PESTA DANAU TOBA UNTUK SIAPA?

PMS_CLOSE_UPOleh: Petrus M. Sitohang

Ada beberapa alasan yang membuat hati saya memulai hari ini dengan aura kegembiraan atau setidak-tidaknya optimis.

Pagi tadi ulasan RRI dengan tegas mengkonfirmasi opini gerakan pro demokrasi bahwa bergabungnya Golkar dengan koalisi pimpinan Presiden SBY untuk periode lima tahun mendatang adalah sebuah langkah mundur. Di sini saya tidak ingin membahas soal apakah Golkar sebaiknya tidak mengikuti jejak PDIP yang sudah lebih dahulu bergabung ke Demokrat dan begitu saja melupakan janji membentuk Koalisi Besar yang digaungkannya bersama PDIP, Gerindra dan Hanura saat ramai-ramai pemilu pilpres yang lalu. Yang menjadi pokok perhatian saya tadi pagi adalah adanya kemauan (will) RRI untuk menyuarakan gagasan yang berbeda dari kepentingan politik penguasa negeri ini yang secara mendasar belum tentu baik bagi negeri ini. Sikap independen RRI seperti itu adalah hal yang dulu sangat tidak mungkin terjadi….

Menjelang siang, hati saya tergelitik dengan postingan mengenai layanan penerbangan SUSI AIR dari Polonia Medan ke Silangit di Siborong-borong di salah satu account sahabat FB saya. Sebenarnya saya sudah pernah selintas membaca mengenai perusahaan penerbangan yang dinamai dengan nama pemiliknya yakni Susi Pujiastuti, seorang wanita pengusaha Indonesia yang tidak banyak mempublikasikan dirinya. Tapi ketika seorang Sal Hutahaean, teman di laman FB ini yang kebetulan berasal dari Laguboti, Toba Samosir Sumatera Utara, memposting penerbangan ini tidak pelak membuat intensi perhatian saya terhadap layanan Susi Air ini menjadi tinggi. Foto-foto Sal Hutahaean ketika menaiki pesawat Susi Air di Bandara Silangit Siborong-borong bagi saya cukup provokatif.

susi air Routes - Medan

Selama ini, perjalanan pulang ke kampung mertua di Bakkara atau ke kampung leluhur dari pihak ayah di Samosir dari Medan senantiasa menyisakan kenangan “indah” nan tak terlupakan di sepanjang jalan raya antara Medan hingga Bakkara yang berjarak kurang lebih 420 km. Saya perkirakan sedikitnya 30% dari jalan yang kita lalui antara Medan ke Dolok Sanggul dalam kondisi rusak. Perjalanan itu ditambah lagi dengan sikap supir-supir kendaraan umum (terutama bus) dan truk-truk pembawa logging yang biasanya mendominasi jalanan. Belum lagi jika kondisi cuaca buruk yang bisa menambah bahaya perjalanan yang sangat panjang antara Medan ke Dolok Sanggul dan membuat degup jantung akan berdebar lebih kencang.

Entah kenapa promosi SUSI AIR tidak pernah mendapat perhatian saya selama ini. Postingan Sal Hutahaean mengenai perjalananannya dari bandara Silangit ke Polonia Medan dengan Susi Airlah yang membuka cakrawala saya, bahwa perjalanan ke Samosir atau Tapanuli di hari-hari yang akan datang tidak harus melalui darat. Sudah saatnya beban lalu lintas darat Medan Tapanuli kita kurangi secara bertahap.

Tetapi ada juga beberapa yang membuat hati saya berselimut mendung hari ini. Berita-berita mengenai pelaksanaan Pesta Danau Toba tahun ini umumnya sangat tidak menggembirakan di tengah-tengah kerinduan kita akan adanya sebuah event yang kita didamba-dambakan menjadi “icon” bagi promosi dan pemasaran pariwisata Danau Toba. Anehnya, event sepenting ini bukan hanya gagal menarik minat Presiden RI untuk membukanya, bahkan gagal menarik minat Gubernur dan 8 Bupati/ Walikota yang daerahnya sangat dekat dengan atau berada di sekitar Danau Toba.

