HUBUNGAN SITOHANG DENGAN SITUMORANG DAN SIPITU AMA

 

SITOHANG adalah salah satu marga yang turun dari seorang leluhur yang dikenal dengan nama Ompu Tuan SITUMORANG. Marga-marga lain yang lahir dari Op. Tuan Situmorang adalah Situmorang sendiri, Siringo-ringo dan Sitohang. Op. Tuan Situmorang adalah anak laki-laki kedua dari ketujuh anak Si Raja Lontung.

Op. Tuan Situmorang memiliki dua orang anak yaitu: Panoparaja dan Op. Pangaribuan. Panopa Raja memiliki dua anak yaitu Op. Niambolas dan Parhujobung. Sedangkan Op. Pangaribuan hanya memiliki seorang anak yaitu Raja Babiat. Op. Niambolas memiliki dua anak yaitu Lumban Pande dan Lumban Nahor. Parhujobung memiliki dua anak yaitu Suhutnihuta dan Tuan Ringo (Siringo-ringo). Sedangkan Raja Babiat memiliki tiga orang anak yaitu: Dari Mangambat (Sitohang Uruk), Raja Itubungna (Sitohang Tonga-tonga) dan Op. Bonanionan (Sitohang Toruan).

Ompu tuan SItumorang kepada ketujuh cicitnya Lumban Pande, Lumban Nahor, Suhutnihuta (ketiganya hingga saat ini tetap menggunakan marga SITUMORANG), Siringo-ringo dan ketiga saudaranya yang lain Dori Mangambat, Raja Itubungna dan Ompu Bonanionan (ketiga yang terakhir ini umumnya saat ini menggunakan marga SITOHANG) berpesan agar keturunan ketujuh cicitnya itu dipanggil dengan pomparan ni “SIPITU AMA”.

Op. Tuan Situmorang selanjutnya berpesan juga kepada ketujuh cicitnya itu agar mereka semua memperlakukan anak yang lain sebagai anak diri sendiri: “Sisada lulu di anak, sisada lulu diboru” . Dan bahwa keturunan mereka bertujuh tidak boleh saling menikah satu sama lain sampai akhir zaman. Ketujuh cicit Op. Tuan Situmorang tadi mengiyakan dan menerima pesannya sebagai padan (janji).

Bagi orang Batak janji dianggap lebih tinggi tingkatnya dari hukum tertulis. Seperti umpama Batak berikut ini:

Tanggo uratni bulung

tanggoan uratni hotang

Tanggo nidok ni uhum

tanggoan nidokni padan

Janji ketujuh cicit Op. Tuan Situmorang inilah yang hingga saat ini dipegang teguh oleh keturunan mereka. Namun seringkali karena penafsiran yang berbeda-beda, keturunan ketujuh leluhur ini sering mengalami perselisihan mengenai bagaimana mereka seharusnya melakukan kegiatan adat dan perkumpulan.

Keturunan keempat cicit yang terdahulu (dari satu nenek yang namanya Parhujobung) menganggap bahwa semua kegiatan adat keturunan ketujuh cicit Op. Tuan Situmorang tadi harus menggunakan nama yang satu yaitu “Pomparan ni Op. Tuan Situmorang Sipitu Ama” yang seringkali disingkat menjadi Pomparan ni Sipitu Ama atau seringkali cuma disebut Punguan SITUMORANG. Tidak boleh ada acara adat atau perkumpulan selain yang menggunakan nama Op. Tuan SItumorang dan harus dihadiri oleh keturunan ketujuh cicit Op. Tuan Situmorang. Malah ada pula sebagian Situmorang yang menganggap SITOHANG bukanlah marga.

Namun keturunan tiga cicit Op. Tuan Situmorang yang terakhir (dari satu nenek Op. Pangaribuan) merasa mereka sudah resmi diberi marga sendiri oleh Op. Tuan Situmorang di depat raja-raja adat pada masanya yaitu marga SITOHANG sehingga merasa wajib untuk memajukan nama marga itu sendiri. Keturunan SITOHANG tetap merasa menghormati dan terikat dengan padan leluhur, tetapi merasa berhak untuk mengatur sendiri rumah tangganya dan mengurus perkumpulan marga SITOHANG. Lagipula keturunan marga SITOHANG sering kecewa karena nama perkumpulan SIPITUA AMA kadang-kadang diubah menjadi hanya perkumpulan SITUMORANG saja.

Sitohang merasa nama perkumpualn seharusnya tetap POMPARAN NI OMPU TUAN SITUMORANG SIPITU AMA atau kalau disingkat SIPITUA AMA saja. Kalau punguan dinamai SITUMORANG saja maka SITOHANG merasa tidak perlu ikut karena SITOHANG adalah marga sendiri seperti halnya SITUMORANG.

Perbedaan padangan seperti itu seringkali terjadi baik saat berlangsungnya acara adat maupun di luar acara adat. Seperti yang dialami dan dituliskan oleh Ir. Nimrod Sitohang (Ama Naomi) dari Batam berikut ini. 

Suatu pagi Maret tahun 2007 jam 8.00 WIB.

 

Saya berangkat menuju simpang Kapling Lama Batu Aji mau menggantungkan spanduk Pesta Bona Taon SITOHANG di Batam. Kebetulan Pesta Bona Taon Sitohang diadakan di gedung aula gereja HKI Batu Aji lama Batam.

