HARI-HARI PERTAMA NOMMENSEN DI SILINDUNG

ADU KECERDASAN

“Orang kulit putih!” Kata-kata itu menjalar dari mulut ke mulut. Tibatiba dekat pintu pasar orang-orang mulai berkerumun. Tua dan muda berhambur menuju tempat itu. Orang-orang tidak dapat mempercayai mata mereka.

Ketika itu hari pasar mingguan di desa Onan Sipinggan, dan kerumunan-kerumunan orang Batak dari desa-desa sekelilingnya berdesakan satu dengan yang lain di pasar yang ramai. Para pembeli dan penjual berduyun-duyun melalui pintu terbuka pada pagar bambu yang membatasi pasar. Para penenun sudah memajang kain-kain biru, kuning dan merah hasil tenunan mereka. Disamping mereka adalah tukang-tukang tempayan dengan tempayan-tempayan yang berwarna merah bata atau hitan tanah, dan didekatnya lagi penjual-penjual beras, masing-masing mempunyai karungnya sendiri didepannya. Ada segala sesuatu yang dijual yang diperlukan oleh orang-orang: kayu-kayu halus, alat-alat besi, timah, senjata, buah-buahan, ubi jalar, kopi, the, dan bumbu-bumbu. Di satu sudut pasar mereka menjual sapi hidup, kerbau dan unggas, dan didekatnya adalah berbagai macam daging yang disukai banyak orang termasuk daging manusia, karena orang-orang Batak waktu itu masih kanibal. Dimana-mana terdengar berbagai seruan suara manusia saat orang-orang membeli dan menjual barang-barang mereka.

Tetapi orang kulit putih tidak pernah terlihat disana sebelumnya.Dengan keberanian dan kepercayaan diri, serta dengan tidak memperhatikan segerombolan anak-anak mengerumuni dia, yang merabaraba dengan tangan-tangan mereka, pria pirang bermata biru itu berjalan melalui pasar itu, diikuti oleh pandangan mata orang-orang itu, yang kebanyakan belum pernah melihat orang kulit putih sebelumnya. Tiba-tiba ia terlihat membungkuk dan bercanda dengan anak laki-laki kecil yang menjadi terlalu berani – berbicara dengan bahasa Batak. Kerumunan itu terbengongbengong dan terpana.

Langsung ke halaman rumah sang Raja, orang asing itu melangkahkan kakinya, diikuti oleh orang-orang desa yang penuh curiga. Sang Raja, dengan memandang hina kepada pengunjung yang tak diundang ini, bertanya dengan nada kasar, “Apa yang kamu lakukan di Silindoeng ini? Kenapa kamu datang?”

“Saya sangat ingin datang dan tinggal bersama-sama saudara semua disini untuk mengajar semua yang mau, bagaimana supaya pandai dan bahagia,” jawabnya.

Pernyataan yang mengherankan ini menimbulkan keributan, dan memakan waktu cukup lama sampai suasana cukup tenang untuk dapat mendengar apa yang dikatakan orang-orang itu. Tinggal disini! Selama ini orang-orang ini telah mengisolasikan diri mereka dari dunia luar, menurut kebiasaan nenek moyang, siapapun yang datang tanpa diundang ke lembah mereka dinyatakan melanggar hukum, dan menjadi mangsa yang sah bagi mereka yang ingin membunuhnya. Bagi beberapa orang diantara mereka yang pernah menempuh perjalanan ke arah pantai telah mulai menyadari bahwa mereka tidak dapat hidup terpisah dari dunia luar selamanya, dan mereka senang jika misionari ini datang untuk hidup bersama mereka, tetapi banyak orang-orang yang lain tidak senang. Perdebatan terus berlangsung. Pagi menjadi siang. Siang menjadi malam. Tetap saja belum ada keputusan yang diambil.

Orang asing itu mendengarkan dengan sabar selama masalah itu didiskusikan. Pada akhirnya salah seorang oposan berpaling dengan murka ke arahnya dan berkata, “Sekarang sebagai akhir dari leluconmu. Kapan kamu akan pergi?”