Sesungguhnya yang menyedihkan saya bukanlah soal ketidakhadiran Presiden SBY atau Gubernur Sumatera Utara atau para Bupati dan Walikota daerah sekitar Danau Toba. Saya sedih karena orang yang diberi tugas untuk mengorganisir event Pesta Danau Toba rupanya memiliki orientasi yang berbeda dengan harapan saya, yaitu bagaimana membuat Pesta Danau Toba dikunjungi oleh sebanyak mungkin wisatawan dalam dan luar negeri. Bagi saya, kehadiran Presiden RI atau Gubernur SUMUT ke pesta itu penting, tetapi kehadiran turis mancanegara lebih penting. Bukankah, para wisatawan itulah yang akan membeli jasa hotel maupun produk-produk wisata di sekitar Danau Toba lalu sekembalinya ke negeri asal masing-masing akan menceritakan tentang keindahan dan pesona wisata Danau Toba ke teman-temannya yang lain sehingga tergerak untuk datang menjadi wisatawan ke Danau Toba?

Yang saya amati Panitia Pelaksana PDT sudah merubah jadwal pelaksanaan event ini berapa kali sejak awal tahun ini, dengan tujuan mengharapkan kehadiran Presiden RI untuk membukanya. Alhasil setelah beberapa kali dirubah, Presiden dan Gubernur Sumut pun tidak jadi datang juga.

Sebagai seorang yang dilahirkan oleh orang Samosir, saya meyakini bahwa kawasan Danau Toba sesungguhnya “has what it takes to be one of most favorite tourist destinations in Indonesia”. Mungkin bukan the best, yang sudah pasti milik Bali. Paling tidak “the second best”. Danau Toba punya view yang luar biasa indahnya. Punya banyak ragam kebudayaan yang hidup dan menarik di sekelilingnya. Dia juga punya alam yang mempesona untuk banyak kegiatan outdoor…

Pesta Danau Toba sejatinya bisa menjadi icon promosi kebangkitan wisata Danau Toba. Tetapi jika cara kerja panitia hanya untuk mengharapkan kehadiran pejabat-pejabat Indonesia dan menyusun jadwal pelaksanaan sesuai ketersediaan waktu para pejabat tinggi negeri ini, maka bukankah itu berarti kita sedang memasarkan promosi pariwisata kita kepada para pejabat kita sendiri?

Artikel ini pertama kali dimuat di laman Facebook Petrus M. Sitohang tanggal 9 Oktober 2009 dan mendapat tanggapan yang luas dari para pemerhati Pariwisata Danau Toba

Berikut adalah komentar-komentar para pemerhati terhadap masalah ini:

Monang Naipospos
Begitulah kejadian selama pelaksanaan pesta danau toba. Para bupati mengajak staf dan beberapa orang yag dinamai tokoh. Pagaelaran seni juga tidak terlalu menarik wisatawan yg sdh tau sebelumnya apa seni budaya batak itu kebanyakan. Sajian itu dinilai banyak palsunya. Pertandingan olahraga air juga tdk menarik. Cenderung dilakukan saat pesta itu … Read Moresaja. Parapat tdk menarik bila penuh sesak manusia hingga bising. Mungkin tdk disadari bahwa tdk semua orang tertarik hal seperti itu.

Bila panitia mengundang pejabat ilah kehebatan indonesia. Wisatawan jengkel bila perjalanan mereka terganggu, tapi protokoler harus mengganggu. Sajian monoton PD sudah tersebar. Ini tdk disadari. Kemarin pagi saya melintas Parapat menuju siantar, sepi2 saja.

Seharusnya PD ini harus dilakukan masing-masing kabupaten dan berwenang menentukan tempat di wilayahnya. Tentu ada destinasi baru yg difasilitasi. Propinsi hanya melakukan koordinasi penetapan jadwal masing2 kegiatan daerah. Daerah kabupaten pasti akan berkompetisi menyajikan yg terbaik yg menarik wisman. Gubernur wajib share dana PD yg selama ini mereka gunakan sendiri.

Mungkin ini pendapat bodoh yg sering kusuarakan tapi tak sampai atau salah prosedur selama ini.

Bila masing2 daerah melakukan kegiatan menarik wisatawan sy akan sumbang pemikiran untuk Tobasa. Tapi bila hanya mengumpul orang ke Parapat saja, selama ini saya tdk mau, akhirnya dilupakan.

Bila pemkab memfasilitasi masy sadar wisata pasti ada kunjungan, dan ada investor. Tak perlu secara khusus menyisihkan anggaran besar.