 

Begitu tali naik, datang seorang bapak, sepertinya orang kantoran PNS, dan dia bertanya dengan sinisnya, “Memang Sitohang udah punya pesta sendiri ya?”

 

Dengan cuek sambil asik mengikat tali berikutnya saya katakan, “Ya…amang..ini baru perdana di Batam.”

 

“Kenapa tidak bergabung sama Situmorang?” kata orang tersebut bertanya lagi. Ini pertanyaannya yang kedua.

 

“Sitohang tetap koq ikut di Situmorang…dan saya sendiri ikut kasih toktok ripe,” jawab saya.

 

Lalu orang tersebut melanjutkan pertanyaan yang ketiga, “Seharusnya jangan bikin pesta bona taon sendiri.”

 

Lalu saya jawab “Di pesta bona taon Situmorang, yang jadi subjeknya hanya Situmorang, yang ini subjeknya Sitohang…”

 

Lalu orang tersebut bertanya lagi,”Kamu Sitohang dari mana?”

 

Saya jawab,” Baringin Parlilitan.”

 

Akhirnya pertemuan kami yang tidak direncanakan itu bubar begitu saja dan tanpa ada sapa sapaan lagi.

 

 

Maret 2008, jam 19.00 WIB.

 

Saya kembali kebagian tugas menggantung spanduk acara Pesta Bona Taon Punguan Sitohang dohot Boruna se Batam tahun 2008 di Cafe Martabe Batu Aji.

 

Kebetulan lagi nyari tali plastik untuk ngikat, dan pergi ke kedai dekat Cafe untuk membeli tali.

 

Saya : “Horas amang.. mau beli tali.” Saya memanggil amang kepada pemilik kedai itu sebab kelihatannya bapak itu sudah tua.

 

Yang punya kedai: “Boasa maramang ho tuahu?” orang tua tersebut bertanya dengan nada emosi..(artinya: kenapa kamu panggil bapak kepada saya?)

 

Saya : “Lho…?” sambil merasa aneh, “Koq nanya gitu amang? Jadi saya harus manggil apa?”

 

Pemilik kedai: “Marga aha ho?” (Kamu marga apa).

 

Saya: “Sitohang. kalau bapak?”

 

Pemilik kedai: “Sipituama!”

 

Saya: “Sipituama na papigahon hamu?” (Anda sipitu ama yang keberapa?)

 

Pemilik kedai: “Dang porlu botoonmu!” (Kamu tidak perlu tahu!)

 

Saya:  “Kenapa?”

 

Pemilik kedai: “DANG PORLU !!!”, katanya dengan suara tinggi sambil meninggalkan saya dan masuk ke dalam rumahnya.

 

Sambil masuk ke dalam rumahnya dan sya mengejarnya sambil bertanya, “Marga aha do huroha ho bapa tua sian sipitu ama i?” (Marga rupaya bapak tua dari Sipitu Ama itu?)

 

Pemilik kedai dengan mata merah dan suara tinggi berkata, “Dang adong marga Sitohang!.” (Tidak ada marga Sitohang).

 

Saya: “Itu salah..dan saya tidak terima.”

 

Pemilik kedai: “Asa diboto ho..Situmorang do sude termasuk Siringo.” (Supaya kamu tahu semua itu adalah Situmorang termasuk Siringo-ringo).

 

Saya : “Sitohang itu marga.”

 

Ditengah emosi kami berdua akhirnya istrinya keluar dari dapur.

 

Saya : “Horas omak tua. Sitohang do au.” (Horas ibu tua, saya Sitohang)

 

Ibu tua: “Sarupa doi, alai dokma Situmorang nian..” (Itu sama saja. Tapi katakanlah SItumorang)

 

Saya: “Ya sudah,, saya Sitohang dan saya Situmorang. Boru aha do omak tua?” (Ibu tua puteri marga apa?)

 

Ibu tua: “Boru Sinaga.” (Puteri marga Sinaga)

 

Saya: “Isteriku juga boru Sinaga Bonor.”

 

Ibu tua; “Sarupa ma tu ahu” (Sama dengan saya)

 

Akhirnya saya menyalami bapak tua itu dan saya katakan,”Horas pariban..ro hamu tu pesta bona ton ni Sinaga da. Kebetulan adong uddangan di au, hu taruhon pe sogot.” (Horas saudaraku, datanglah ke pesta buka tahun marga Sinaga ya. Kebetulan undangannya ada sama saya. Besok akan saya antar.”

 

Pemilik kedai: “Adong do di au.” (Saya punya juga)

 

Akhirnya kami berpelukan dan suasana berubah menjadi mengharukan….

 

Saya: “Mauliate ma..” (Terimakasih)

 

Ibu tua: “Nion ma baen tali na, “ katanya sambil memberi tali plastik yang sangat bagus….(Inilah buat talinya)

 

