harga mereka jauh lebih murah dan hasilnya juga tak kalah baik. ‘Ini fenomena baru yang terjadi setahun belakangan ini dan akan makin menjadi-jadi karena perusahaan tidak akan kuat membayar konsultan puluhan juta dolar AS,’ tutur Irham.
Olengnya bisnis konsultan manajemen global juga tak lepas dari hadirnya era transparansi sekarang ini. Momentum era transparansi ini memang banyak mengubah peta bisnis sekarang ini dan eksistensi profesi-profesi pencetak miliarder yang lain. Mencuatnya skandal-skandal keuangan seperti kasus Enron tempo hari lalu membuat banyak orang bertanya-tanya tentang peranan firma-firma akuntan global dan perusahaan konsultan manajemen. Muncul kemudian peraturan-peraturan yang membatasi perusahaan dalam memakai jasa mereka. Misalnya, perusahaan tak lagi boleh memakai perusahaan yang sama untuk jasa audit dan konsultan manajemen.
Namun, bisa juga nanti muncul profesi-profesi baru yang bisa mencetak miliarder. Misalnya, profesi financial planner. Profesi ini merupakan perkembangan lebih lanjut dari profesi broker asuransi. ‘Banyak mantan broker asuransi sekarang menjadi financial planner,’ ujar Hotbonar Sinaga, ketua umum  kepada Warta Ekonomi.
Menurut Irham, nantinya profesi broker asuransi bakal diatur makin ketat. Untuk bisa menjadi seorang broker asuransi, orang harus memiliki sertifikasi berupa Certified Financial Planner (CFP). Untuk bisa mendapatkan sertifikat CFP ini, orang pun juga diharuskan minimal telah menempuh pendidikan sarjana S-1.
Lalu, saat menjual produk asuransi, seorang broker asuransi akan diminta menunjukkan nomor  registrasi sertifikat CFP yang dimilikinya. ‘Jadi, nanti tidak bisa lagi ada orang datang berjualan produk asuransi seenaknya,’ ujar Irham.
Irham menambahkan, saat ini, organisasi para financial planner di Indonesia juga baru saja terbentuk. Profesi financial planner ini tak hanya berperan di industri asuransi tetapi juga bakal berperan penting di industri dana pensiun dan bancassurance. ‘Di negara seperti Singapura, persyaratan memiliki sertifikat CFP sudah diberlakukan dan penghasilannya bisa jauh lebih tinggi dari akuntan yang pendapatannya cenderung lebih fixed,’ tutur Irham.
Selain pengaruh perubahan kurun waktu, faktor perbedaan tempat juga sangat menentukan dinamika perkembangan profesi-profesi pencetak miliarder. Artinya, profesi-profesi yang bisa menghasilkan miliarder-miliarder di luar negeri belum tentu berlaku juga di Indonesia. Demikian juga sebaliknya.
Dalam profesi akuntan, misalnya. Di negara-negara Barat, sebenarnya ada sertifikasi CISA untuk bisa menjadi seorang auditor. Di Indonesia pun ditaksir hanya sekitar 50 orang auditor yang mempunyai sertifikat CISA. Namun, kebanyakan perusahaan di Indonesia tidak mengerti itu sehingga banyak perusahaan tidak meminta adanya sertifikasi itu bagi para auditor yang akan mengaudit laporan keuangan perusahaan mereka. ‘Jadi, buat mereka, siapa pun oke untuk mengaudit,’ tutur Peter Ong.
Kemudian kultur perusahaan di Indonesia, terutama di perusahaan konglomerasi yang berdasar saham utama keluarga, juga banyak menentukan besarnya apresiasi terhadap profesi-profesi yang seharusnya berpenghasilan tinggi. Misalnya, walaupun seorang akuntan yang bekerja di sebuah perusahaan memiliki sertifikasi akuntan yang tinggi, belum tentu berpenghasilan tinggi. Pasalnya, pemilik perusahaan lebih banyak mempercayakan manajemen keuangan di perusahaannya kepada orang yang lebih dipercayainya. Otomatis orang yang lebih dekat dengan pemilik akan berpenghasilan lebih tinggi dibanding para profesional yang ada di perusahaan itu.
 