Pagelaran seni itu biar dilaksanakan rakyat, pemesintah hanya fasilitator. Itu baru pesta rakyat yg menarik

Di toba dulu ada upacara asean taon dan dipusatkan di tiap parbiusan. Acara ini pengucapan syukur atas limpahan panen raya. Puncaknya di saat purnama penanggalan samisarapurasa, bulannya dari sipahaopat hingga sipahalima. Setelah itu ada gondang naposo. Ada acara maraloalo dgn permainan joting. Apa yg kuusulkan bukan yg baru tapi lama terkubur. Sudikah kita menyajikan yg menjadi tradisi masyarakat? Keengarannya seperti hal baru memang. Kepada beberama etnomusikolog orang asing sdh saya ceritakan. Dan di jurnak mereka sdh menyebut itu dan tdk ditemukan lagi di batak.
Kegiatan yg di Pangururan sempat dipertimbangkan kpd saya. Saya menolak Pastor AB Sinaga menjadi datu parmangmang. Mereka tetap melakukan. Wisatawan menjadi tertanyatanya. Biarsajalah begitu disana. Disini kita harus kapasitasi masyarakat adat.

Hasudungan Rudy Yanto Sitohang
Aktivis pariwisata, penggiat budaya dan pecinta danau toba tidak pernah bosan-bosan mendorong agar pemerintah daerah serius membenahisemua yang berkaitan dengan PDT (langsung dan tidk langsung) dan tidak asal jadi……..kadang-kadang harus mengurut dada…mungkin ke depan kita perlu masuk lebih dalam seperti mengawai penggunaan anggaran yang berkaitan dengan pariwisata, infrasturktur, pelestarian danau toba…….

Sal Hutahaean

Memperbanyak titik tujuan wisata tampaknya memang sangat perlu. Bagi wisatawan, perjalanan medan-parapat yang memakan waktu 3 hingga 4 jam –lihat kiri kanan hanya pohon rambung– adalah pemborosan waktu libur yang luar biasa. Kalau desa-desa di sepanjang jalan itu didorong membenahi tempat wisata kecil2 saja di desa mereka masing-masing, kita… Read More bisa punya belasan daerah wisata dengan suguhan bervariasi yang bisa disinggahi wisatawan sembari menempuh medan-parapat. Dengan begitu perjalanan satu hari penuh pun akan tetap menarik dan tidak terasa sebagai buang2 waktu.

Kalau memungkinkan, kita tidak harus membuat sebuah pesta yang baru, tapi mempromosikan event budaya yang memang sudah ada di masyarakat. Unang ma nian hira imbulu na nilangkophon angka pesta wisata i tu kehidupan sehari2 masyarakat. Saya melihat Jogja sebagai contoh. Mereka menghidupkan tradisi yang memang sudah ada dalam masyarakat dan menjadikannya sebagai suguhan wisata, seperti sekatenan, ziarah makam ke imogiri, dan acara tradisional lain.

Saya kira untuk Toba, event2 tahunan di Hutatinggi adalah salah satu acara yang sangat menarik bahkan jika disajikan apa adanya sekali pun. Menarik bukan hanya bagi wisman tapi juga untuk turis lokal. memang perlu pengorganisasian yang cermat bagaimana agar acara sakral itu tidak hilang makna merosot menjadi acara pertunjukan.

Saya tidak begitu paham event yang ada di kabupaten lain. Teman2 mungkin bisa berbagi informasi.

Nelson Sitohang
Saya turut berduka dengan mentalitas Panitia PD. Panitia menylenggarakan PD tetapi tidak memahami MAKNA/ESENSI seperti yang sudah abang uraikan di atas. Pertanyaannya, apakah mereka tahu maknanya? jawabnya: PASTI TAHU, kalau kita lihat di kerangka acuan (TOR) kegiatan pasti sangat indah dan Tim anggaran manapun yang menguji substansinya pasti akan … Read Moremenyetujui penyeleggaraan PD. Masalahnya adalah mentalitas. Jika orang BATAK TOBAlah yang menjadi panitianya, saya semakin sedih lagi. Dia ibarat orang yang diberikan berlian tapi yang dia tahu itu hanyalah kaca biasa saja. Saya tidak mau komentar tentang respon pejabat terhadap PD, karena bukan pejabat Indonesia namanya kalau mereka sudah Perduli. Panitia mestinya tidak usah mengharapkan harus dibuka oleh Kepala Negara/Kepala Daerah. Tak dibukapun itu secara resmi tetapi, didatangi oleh para turis domestik dan mancanegara karena panitia mampu mengemas PD yang mendorong orang rugi kalo tak datang. Apa sich pentingnya pejabat ada, bukannya tampan, bukannya menarik untuk dilihat, belanjakan uangnyapun belum tentu mau, akomodasi/fasilitas maunya the First Classi, tapi GRATIS.