63 thoughts on “HUBUNGAN SITOHANG DENGAN SITUMORANG DAN SIPITU AMA

  1. jonner situmorang

    Horas Amang uda. Au jonner SITUMORANG, marhuta di Bogor. Nang pe ndang marsitandaan dope hita, Uhumna boido jouonku Ho amang uda, manang anggi doli, alana au pomparan ni Ompu Tuan Situmorang si no. 1 (Lumban Pande, garis keturunan no. 17). Anggo umurhu muda dope, kelahiran 1963, di T. Tinggi. Au tertarik manjaha Blog muna on, jala mangalean pandapot susuai parbinotoanku. Anggi Doli na burju. Tung mansai unik do realita Panoppa ni TUHAN ta di hita popmparan ni TUAN SITUMORANG. Hita na Pitu mulai LUMBAN PANDE, LUMBAN NAHOR, SUHUT NIHUTA, TUAN RINGO, DORI MANGAMBAT, RAJA ITUBUNGNA dohot BONA NI ONAN. Ndang takkas itanda akka Amangta na-7 on Bapak kandungna (Bapak biologisna), ima Op. NI AMBOLAS, PARHUJOBUNG, dan RAJA BABITA songoni nang Oppung Biologisna. PARIR JALA PAET. Alana manurut cerita ni na tua-tua atta, akka pese-pese dope NA-7 on saat i. Pangidoan marhite-hite tangiang tu TUHANI, Unang ma nian Iba mananom gelleng niba, apalagi pahoppu niba. Alai na terjadi di Silsilahta OPPUTTA NA PARJOLO ‘TUAN SITUMORANG’ IBA na manaruhon sude gellengna kandung dohot pahoppuna kandung atas panggilan TUHAN. Au kadang sering do hurenungkohon kejadian on. Memang mirip kisah nabi ‘YAKUB” do parngoluon ni TUAN SITUMORANG on, manurut Au. Kejadian nyata ini mengantar Opputta TUAN SITUMORANG yang saat itu kita yakin berumur sudah sngat tua dan renta (3 generasi di atas na-7), mengambil satu sikap yang sangat terpuji. Di papangu ma hita NA-7, di pagodang dengan kerendahan diri dan hati. Maha Besar do TUHAN tai, magodang jala sehat-sehat, jala mar pinompar na godang do Ama na-7 i. Jala ndung di boto na-7 on ROHA, di Pasahat OPPU TUAN SITUMORANG ma ‘PADAN” i, songon na disurathon mi. KISAH NYATA PARDALANAN NI NGOLU, PANGALAHO, KERENDAHAN HATI dan DIRI NI OP. TUAN SITUMORANG (Oppung taon), sangat terpuji dan terkenal di sejarah ni halak Batak. Ala na i, gabe targoar ma OPPU TAI ‘ NA BONGGAL. Mari kita tanya diri kita, generasi sekarang yang memiliki tetesan darah OP. TUAN SITUMORANG, Adong do pe pangalaho on nempel di diri kita?????.
    Anggi Doli Na burju, saat ini kita marga kita ini cendrung mengalami krisis nilai-nilai yang mulai menjauh dari harapan, keinginan (VISI DAN MISI) dari OP. TUAN SITUMORANG. Populasi dari marga kita terutama di kota-kota besar makin egosentris. Di Jakarta misalna, maaf saya mengkritik diri sendiri ini (alana dirikku do i sude), Punguan nungnga malah cendrung margoar masing-masing sian annakna na-7 on, bahkan nungnga pocah muse sahat tu goar na dito ni NA-7 on. Hati saya sangat sedih dan miris melihat ini. anggota punguan kami yang di Bogor juga di ela-ela asa masuk jadi anggota punguan na parpudion. Manurut au, HAK ASASI ni hita sude do nian. Alai molo prinsip di au mari kita RENUNGKAN SEJARAH NI HITA. VISI DOHOT MISI DI HITA, MARI KITA HORMATI ORANG TUA KITA ‘OP. TUAN SITUMORANG’. Alana nungnga di PADANTON OPPUTTAI ‘NA GABE ANAKNA HITA NA-7′. NAENG MA NIAN HITA SONGON SADA POHON NA ADONG DAKKA NA -7. MUSTAHIL KALAU HANYA SALAH SATU CABANG NYA SUBUR MENGHASILKAN PARBUE NA DENGGAN. ALAI IKKON TETAP ‘SADA’. SADA ROHA, SA PUNGUAN, SADA PAKKILALAAN DI LASNIROHA & ARSAK NI ROHA, SADA URDOK TU DOLOK TU TORUAN, ASA DAPOT NA NI LULUAN, JALA JUMPANG NA DIJALAHAN. PATOTAHON PODA NI OPPUNGTA SANGAT RELEVAN DAN SENAFAS DENGAN FIRMAN TUHAN. UHUM NI OPPUTTA DIPERKUAT DI UHUM NI TUHAN (Sejarah mencatat, AJARAN KRISTEN DATANG BELAKANGAN), ima PATIK PALIMA HON. JUGA GALATIA 6. Berbunyi “HORMATILAH ORANG TUA MU DIDALAM TUHAN (AYAT 1). MOLO BOI TAULAHON I, KITA DI JANJIKAN DAPAT UPAH di Ayat 2. ASA SONANG NGOLUM JALA GANJANG UMURMU. HALELUYA…

    ANGGI DOLI NA BURJU (AI SUDE DO POMPARAN NI OPPUTTA NA BURJU JALA MARROHA NA TORANG/SITUMORANG, Perkembangan ni pomparan ni opputta memang akan selalu di ELA-ELA si bolis parjahat i. Apala sude do di hita NA-7 adong gangguan. Sada gait majo hodok sian PENASEHAT PUNGUAN NI OP. TUAN SITUMORANG SI-7 AMA jakarta mandok sude hita NA-7 “AKKA SISAKKUI SAHITNA’ .