“Tidak pernah,” jawabnya tenang. “Bukankah telah saya katakan bahwa saya akan membangun rumah dan hidup di sini?”

“Maka kami akan membakarnya!”

“Dan saya akan membangunnya lagi,” jawab orang kulit putih itu dengan tegas.

“Kami akan memotong kakimu dan melemparkan kamu ke sungai,” ancam seorang oposan lain.

“Kawan, kamu tahu kamu tidak bersungguh-sungguh dengan ucapanmu itu,” jawab misionari itu dengan senyum yang tulus.

Orang-orang itu tidak dapat mengambil keputusan. Hari berikutnya Raja-raja dari desa-desa sekitarnya datang untuk berunding mengenai masalah itu. Orang kulit putih itu tetap bertahan dalam ketenangan tentang permintaannya, saat Raja-raja itu menyatakan pro dan kontra. Hal ini berlangsung selama lima hari. Perlahan-lahan, kepercayaan diri orang asing ini memenangkan hati Raja-raja itu dan mereka sepertinya hendak menyetujui permohonan itu.

Tetapi tiba-tiba suasana menjadi tegang lagi. Salah satu Raja mempertanyakan mengenai tanggung-jawab atas kehidupan sang misionari. Dengan menggunakan suatu bahasa kiasan yang sesungguhnya menyatakan suatu ancaman bahaya yang serius, ia berkata, “Jika seseorang menabur satu biji padi di jalan, bukankah ayam-ayam akan mengambil dan memakannya?”

Pria itu berdiri. Bahkan para oposan dapat merasakan kekuatan imannya ketika kata-kata ini keluar dari bibirnys dengan tegas, “Jika orang yang melempar sebutir padi di jalan itu menghalau ayam-ayam itu, maka mereka tidak akan dapat memakan padi itu.”

Mendengar kata-kata ini, jelas bahwa orang asing ini memiliki Ompoe Semangat yang kuat, yaitu roh nenek moyang yang sangat kuat dan dapat melindungi. Jadi ia diperbolehkan tinggal di lembah itu.

Walaupun jalan untuk tinggal dan hidup di antara orang Batak nyatanyata telah terbuka, tetapi ketika sampai pada kenyataan membangun rumah beberapa Raja berkeberatan dan ragu-ragu lagi. Sekali lagi konferensi diadakan dan tidak ada kemajuan ke arah suatu keputusan karena sifat keras kepala dari pihak-pihak yang bertikai. Pada akhirnya orang kulit putih ini, lelah dengan penundaan-penundaan itu, suatu hari mengambil buku yang paling tebal yang ia punyai ke pertemuan itu dan mengatakan kepada Rajaraja itu bahwa ia akan menulis nama-nama orang-orang yang masih ingin mencegah dia untuk membangun rumah. Karena ketakutan tahyul mereka akan buku-buku dan tulisan, tak satupun mempunyai keberanian untuk meneruskan perlawanan secara terbuka. Mereka yakin bahwa dengan ditulisnya nama-nama mereka dalam sebuah buku ia akan memperoleh kuasa atas mereka , sehingga masalah itu dihentikan.
 
Begitulah akhirnya pada suatu hari dapat dimulai pembangunan rumah misionari pertama diantara orang Batak Sumatra, Indonesia. Tiangtiang penyangga, papan-papan, tikar-tikar bambu, tali-tali rotan, semua yang diperlukan telah tersedia, dan dengan segera pembangunan diselesaikan. Begitulah Ludwig Nommensen, misionari kulit putih pertama yang hidup diantara orang-orang Batak, memperoleh tempat berpijak. Tetapi ia bukanlah misionari pertama yang berusaha keras untuk memenangkan orang-orang itu.
Dikutip dari buku: PERINTIS DI SUMATERA, Cerita Tentang Ludwig Nommensen karangan Nellie DeWaard yang diterjemahkan oleh Ir. Tjandra Sasmita (cetakan kedua Juni 1963)
(Dikirim oleh Petrus M. Sitohang, Bintan)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s