Ke depan Panitia PD hendaknya orang2 yang memang ingin menjadikan Danau Toba menjadi pusat wisata yang pantas diperhitungkan, jauhi kepanitiaan dari mental-mental PENJILAT karena dia tidak akan berarti apa bagi kemajuan danau toba. Bahkan saya sangsikan kalau mereka/pantia sendiripun tidak mengenal danau toba itu apa. Sungguh disayangkan.

Menyinggung tentang sudah adanya penerbangan dari Polonia ke SIlangit itu sudah bagus dan senang mendengarnya, tetapi apakah tidak perlu dicoba oleh Pemkab TOBASA dan kab sekitarnya mengembangkan akses itu tidak hanya dari Medan tapi mungkin dari Propinsi lain di Sumatera atau dari negara tetangga spt. Malaysia dan Singapura tentunya dengan lebih dahulu mengembangkan kapasitas bandara. Jika itu dimungkinkan maka percepatan Danau Toba sebagai salah satu Tujuan Wisata utama di Indonesia akan lebih cepat dicapai. Siapa yang akan melakukan, saya pikir orang-orang bataklah, tidak usah diharapkan pemerintah, mungkin itu bukan prioritas mereka, bahkan jangan-jangan mencari-cari tempat lain atau membangun tempat tujuan lain ASALKAN BUKAN Danau Toba. Maaf kalau komentar ini agak aneh, tapi saya melihat hal seperti ini, melakukan sesuatu tapi kehilangan makna dan rasa. hehehehehe/./mekkel mahita.

Bachtiar Situmorang

Maaf …kurang ngikutin proses event ini, hanya saja menurut berita rekan dan saudara yang ada disana… kelihatannya pesta danau toba kali ini kurang mendapat respon dari masyarakat.

Mengacu kepada uraian notes ini, sangat disayangkan panitia masih menganut cara2 lama, masih tergantung kepada siapa yang meresmikan, padahal yang paling penting dalam wisata adalah publikasi dan promosi yang luas, sehingga gaungnya terasa.

Bangun Sitohang
Bang, setuju dengan statementnya, maka aku juga heran kenapa PDT kurang menggaung sebagai icon wisata ? apalagi kalau sampai “jajaran” yang dekat kawasan Danau Toba tdk interest dengan event tersebut, itu pertanda ada yang perlu dirajut ulang komunikasi sosial budayanya. Kesan aku ketika keliling provinsi tapanuli (hanya wilayah yang mendukung), … kayaknya kita putra batak sendiri yang harus membangunnya….aku heran pada kemana ahli kehutanan, ahli tataruang, ahli entertain dsb dari bangso kita..kok..sekitar sekitar Danau Toba…begitu-itu aja…kalau membangun Tanah Batak Raya hanya karena kepentingan politik…rusaklah sistem sosial, sistem budaya dan sistem ekonomi di sekitarnya…..

Efendy Naibaho
Kita buat even yg tidak mar-pesta saja-lah, apalagi masih ada saudara2 kita yg terkena musibah gempa.

@kepada semuanya yg sudah mengomentari tulisan pak petrus ini, usul konkret saya, kita rencanakan saja event baru: namanya pagelaran kebudayaan batak, seperti di aceh, pagelaran kebudayaan aceh.

Kita bertemu saja, yg undang pak petrus, bisa di medan atau di pangururan, kita buat proposalnya – panitianya dll dan kita ajukan ke berbagai pihak dan instansi pemerintah.

Saya sebenarnya sudah ikut juga dgn pdt ini di masa gubernur raja inal dan ewp tambunan, terlebih ketika ketuanya pontas pardede dan alm baginda sagala….

Kalau namanya kurang keren, pagelaran kebudayaan batak, kita ganti saja dengan pekan kebudayaan batak. lokasinya bisa pindah2 dan berserak, bukan hanya di parapat, tp bisa juga di tomok-ambarita, tarutung, balige, pakpak, siantar dll.