    Alai di Hamu anggi doli nami SITUMORANG NO.5, 6, DHT 7, pe nungnga marbeda pendapat, jala cendrung ke 2 arah yg berbeda. Songon di Bogor, Sebagai pengurus saya berprinsip dan memohon bantuan TUHAN asa “Sude hita pomparan ni Opputa Op. Tuan SITUMORANG dari no. 1-7 tetap sada, Basa do TUHAN i, 3 tahun yang lalu dipasaut do sakkap nami marpesta “JUBELIUM 25 TAHUN” dan dihadiri semua pomparan ni opputta i.

    Rapat besar di JABODETABEK juga sudah dirancang untuk mengakomodir SADA DOS NIROHA DI HITA. ACARA INI JUGA DI LANJUT MUBES DI MEDAN. MARI KITA DUKUNG BERSAMA DEMI KESETAUAN, KELESTARIAN DAN KESELAMATAN KITA BERSAMA. HORASSSSSSSSSSSSSS…..

    Reply
  2. Nimrod Sitohang {A.Naomi}

    horas amang,. mauliate ma naung diulahon hamu di bogor pesta jubileum oppu tuan situmorang si 7 ama, dan semoga visi dan misi punguan kita di bogor bisa di contoh oleh punguan punguan marga kita di seantero nusantara ini.

    tung miris do roha tutu, taon tu taon sai kabar jala barita na hurang tabo begeon antara pinoppar ni si opputa si7ama,. jala dang binoto aha sikkam ma barbar, manang penyebabna. loja iba mambahas na so sibahason, hape akka marga naasing ngamabbahas planet lain be, jala lam akka na asing na porlu sibahason.

    marga lain sudah melangkah 1000 langkah ke depan, tapi marga kita malah mundur 2000 langkah, suku lain semakin excellent, namun marga kita masih dalam rangka padenggatton parhuddulan, partuturan, tarombo.

    ia ahu amang sitohang do, jala dang adong maksud di au pribadi na mandok au dang pinoppar ni upputa oppu tuan situmorang. alai nungga di tonahon oppung na hinan tu au, ho marga sitohang do da!, jala situmorang hahatta mai.

    molo tung pe adong nuaeng muncul punguan ni sitohang, ba las ma rohamu hahanami manjalo i, ai ikkon bersedia do hamu hahanami laho pajaehon hami. asa lam tung marbungaran pinoppar ni opputa situmorang i.

    Horas jala tabe

    [a. naomi] Batam

    Reply
  3. Parhobas

    Mauliate di haharorom tu bagas ta on hahang doli na uli lagu.
    Toho jala uli ma sude na nidok mi.

    Pos roham hahadoli. Dang adong rohanami anggi dolim mose sian padan ni opputta na 7 i. Mangkirim do rohanami na ikkon rap do hita udur tu dolok tu toruan mangulahon saganup aha ma na ringkot na laho pasangaphon goar ni oppunta na marsangap na martua jala na bonggal.

    Songon umpasa ni opputa sijolo-jolo tubu do dohononhu:

    Pauk ni Situmorang
    Pauk mangula juma
    Molo burju diboan
    Saur mai matua

    Pitu lombu jonggi
    Parhalunghalung hotang
    Piga soara luluan soara usoan
    LUMBANPANDE ma pandapotan

    Reply
  4. Benhard Sitohang

    waduh, menarik juga pembahasan dan pendapat ini …… dan saya ingin juga menyampaikan pendapat, tetapi dalam bahasa Indonesia saja ya….., dalam rangka mencari kebenaran… yang pada akhirnya akan dipedomani sendiri maupun bersama.

    Dari pembahasan sejarah OT.Situmorang, saya menyimpulkan bahwa intinya ada 1 (padan) : Cicitnya yang 7 dianggap / diangkat jadi anak, marhaha maranggi, sisada ualoan, sisada anak sada boru, naso jadi marsialapan. Hal ini saya kira bukan hal aneh, dan hal seperti inilah yang tetap kita pertahankan sampai dengan saat ini, termasuk juga di keluarga yang paling kecil.

    Secara umum, sepanjang yang saya amati, tidak ada persoalan untuk implementasi padan di atas. Semuasaling menghormati, dan saling memahami, dan berperilaku sebagaimana layaknya na marhaha-maranggi ya.. Kecuali memang, ada beberapa kejadian yang diluar kendali kita : ada Sitohang bersistri br. Situmorang, ada Siringo-ringo beristri Rumapea.. dst… (ini saya anggap pengecualian, apakah sebagai dampak dari kekurang tahuan, ataukan sebagai dampak dari alasan lain).

    Kalaupun ada / timbul persoalan pada beberapa kesempatan (berakibat pada hal2 yang tidak diinginkan, seperti ualon di Jakarta misalnya), sepanjang yang saya amati, adalah karena masalah penyebutan / pemanggilan. Situmorang meminta agar semua kita disebut sebagai marga Situmorang. Sementara Sitohang mengharapkan, agar marga Sitohang juga disebut, karena marga Sitohang bukan marga Situmorang, dan sitohang adalah marga.

    Berangkat dari persoalan ini, akhirnya timbullah dampak lain yang negatif, ulaon pisah, dlll. yang memang sangat disayangkan. Tetapi perlu kita simak bersama, masing2 punya ulaon sendiri bukan pangkal persoalan, tetapi pangkalnya adalah perbedaan pendapat dalam hal penyebutan. Jadi, kalau kita ingin membahas persoalan, sebaiknya mari kita bahas persoalan pokok, nanti persoalan lanjutan akan selesai dengan sendirinya, asalh masalah pokok dapat diselesaikan.