Mencari Profesi-Profesi Termahal
Beragam profesi hadir dan berkembang di masyarakat. Namun, untuk mencari profesi-profesi apa saja yang termahal tentu bukan pekerjaan gampang. Untuk itu Warta Ekonomi mengadakan diskusi panel dengan dua orang ahli, yaitu Irham Dilmy, partner perusahaan executive search Amrop Hever Indonesia, dan Peter Ong, presiden asosiasi bisnis i2bc (Indonesia Infocosm Business Community), serta tim riset PinPoint Databases.
Berangkat dari pengertian kata ‘profesi’ bisa dipilah menjadi profesi tertutup dan terbuka, hasil diskusi panel Warta Ekonomi kemudian menyimpulkan bahwa ada perbedaan tingkat atau derajat barrier to entry antara profesi yang satu dan profesi yang lain. Artinya, ada profesi yang memiliki persyaratan ketat untuk bisa dilakukan oleh seseorang. Akan tetapi, ada juga profesi yang bisa dijalankan seseorang dengan persyaratan yang longgar.
Berdasarkan adanya perbedaan tingkat barrier to entry profesi itu, kemudian dicoba dibuat peta persepsi profesi-profesi apa saja yang termahal. Pengertian ‘termahal’ yang dimaksud di sini adalah profesi-profesi yang mampu memberikan penghasilan bersih bagi pelaku profesi itu setidaknya Rp1 miliar dalam setahun.
Persepsi besarnya penghasilan mereka ini juga diperkuat wawancara mendalam dengan narasumber-narasumber di industri yang terkait dengan profesi itu. Besarnya penghasilan itu juga lebih merupakan angka kisaran dan tidak secara khusus mengacu kepada individu. Peta persepsi itu memperkirakan ada 10 profesi yang layak disebut profesi-profesi termahal karena setidaknya ada 10 orang pelaku profesi itu berpenghasilan bersih setidaknya Rp1 miliar dalam setahun. Kesepuluh profesi yang dipersepsikan termahal itu adalah akuntan, pengacara, dokter spesialis, investment banker, interim executive, broker properti, broker asuransi, artis, perancang busana, dan arsitek.
 
Pemanfaatan ICT di Profesi-Profesi Termahal
Apakah para pelaku profesi-profesi termahal kini juga memanfaatkan perangkat ICT (information communication technology) dalam menjalankan profesinya sehari-hari? Pertanyaan ini agaknya menarik diungkap. Alasannya, perangkat ICT diyakini merupakan sarana bagi para pelaku profesi termahal untuk menciptakan nilai tambah sehingga makin tinggi pula pendapatannya.
Dari hasil wawancara Warta Ekonomi dengan para pelaku profesi-profesi termahal dan dari hasil diskusi panel Warta Ekonomi, terungkap bahwa perangkat ICT memang banyak membantu para pelaku profesi itu dalam menjalankan profesinya sehari-hari. Misalnya, internet browsing, e-mail, handphone/SMS, dan collaborative tools seperti chatting dan scheduler. Masing-masing profesi memiliki derajat keeratan hubungan pemakaian yang berbeda-beda dengan masing-masing perangkat ICT itu.

 

 

 

 

 

 

4 thoughts on “Bertaburnya Miliarder-Miliarde [Helman Sitohang CEO CSFB Indonesia]

  1. Horas,

    Uda Helman Sitohang, lulusan Teknik Elektro ITB.
    Saya tahu beliau (tapi belum pernah ketemu), dan pernah berkunjung ke rumahnya di Medan.
    Ibu dari Uda Helman ini adalah seorang wanita berdarah Ceko, sehingga kami sering menyebut keluarga mereka dgn sebutan Keluarga Ompung Ceko hehehe..🙂
    CSFB = Credit Suisse First Boston

    Horas ma,
    Roy Enrico Sitohang, ST.

  2. Bravo, HELMAN SITOHANG
    Mudah2 an Sitohang yang lain bisa mengikuti jejak nya menjadi Miliarder. Mudah2 an juga Helman Sitohang mau SHARING mengenai Pengalamannya ” How to achieve such, and what to do & prepare ” supaya bisa berhasil seperti DIA Pomparan Sitohang natarpillit, jala dipasu2 Tuhan. DWS 08092008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s