Albert Gultom
Kita memang selalu optimis Bang… tapi bagaimana caranya supaya yg lain juga bisa optimis ya.. u. mengembangkan potensi wisata Toba Samosir??

Annette Horschmann
@ Petrus: Yup, saya setujuh, kita buat event sendiri. Saya sangat kecewa dengan organisasi PDT 2009, website saja tak bisa diusahakan – thisis the age of communication! Masa tak mungkin dipublish program yang akan ada di Internet / media cetak untuk Pesta yang indah ihi? Sedangkan kami pelaku pariwisata saja tak tahu program? Biar saya paste email saya tadi sama Fritz Bonar Panggabean. Betul betul memalukan!

“Horas Ito,
dari Tuktuk saya bisa sampaikan impression PDT yang sangat memalukan. Pembukaan event ini sangat indah dan “festive” tetapi besoknya sudah mulai tidur PDT. Tamu kami pergi siangan ke open stage, tak ada apa apa. Kami pulang malam dari Siantar, juga tak ada apa apa (Jam 19.00).

Habis martiga tadi siang saya pergi sama Hotto, juga tak ada action. Padahal jadwal yang saya lihat (Bahasa Indonesia cmpur bahasa Batak) sampai 3 hari padat dengan Lomba lomba, Tarian, Musik dll…

Disitu saya telejon Suyono Manurung untuk menegor ttg event yang kebetulan tak ada.
Dia langsung over ke anggota, karena kata dia ” aku juga tak tahu acara apa aja yang ada” Oh, my God… Pailahon! Kata anggota” ya kan, semalam ada Batak opera, kok tak datang ito….” Karena aku baru tahu jam 10ttg Opera ini melalui fb” , jawab aku. Coba google PDT, dapat event 2008… What a shame!…

Malam ini kayanya ada artis, trio amsisi 2000. Tonggam Sirait tak main karena tak ada dana katanya. Tapi penutupan besok sama Gubernur past meriah lagi!

So, Panitia, Polisi, Pemain musik, penari, have fun!!!! Jangan harapkan audience, karena orang sudah merasa tertipu!

Horas

Annette”

James van Ringo
Kaloklah seumpama kegiatan-kegiatan tuk memajukan/menggalakkan kegiatan tak didorong untuk menjadi agenda tahunan yang meriah, yang bukan cuma agenda akal-akalan Pemda SumUt agar rakyat Tapanuli reda emosinya saja, pastilah taraf hidup masy. sekitar OTDW Danau Toba akan sejahtera.

aku teringat dengan sebuah ajang promosi yang diadakan oleh kementrian pariwisata, yang kalok tidak salah ingat kegiatan ini berlangsung di Jakarta dan Di Luar Negeri pada awal tahun yang lalu, DisParDa SumUt tak ikut ambil bagian tuk mempromosikan OTDW Danau Toba.

kalok keg gini doank acara kita ini (berdasarkan banyaknya laporan kekecewaan dari pelaku maupun penggiat pariwisata OTDW Danau Toba) rakyat Tapanuli serta element masyarakat yang peduli dengan OTDW Danau Toba dan insan penggiat pariwisata tuk kemajuan wisata bisa bikin yang lebih meriah dan lebih professional…. Read More

ide yang sangat menarik yang disampaikan amang Effendi Naibaho dan memang sudah saatnya kita sendiri yang memajukan OTDW tercinta kita ini.

Horas Jala Gabe.

Partoba Pangaribuan

KONSEP PDT TAK JELAS!

Peri Turnip

Pembelajaran untuk PDT berikutnya… pemikiran saya tentang pesta danau toba agak berbeda sedikit..

Menurut saya, pesta danau toba lebih di konsep untuk masyarakat sekitar danau toba… isinya tentang pelestarian danau toba… menjaga ekosistem, memasukan unsur budaya, kompetisi dan lain lain… dan yang harus terlibat dengan pesta tersebut … Read Moremestinya anak sekolah dan pemuda… ketika hal ini benar benar terjadi,, danau toba akan tetap terjaga,, pemahaman pemuda dan anak sekolah akan selalu menjaga danau toba.. dan ketika kegiatan ini bagus,, orang luar negeri akan datang sendiri… dan pengaruh pemuda dan anak sekolah tadi jauh lebih besar di banding kehadiran pejabat tertentu.. ini benar ketika kita berpikir untuk jangka panjang