    Saya tidak mengetahui bagaimana persisnya kejadian dan faktanya. beberapa hal saya ketahui, adalah dari turi-turian / cerita generasi pendahulu. Saya yakin Saudaraku sekalian juga demikian…. kita semua mengetahui dari turi-turian, dan sampai dengan saat ini belum kita lihat bukti atas kebenaran semua cerita ini secara formal. Walaupun demikian, bukan berarti turi-turian yang kita dapatkan itu “tidak benar”..

    Kalau saya tidak salah menyimak, sebenarnya makna yang ada dari turi-turian itu adalah sbb. :

    1. 7 cicit diangkat jadi anak, dan sepakat / disepekati (berdasarkan padan) menjadi na marhaha-maranggi (seperti halnya haha anggi kandung), sisada anak, sisada boru, sisada ulaon, naso jadi marsialapan.
    2. Disebut sebagai Pomparan ni Ompu Tuan Situmorang, atau juga disebut sebagai Sipitu Ama (SI7AMA).

    Tetapi, saya tidak pernah mendengar, kalau ada bagian dari padan itu yang menyebutkan : Semuanya menjadi marga SITUMORANG.

    Nah, justru yang terkahir inilah yang meniadi masalah, dan menjadi perdebatan yang berdampak pada perbedaan pendapat.

    Pikiran saya, kalau memang tidak ada dalam padan itu yang mengatakan bahwa semuanya menjadi marga situmorang, artinya masing-masing akan tetap dengan marganya : Situmorang, Siringo-ringo, dan Sitohang. Jika sekiranya diantara kita mengakui akan marga ini, saya pikir tidak akan terjadi masalah.

    Kalau saya coba lakukan simulasi (ekstensi linier) berdasarkan kebiasaan, memang kurang masuk akal kalau sampai dalam padan itu disebut semuanya menjadi marga Situmorang. Karena pada pangkalnya, marga itu adalah nama, seperti nama Situmorang, dan bahkan nama di marga lain (kalau menggunakan apa yang umum di suku lain.. ada penyebutan … bin ayah, atau …binti ibu). Jadi, saya kira pada saat ini belum dikenal marga, yang dikenal adalah nama. Tentunya tidak masuk akal kalau semuanya pinomparnya harus ganti nama ya.

    Yang saya tidak ketahui (mungkin juga kita sekalian), mengapa pada saat tertentu, nama ortu dijadikan marga, sedangkan berikutnya tidak lagi.

    Tentang adanya ulaon yang terpisah (tidak melibatkan semua “pinompar ni Ompu Tuan Situmorang”, atau “Pinompar ni Sipti Ama”, seperti yang ada di Batam misalnya.), saya kira itu tidak masalah ya.. syah2 saja. apakah tidak dimungkinkan lagi berkumpul, berpesta, dll. untuk sekelompok orang yang saling menyepakati ????.

    Sebagai contoh, di berbagai tempat ada yang namanya punguan satu Ompu (misalnya di keluarga saya, tetap ada perkumpulan / ulaon dari Pomparan ni Appangadum [Sitohang]. Bahkan saya sendiri pernah mengorganisir di Bandung, pesta boan taon “Pomparan ni Raja Ihutan dari palipi [Sitohang]“. Apaka itu tidak boleh / syah, karena tidak melibatkan saudara yang lain ? (bahkan jangankan melibatkan Situmorang dan Siringo-ringo, pesta bona taon yang saya sebutg, hanya mengundang semua orang / pomparan dari 3 generasi di atas saya).

    Saya yakin, tidak ada satu pun dari antara kita yang mengatakan bahwa ualoan par Ompu-Ompu itu tidak syah, dan tidak boleh. Jangankan tidak setuju, bahkan kita juga mengikutinya.

    Jadi, saya pikir persoalan yang ada bukan masalah ulaon sendiri atau tidak, bukan juga kita tidak menjalankan atau tidak setuju dengan apa yang disebut dalam padan itu. Yang jadi persoalan hanya 1, yaitu penyebutan / pengakuan atas marga.

    Kalau saya sendiri berpendirian bahwa :
    1. Saya adalah marga SITOHANG [uruk] (walaupun saya tidak tahu mengapa SITOHANG itu jadi marga, seperti halnya SITUMORANG, SIRINGO-RINGO. dan marga lain yang ada di Batak).
    2. Saya adalah Pomparan Ompu Tuan Situmorang. Juga tidak salah kalau saya sebut saya adalah Pomparan Raja Lontung, Pomparan Raja Batak.. dst.).
    3. Saya adalah Pomparan Sipitu Ama
    4. Situmorang LP, LN, dan SH, serta siringo-ringo adalah haha parhundul saya.
    5. SITOHANG [uruk] adalah salah satu anak dari Ompu Tuan Situmorang (bukan secara biologis, tetapi berdasarkan padan), dan otomatis sisada anak, sisda boru, sisada ulaon dengan anaknya yang 6 lagi, dan naso jadi marsialapan.
    6. dst.

    Kalau berpegang pada prinsip ini, apakah ada yang salah relatif kepada padan ???.

    Saya berpendapat, kalau seandainya kita sepakat bahwa :

    1. SITUMORANG (ada 3 sohi), SIRINGO-RINGO (mungkin juga termasuk RUMAPEA .. perlu didengar pendapat lain khususnya dari Siringo-ringo), SITOHANG (ada 3 sohi) adalah marga
    2. SITUMORANG, SIRINGO-RINGO, dan SITOHANG adalah na marhaha maranggi, sisada anak, sada boru, sada ulaon, naso jadi marsibuatan
    3. SITUMORANG, SIRINGO-RINGO, SITOHANG adalah “Pomparan ni Ompu Tuan Situmorang”, atau “Pomparan ni Sipitu Ama”,

    maka tidak selayaknya ada perbedaan pendapat diantara kita….

