PROF. DR. Ing. BENHARD SITOHANG DAN GERAKAN OPEN SOURCE DI INDONESIA

benhardGuna mempercepat gerakan memasyarakatkan piranti lunak terbuka (bebas) di Indonesia dan dunia, Asosiasi Open Source di Indonesia dengan dukungan Kementerian Riset dan Teknologi dan Departemen Komunikasi dan Informasi akan menyelenggarakan Global Conference on Open Source (GCOS)  di Jakarta 26-27 Oktober 2009.

Gerakan untuk memasyarakatkan perangkat bebas di Indonesia atau yang dikenal dengal Indonesia Go Open Source (IGOS) secara resmi dideklarasikan di Jakarta 30 Juni 2004 oleh 5 kementerian yaitu Kementerian Negara Riset dan Teknologi, Departemen Komunikasi dan Informatika, Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, Kementerian Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Departemen Pendidikan Nasional.

Gerakan ini melibatkan seluruh stakeholder TI (akademisi, sektor bisnis, instansi pemerintah dan masyarakat) yang dimulai dengan program untuk menggunakan perangkat lunak sumber terbuka di lingkungan instansi pemerintah. Diharapkan dengan langkah ini dapat diikuti oleh semua lapisan masyarakat untuk menggunakan perangkat lunak legal.

Semangat gerakan ini memiliki sasaran sebagai berikut:

  • Memberikan lebih banyak alternatif perangkat lunak yang dapat digunakan oleh masyarakat secara legal dan terjangkau, sehingga jumlah pengguna komputer meningkat.
  • Peningkatan kemampuan riset dan pengembangan teknologi informasi nasional bidang perangkat lunak.
  • Menciptakan kompetisi pengembangan teknologi informasi untuk dapat bersaing di percaturan global

Ketika ditanyai pendapatnya mengenai kemajuan IGOS setelah 5 tahun berjalan sejak dideklarasikan gurubesar Teknik Informatika di Sekolah Tingggi Ilmu Elektro Institut Teknologi Bandung Mengenai  Prof. Dr. Ing. Benhard SITOHANG mengatakan bahwa sejauh ini biaya sosialiasasi Open Source Software (OSS) sudah cukup besar yang bersumber dari pemerintah melalui Kantor Menristek, Depkominfo, instansi lainnya, dana masyarakat dan lain lain termasuk untuk penyelenggaraan GCOS yang akan datang.

Namun dia mengakui pertumbuhan penggunaan OSS mungkin masih tetap tanda tanya. Dia mensinyalir ada kemungkinan OSS hanya digunakan untuk uji-coba atau untuk sekedar mengetahui, tetapi belum atau tidak untuk aktifitas nyata.

Dia juga menyayangkan bahwa kebanyakan instansi pemerintah sendiri belum menggunakan peranti lunak open source. Padahal jika gerakan Indonesia Goes Open Surce ini berhasil akan dengan sendirinya mengurangi aliran uang dari Indonesia ke luar negeri, terutama ke perusahaan Microsoft, termasuk penghematan anggaran pemerintah dan pemerintah daerah untuk pembelian software.

Hal lain yang menyebabkan lambatnya penggunaan OSS adalah fakta bahwa masyarakat masih belum takut untuk melakukan pembajakan perangkat lunak komputer.

Manfaat lainnya bagi Indonesia jika gerakan ini berhasil adalah terbukanya peluang untuk mengembangkan perangkat lunak dengan cara yang lebih mudah, karena bisa memanfaatkan apa2 yang sudah ada.

“Untuk efektifnya,  saya kira akan lebih baik melakukan pendekatan yang realistis yaitu sisi law enforecement dan  commerce berjalan beriringan dan harus langsung mengena sasaran yaitu dengan melakukan razia software illegal secara intensif, dan real-penality bagi yang illegal. Dengan pendekatan ini, maka masyarakat dipaksa agar menggunakan software yang legal. Pengguna yang mau menggunakan software harus bersedia membayar software bermerek atau pergunakanlah OSS,” ujar Prof. Benhard Sitohang, yang adalah Ketua Departemen Teknik Informatika ITB tahun 1989-1992 dan 2000-2004 serta pernah menjabat Sekretaris Senat  ITB tahun 2002-2001 dan Sekretaris Senat STEI ITB tahun 2006-2008 kepada Petrus M. Sitohang dari blog ini.

Selanjutnya menurut salah seorang pendiri Jurusan Teknik Informatika dan salah seorang Insinyur Teknik Komputer Indonesia generasi pertama lulusan ITB dan Universite des Science et Technique de Languedoc Perancis, hal ini akan baik paling tidak dari 2 sisi. Dari sisi ekonomi  1). omzet property meningkat, jika masyarakat mampu membayar, atau 2). omzet layanan komersial OSS meningkat dan dengan sendirinya akan berkurangnya kasus pembajakan oleh Indonesia paling tidak di bidang teknologi perangkat lunak.

Mengenai penyelenggaraan Global Conference Open Source ini, Prof. Benhard Sitohang yang di luar kesibukannya mengajar di STIE ITB adalah pendiri dan Ketua Pusat Pemberdayaan Open Source (POSS) ITB sejak didirikan tahun 2007, menilai positif karena melalui forum seperti ini akan didapat pertukaran informasi dengan negara-negara lain.

“Saya bahkan mendapat informasi dari ibu Betty Alisyahbana, Ketua Pelaksana GCOS dan Ketua AOSI, bahwa peserta dari Srilanka sedang mencari partner strategis untuk masalah network security dimana mereka sangat menekanakan kepentingan komersial,”  demikian Prof Benhard Sitohang yang meraih gelar Doktornya pada usia 29 tahun di Universite des Science et Technique de Languedoc Perancis itu.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s