Maxi Acry Deo Datus

Pesta boleh saja bergenderang di seluruh antero jagad tetapi perlu juga kita semua, terutama masyarakat Toba, untuk memperhatikan keindahan danau itu sehingga daya pikatnya tetap menjadi obyek yang patut dibanggakan karena dapat menarik wisatawan baik domistik maupun manca negara untuk datang berkunjung. Keindahan danau Toba akan tetap lestari … Read Moremanakala dari semua pihak untuk ambil peduli dalam pemeliharaan lingkungan di sekitar danau sehingga tidak menimbulkan polusi danau. Dan bukti konkret bahwa danau Toba saat ini sudah dipenuhi dengan tanaman enceng gondok. Dan yang lebih mengerikan lagi meskipun hanya sekilas kami mengamati dari dekat bahwa tingkat polusi sudah mencapai kadar yang memiluhkan karena tak jarang terjadi kotoran dari plastik berseliwerang ke sana sini. Ini patut kita renungkan bersama.

Nelly Br-Torus

Saya tidak ahli dalam bidang politik, tapi setelah … Read Morebeberapa bulan berkecimpung dengan issue2 Tapanuli i sebenarnya tidak harus genius sekali untuk melihat kekurangan2 tapanuli saat ini. Di tapanuli itu begitu banyak kompetisi. Menurut saya kompetisi itu bagus, tapi permaninanya harus bisa mempromosikan hal2/dampak positif. Setelah mengikuti bincang2 dengan Bpk Mangindar Simbolon bulan juli lalu, saya banyak mengambil kesimpulan bahwa jatuhnya wisata atau pembangunan didaerah danau toba itu adalah kurangnya team work diantara kabupaten2 yang berada disekelilingnya. Apa yang tidak disadari adalah bahwa buat ke 7 kabupaten ini Danau Toba adalah jembatan sukses buat semu kabupaten disekitarnya, bukan hanya Samosir. Masalah utama yang perlu dibenahi adalah Transport dan yang saya tidak begitu mengerti adalah, mengapa transport AIR tidak lebih di promosikan lagi dari pada transport darat? Bisa dijamin hamper 100% bahwa transport air sperti Ferry ukuran besar bisa bergerak dari satu sudut Danau Toba ke Sudut yang lain tanpa macet. Tapi ketujuh kabupaten itu terlalu sibuk mengadu jidat, sehingga lupa untuk memperkuat “Team Work” dimana kalau kerja sama antara kabupaten di tanamkan, mungkin hal-hal utama yang menghalangi pembangunan seperti Transport, bisa di tanggulangi. So…istilah “HOTEL” itu masih nempel tebal, sekalipun mereka itu adalah pemimpin.

Bayangkan saja, seandainya saja Tapanuli itu, terutama kabupatan yang memiliki akses dengan wilayah berpotensi tinggi seperti danau Toba bisa mengadopsi system yang di pakaki European Union, ngga perduli siapa yang terkaya, dan siapa yang terbelakang….semua anggotanya bisa saling menerima dan mengerti bahwa Team Work adalah salah satu kunci … Read Moredalam menanggulangi kekuarangan apapun. Bayangkanan seandainya Semua kabuputan di seputar Danau Toba itu bisa bersatu membentu team “Tapanuli United”, tentunya sendainyapun ada keinginan2 untuk membentuk ProTap suatu saat nanti, masyarakat atau pemimpin diatas kabupaten sudah bisa melihat “Reason for wanting to form ProTap”, reason dimana suatau saat nanti Tapanuli bisa menunjukkan ke dunia luar Tapanuli bahwa mereka bisa maju dan bersatu independently.

Pesta Danau Toba????? Come on….it’s joke. Lack of planning, lack of financial support, lack of confident, lack of mission, no visioin….is really a joke. Istilah orang Batak bilang “Batole ma da, as alma naung binaen, dari pada soadong”

Idris Pasaribu
Tak usah ditanya, kemana aku pergi. Pesta itu entah untuk siapa, tak tau lah aku, bah. Yang ponting ado katonyo pesta, adolah. Tak ado pun tak mangapo tu ado, bah. Mari kita berbuat sajolah. Yang kocik-kocik pun tak mangapolah. Yang poting, tidak uang dari pamarentah.