    Dengan klarifikasi ini, tentunya SITOHANG ya SITOHANG, SIRINGO-RINGO ya SIRINGO-RINGO… tidak menjadi SITUMORANG, dan kita semua adalah “Pinompar Ni Omptu Tuan Situmorang” (Ompu Tuan Situmorang adalah Ompu kita), atau Pinompar Ni Sipitu Ama (berdasarkan padan).

    Sitohang, Siringo-ringo tidak jadi Situmorang, dan juga bukan “Pinompar ni Ompu Tuan Situmorang Sipitu Ama”.

    Wah, mungkin kurang sistematis penjelasan dalam wacana ini, tapi saya kira tidak apa-apa, silahkan disimak sebagai bagian dari wacana dalam rangka mencari kebenaran .. kesepakatan… dan suka cita bagi kita semua yang terkait.

    Reply
  5. Dirjon Sitohang

    Horas. Au SITOHANG (Raja Itubungna) sian Dairi saonari marhuta di Balikpapan, Kaltim.

    Molo hupaihut-ihut angka nisurathon haha dolikku massai las situtu do rohangku, ala gabe tamba parbinotoan diau taringot aha angka namasa di hita nuaneng on. Molo au tung massai otik do parbinotoanhu taringot to sisongon on. Ia dung hujahai gabe tarjolma au, toho do hape nidok ni Oputta sijolo-jolo tubu:

    Ijuk dipara-para, hotang di parlabian
    Nabisuk nampuna hata, naoto tu pargadisan

    Ai naung hampir targadis do hape au.

    Ndang ulahakku angka aha naung isuratton parjolo, alai holan aha naboi nahupikkiri sian keterbatasakku marhite logika hajolmaokku “namarsahit” (songon nidokni haha dolikku Situmorang sian Bogor) hukomentari saotik siala pamangkean Marga.

    Indang apala huboto aha alana umbahen naparjolo di jou Debata Opputta disuddut paduahon dohot patoluhon asa gabe Op. Tuan Situmorang pabalgahon anak na 7 i. Alana di tikki i angka na pekpeng marumur do manisia ai soadong dope polusi di tikki i dohot angka fast food naparohon akka sahit dahot TV manang internet namangalolai parpodoman ni jolma. Menurut logikakku (tarbatas), molo nunga lewat masa balita ditikki i lapatanna nunga marhasil ibana sian seleksi alam. Ra na adong do akka namasa asa gabe pala songon i (songon turi-turian ni si Job na di Bibel i), ra mate marporang, marburu, manang managkup dengke.

    Nahubege, ia najolo hatop-hatop do jolma marruma tangga ra hira-hira ndung marumur 17 taon mai. Suang songon i do ra dohot akka Opputta na ujui, molo hira-hira tatolopi do on ba boi ma dohonon ia hira-hira marumur 36 – 40 taon Op. Tuan Situmorang nunga sorang be ninina no. 1 Lumban Pande, jala hira-hira marumur 40 – 45 taon nunga sorang ninina no. 7 Op. Bonani Onan. (Molo sala paretongakki di patikkos akka Bapa dohot haha anggikku).

    Pamikkirakku, massai nabisuk do anggo Op. Tuan Situmorang jala gabe targoar ibana nabonggal jala si ganjang umur do ibana dohot bukti dipasahat do PADAN tu akka “anakna” na 7 i jala dingoluhon PADAN i sahat rodi akka pinopparna sadarion, lapatanna nunga marroha akka anak na 7 i baru pe asa marujung ngolu Op. Tuan Situmorang.

    Aha hubungan na dohot pamagkean marga SIRINGO-RINGO dohot SITOHANG?
    Diboto Op. Tuan Situmorang nabisuk i do sude akka panjoun di anakna na 7 i (mungkin sahat rodi panjouon di pinoppar ni anakna na 7 i….???), alai ndang hea huroha hapir di rohani Oppu i panjouon i jala dijouhon do i sahat rodi sadarion. Ra molo tardungo saonari Oppu i, tung las situtu do ra rohana umboto/mamereng keragaman ni akka pinopparnai.

    Jadi harippunon di au, molo rikkot ikkon sada marga jouhononna diroha ni Op. Tuan Situmorang na uju i nunga apala gomos jala poltik tonahononna i tu angka Oputta na parjolo i, jala ndang mungkin ndang patikkoson ni akka Opputta na di sundut paopathon manang palimahon molo adong akka nahurang, ai angka nabisuk do nasida, angka Raja, Tuan dohot Guru. Molo tarukkari ma i digenerasitta on marhitehon angka parbinotoan na tarbatas situtu, ra ndang nalaho mangkorhon hinadenggan i alai gabe mangkorhon hasesega ma i di hita.

    Nipi nama sungkunonta manang boha dirohanta, anggo tung au tetap do marga SITOHANG.

    Reply
  6. Benhard SITOHANG

    Singkatnya

    Saya berpendapat, saya kira seharusnya demikian, dan inilah panduan hidup kita dan selayaknya kita menghidupinya :

    1. SITUMORANG (meliputi : LP, LN, SH), SIRINGO-RINGO (mungkin juga termasuk RUMAPEA .. perlu didengar turi-turian lain khususnya dari Siringo-ringo), SITOHANG (mencakup : uruk, Tonga2, Toruan) adalah marga
    2. SITUMORANG, SIRINGO-RINGO, dan SITOHANG adalah na marhaha maranggi (sesuai dengan urutan pada No.1), sisada anak, sada boru, sada ulaon, naso jadi marsibuatan
    3. SITUMORANG, SIRINGO-RINGO, SITOHANG adalah “Pomparan ni Ompu Tuan Situmorang”, atau “Sipitu Ama”.

    Pengecualian :

    No. 1 di atas tidak benar/syah, jika isi padan yang dimaksudkan adalah :

    …..bla…bla…bla….dst…………., sude hamu na-7 anakku, gabe margoar manang marga situmorang ma hamu, ….. dst.

    Dengan demikian, jika ingin menyelesaikan masalah, silahkan konfirmasi isi padan itu.

    Reply
  7. jonner SITUMORANG

    HORASSSSSSSSSS DI HITA NA SAMUDAR, POMPARAN NI OPPUTTA TUAN SITUMORANG. Tung mansai las rohakku mambege ulasan ni akka hita na mar HAHA MARANGGI. On ma ‘DINAMIKA DEMOKRASI’. ALAI SAI BERLABUH TAHADENGGANON, JALA SITIRUON NI AKKA PINOMPARTA HADUAN. Toho do ndang bulat Portibion, jala ndang hagokhan Portibion, songoni nang rohatta be. On ma dalanna asa tetap hita sujud bersimpuh di hadapan TUHAN. ALANA HOLAN TUHANI DO NA BOI MANGGOHI ROHATTA BE. PANGIDOANKU songon Haha doli mu, UNANG GABE ADONG PENYESALAN DIPUDIAN NI ARI (Hupatorang pe annon penyesalan alani kesalahan di hami si No.1).

    ANGGI DOLI NA BURJU, SITUMOTANG NO.1 sampe no.4 sampe sonari Tetap mamboan marga Situmorang. Ndang dibaen kami marga nami Pande, Lumban Na hor, Suhut ni Huta. Jala si no.4, adong do sada pinomparna na tetap ma makke Situmorang (ima Tuan Ringo). Jala na huboto, SEJATINYA Hamu na -3 Anggi doli digoari Op. Tuan Situmorang DO: SITUMORANG DORI MANGAMBAT, RAJA ITUBUNGNA, dan BONA NI ONAN. SATTABI di SAHALA NI OPPUTTA SIJOLO-JOLO TUBU, molo sala au, Tentang SITOHANG, Gelar do on najolo. TOHANG artina PAMELEAN TU SANG PENCIPA dan JURU SELAMAT. Di atur Opputma hamu na -3. Dori Mangambat di dolokan ma Baen Tohang mu. Raja Itubungna, Baen ma di Tonga-tonga, jala Bona ni Onan, baen ma di Toruan Tohang mu. On do dalanna asa bergelar hamu alana gabe populer di panjouon : SITOHANG DOLOK, TONGA-TONGA, & TORUAN sampe sonari. Sahali nari Sattabi di SAHALA NI OPPUTTA molo sala na huboto on. Ai akka sian piga-piga opputta huboto sejarah on.

    Tentang di pomparan ni Opputta na nungnga marsiolian, Pencilan na so denggan doi di Sejarahta. Memang tarida do Ela-ela dohot gogo ni sibolis na jahat i di Hita. Alai ndang na sitiruon on. jala songon na hutulis parjolo di ginjang, nungnga MENYALAHI di Padan ni Opputta. Jelas tidak hormat ke Orang Tua, menyalahi PATIK PA-5 hon. Semoga Tuhan mengampuni nya.

    Anggi doli na burju, Dalam tulisan i, Saya merasa perlu, taronjor roha, dan kadang merasa malu DI SUDE HAHURANGAN NI HITA. Molo di ulaon ta, sai dipasangap hamu do Hami Haha doli mu, di Parjambaran. Ini satu AMANAH yang besar, Bukan untuk kebesaran diri sendiri, tapi menuntut satu tanggung jawab yang BIJAK sebagai HAHA DOLI. Ndang na Hamatean Ama dohot Inong Hamu anggi doli nAMI NA-6, aLAI Hami do na hamatean Ama dht INA. Jadi, MARSI AMIN-AMINAN HITA.

    Pendapat ni Dongan Tubu Benhard “SITOHANG bukan marga SITUMORANG” saya penuh TANYA. ndung DI PADAN thon OPPUTTA (ACARA ADAT NA GOK, JALA DI ALU-ALUHON TU AMANTA DEBATA) hita na-7 gabe anakna, jelas hita na -7 otomatis, menyandang marga ‘SITUMORANG”. Kejadian sonarion pe” contoh di ulaon adat, MOLO ADONG hita manang borutta kawin/muli tu halak di luar Batak, di adathon jala di lean marga, jelas tarbukti, anak ni amatta naung marmarga i, menurunkan marganya ke anaknya. Dan di paradathon slalu di dudukkan sebagai kelompok marga tsb. Alai molo las roha muna mamboan goar i, Molo Dos rohatta, Mungkin melalui MUBES di MEDAN BOI DO, Pangidoon muna i. AHA SIBAEN LAS NI ROHAMU, Ido PAHALA di Hita.