Limantina Sihaloho
PDT mirip nasibnya dengan Pesta Rondang Bintang. Mungkin kita perlu belajar dari Malaysia bagaimana mengelola turisme? Soale, turis manca di Malaysia kok banyak kali dibandingkan dengan Indonesia. Kalau pergi ke Bukit Bintang, maaak, banyak kali bule di sana. Sirik awak melihat soale di Sumut di daerah-daerah yang cantik macam Danau Toba kok masih … Read Moresikik kali? Saya kira kerja Malaysia lebih oke dan terkoodinir soal turisme; wong mereka mau jadi nomor satu…! Cinta dan “benci” Malaysia sekaligus, hehe…!

Ferry W Nainggolan
Kemarin aku lihat vidio acara PDT, lagu dangdut yg dimainkan. Halahh…Surle lah dalam hatiku. Setuju dgn konsep Pesta rakyat dan materi acara seperti Pesta rakyat ini yg harus dikembangkan baik isi dan filosofisnya. Dari berita2 yg ada, nampaknya PDT tdk terlalu optimal utk mempromosikan Danau toba, terkesan asal jadi( asalma adong). Rap ma hita utk mensinergikan pemikiran dan kritik utk kemajuan. Horas!

James M Purba Tanjung
Horas lae, begini..ada teman yg menawarkan program “Mulak Tu Huta” Desember nanti. Maksudnya pulang dengan terorganisir karena ada nilai tambahnya, seperti event pentas musik, seminar, menanam pohon dsb. Mata rantai ekonomi mkn bisa lebih berwarna, mulai dari travel, seni, produk lokal dsb. Jadi yg mau pulang bisa lebih efisien segalanya….:)

Don Bosco Silalahi
Gak bisa komentar bere…soalnya gak paham sasarannya dan gak mengetahui realita pencapaian sasaran tersebut. Yang saya tau… hampir semua pantai-pantai danau toba sudah saya kunjungi dari masa kecil yang masih terekam dalam ingatan hingga di masa tua ini.. dan saya bandingkan dengan bali misalnya… kandungan budayanya hampir sama menariknya, kandungan alamnya… bali kalah

Fritz Bonar Panggabean
Horas lae! Menarik mengikuti diskusi di notes lae mengenai pelaks PDT yg baru usai. Senang bhw ternyata masih banyak juga teman2 yg concern dan ‘geram’ dgn penyelenggaraan PDT yg ‘amburadul’ dan terkesan ‘pokoknya jadi’.

Atas ajakan dari BudPar Sumut, teman2 SLTC akhir bulan ini akan berpartisipasi dlm sebuah event bertajuk “Sumut EXPO” yg akan diselenggarakan di Balai Kartini, Jakarta. Salah satu acara di dlm event tsb adalah “Forum Danau Toba” yg digagas oleh BKPEKDT (Badan Koord Pengelolaan Ekosistem DT) dan BLH Sumut. Mumpung masih hangat dan baru usai, kami ingin mengangkat issue “Pesta Danau Toba” di dalam forum tsb. Atas perkenaan dari lae dan teman2 yg sdh posting di dalam notes ini, ijinkan sy utk mengutip bbrp komentar dari teman2 utk dibawa ke dalam forum tsb.

Sy kira jk kita semua konsisten utk mengawal issue ini, mk ada harapan akan penyelenggaraan PDT yg lebih profesional dan memiliki impact pada upaya promosi parawisata SUMUT secara umum dan DT secara khusus. … Read More

Dengan menggandeng bbrp perusahaan swasta sbg sponsor sy kira dana bukan menjadi masalah utama; yg penting bagi sponsor adalah jumlah ‘crowd’ dan ‘image’ yg terbangun dari keikutsertaan mrk dlm event PDT; dgn proposal yg jelas dan cara kerja yg prof, sponsorship dari perusahaan2 TELCO yg besar mestinya sangat mungkin utk didapat. Kalau memang pemerintah pusat tdk support ya biar saja swasta jalan sendiri bergandengan dgn PemProv dan Pemda.

Merdi Sihombing
SANTABI…utk semua teman “kami berharap restu dari anda semua,dengan segala kerendahan hati.pada november yang akan datang ,kami mencoba mengemas sebuah event yg mungkin sudah sering dilakukan oleh siapapun.Ritual perkawin
an adat Batak yg kami konsepkan sebagai acara konservasi Budaya dgn mengajak teman2x kami dari Jakarta sebagai tamu VVIP (beberapa org2x penting & para expatriat) yg sgt perduli dgn budaya & pariwisata.

Mungkin selama ini kita sudah melupakan warisan budaya leluhur atau kita sengaja melupakannya.Seperti dgn mempelai wanita yg dgn bangganya membuang sanggul TIMPUS yg begitu klasik dgn hiasan BANE-BANE ditambah dgn tusuk sanggul GONDANG-GONDANG ygdiganti dgn sanggul SUNGGAR JAWA berhiaskan bunga melati layaknya ratu pantai selatan.BAJU KURUNG yg mengandung makna yg dalam diganti dgn kebaya renda yg diadopsi dr cara berpakaian org Eropa.Belum lagi dgn mendewakan SONGKET PALEMBANG,

Padahal saat ini MERDI SIHOMBING sdh berhasil membuat sebuah revolusi thd kain tenun kebanggan Batak dgn menggunakan alat tenun PALEMBANG,benang sutera yg dikerjakan oleh para partonun di SAMOSIR dgn motif2x Batak yg begitu khas serta luar biasa indahnya dgn menggunakan pewarnaan alam warisan budaya leluhur Batak spt SALAON,BANGKUDU dll.Demikian jg dgn mempelai lelaki yg mengadopsi ikat kepala MELAYU,head dress yg disebut org Batak dgn nama TALI-TALI yg begitu mencengangkan setiap kami demonstrasikan dikancah dunia Internasional terancam punah.Kami berharap event ini menjadi kajian dimasa yg akan datang skaligus jg inspiring bagi siapapun.

Acara ini juga sebagai bentuk kepedulian kami thd kondisi pariwisata di sekitar Danau Toba,agar dunia bisa kembali melirik dan pastinya datang sehingga akhirnya penduduk yg ada di bona pasogit merasakan dampaknya bagi mereka.
Kami membuat paket tour yg menjual volcano sbg yg utama ditambah dgn kekayaan warisan budaya spt tari2xan,textil,arsitektur,musik serta nyanyian,masakan khas Batak yg sdh disesuaikan dgn rasa internasional,dengan servis yg tinggi spt hotel bintang (JW.MARRIOT MEDAN, SINABUNG BRASTAGI, CAROLINA/SILINTONG/TOLEDO/TABO di SAMOSIR, RESTORAN GARUDA MEDAN,ISTANA PARAPAT,) hiburan gondang anak2x yg berumur 9-13 thn, MARSADA, TOR2x Anak2x SMP SAMOSIR yg cukup dilatih utk kepentingan khalayak luas,BOAT CRUISE sembari menikmati sunset diatas Danau Toba.mengunjungi tempat2 yg begitu menakjubkan spt senta kerajinan,museum,melihat atraksi budaya serta turut mempelajarinya).

Harapan kedepan, biarlah ini merupakan langkah awal dari kami berbuat thd hal2 yg realistis untuk membangun kembali budaya kita/Batak yg sudah banyak ter erosi oleh zaman.Kami sadar langkah kecil ini mungkin hanya spt menggarami air laut,tp lebih baik berbuat dari pada tidak sama sekali walaupun sgt berat utk mewujudkan impi tsb.

MOHON DUKUNGAN DOA…KARENA KEKUATAN DOA TIADA YG BISA MENANDINGINYA…

HORAS

About these ads

One thought on “PESTA DANAU TOBA UNTUK SIAPA?

  1. Lala

    Setiap tahun pesta danau toba di selenggarakan.. Banyak Dana pengeluaran untuk merayakan pesta danau toba ,tapi hasil nya tidak pernah memuaskan ,Seandainya Dana itu Di Kumpul Untuk Membangun Rumah sakit di samosir dengan Bantuan Pemerintah ,dan dokter dokter specialist di kirim bekerja di situ pasti bisa menyelamatkan nyawa ratusan orang.mereka tidak repot jauh jauh berobat ke medan-siantar yang jarak tempuh nya memakan waktu 6 jam.
    Thinking About this first . Gak usah repot repot menyelenggarakan festival tiap tahun.banyak masyarakat di samosir dan turis kesulitan mendapat pertolongan saat mereka kecelakaan atau sakit.Nama Indonesia Akan semakin buruk ,ketika warga asing mendengar warga nya meninggal di samosir karena kecelakaan dan kurang nya fasilitas kesehatan di samosir. Mereka pun Akan takut berkunjung ke samosir. Dan ini Akan mengurangi pemasukan pendapatan Negara .On ma molo manurut au .

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s