    TENTANG Punguan naung di baen “MARGOAR DI TORU NI SITUMORANG SI-7 AMA’ . Au ndang na manjujui jala ndang Si pangorai. Keinginanku ” PINUKKA NI OPPUTTA NA PARJOLO, AKKA NA DENGGAN I, IMA TAIHUT HON. Molo di Punguan Partangiangon. Di dok Tuhani do; Molo marpungu hamu 2 manang 3 halak, majou goar hu, disi do AU, ditonga-tongamu nai. Keyakinanku, molo partangiangan keluarga manang sa-Oppung na Uli doi. Alai Molo Pesta Bolon na mamboan marga Situmorang, Poda ni Opputta (Bapakta TUAN SITUMORANG), RAMPAK MA nian Hita pomparanna sian na-7.

    Anggi doli Na Burju, Dunia ini memang indah dengan Pro-Kontra. Ondo mambaen hangoluoan on berjalan Dinamis. Di antara pendapatta na Pro-Kontra, Kenyataan na 50 % adong do na satolop. Tung godang do Punguan ni Situmorang si-7 ama, na Ketua umumna sian Hamu Anggi doli nami SITOHANG. Contoh, Di Gunung Putri, Tangerang dll. Alai tung sogok do rohakku, Apala tung mandao do, anggi dolikku SITOHANG na di Bogor on, sian Punguatta SITUMORANG SI-7 AMA na di Bogor. Kecuali akka Boruttai. On gabe tantangan do. Molo di ulaon akka namasa di keluarga no Boru taon, di gokkon do akka Hula-hula na sude sian na-7. Alai di pardalan ni ulaon i, ndang di gorahon nasida atas perintah ni hamu anggi doli nami SITOHANG. Jadi gabe songon halak na lain (undangan tu si leban) do posisi dohot parhundulon nami na-4, di baen. tanggapan ni akka dongan na hot marholong jala manjunjung tu PADAN i, ba ndang pola dia, di palambas rohana. Alai na deba, gabe marhancit ni roha. LEAN MAJO PENDAPAT MU TUSON, AHA DO JALAN KALUAR NA DENGGAN ?????
    MAULIATE dan SYALOOMMMMMMMMMMMMMM.

    Reply
  8. benhard SITOHANG

    Menarik sekali, dan disksusi seperti ini tentunya akan membantu kita semua untuk mengungkap, bagaimana semestinya… bukan bagaimana yang saya tahu.. .dan bukan bagaimana yang dikatakan orang lain…….Tetapi, bagaimana yang SEMESTINYA.

    Dari comment saudaraku Jonner itumorang, menurut saya ada 2 hal penting :

    1. Banyak saya tahu saudara kita dari turunan yang ke-4, dan selalu memperkenalkan diri SIRINGO-RINGO…. bukan SITUMORANG, dan tetap mengakui bahwa dia adalah Pomparan oT. Situmorang. Dan, bahkan mereka juga ssecara rutin melakukan pesta bona taon. Pada pesta tersebut, ya tetap mengundang marga lain (Situmorang, Sitohang), sebagai undangan khusus, sebagai haha anggi.

    2. Cerita (turi-turian) tentang PADAN itu, baru kali ini saya ketahui. Dari sekian banyak yang pernah saya ajak bicara soal PADAN (di Palipi, di Urat, dan di perantauan ini), tidak pernah ada turi-turian seperti yang dikemukakan Saudaraku Jonner. Khusus untuk ini, tentunya perlu kita simak kembali ke belakang, bagaimana sebenarnya isi padan itu, agar kiranya tidak kurang dan tidak ditambah, atau bahakan tidak diinterpretasi terlalu jauh.

    Jalan keluarnya, yang terbaik, ya mari kita kembali ke PADAN itu.. apa isinya, ya mari kita lakoni dengan baik dan sungguh2.

    Seperti komentar saya sebelumnya, sebenarnya ini bukan masalah yang sulit, semuanya akan mudah selesai, jika kita menyimak isi PADAN itu. Sayangnya memang, PADAN ini sampai ke kita melalui turi-turian saja ya.. tidak ada formalnya.. maupun dokumennya.

    Ok, untuk tindak lanjut, mari kita bertanya lebih serius tentang PADAN… hal ini akan menjadi titik berangkat sukacita bagi kita semua.

    Reply
  9. Sitohang Par Bintan

    Ijinkan saya memberikan pendapat soal yang satu ini. Namun terlebih dulu saya mohon maaf kalau tidak memberikan solusi. Paling tidak saya ingin berusaha memberikan pencerahan dan gagasan guna pemecahan. Ini hanya merupakan permenungan, karena semua yang kita perdebatkan ini berasal dari cerita turun termurun yang tidak didukung oleh catatan atau dokumen yang bisa kita lihat.

    Manusia sepanjang sejarahnya senantiasa mencoba menanggapi panggilan zaman sesuai kemampuan alam pikirannya untuk memahami alam dan fenomena saat itu. Kebudayaan Batak yang sekarang umumnya kita rujuk sebagai panduan hidup dalam relasi horizontal sebagai sesama manusia Batak didasarkan pada mitologi bahwa si Raja batak adalah leluhur pertama manusia Batak yang berasal dari Pusuk Buhit, keturunan si Boru Deak Parujar dan raja Odapodap. Benarkah demikian? Walahu alam. Atropolog menyebutkan lain. Nenek moyang orang Batak berasal dari daerah Birma. Lalu siapa yang mengarang bahwa nenek moyang orang Batak pertama kali bernama si Raja Batak dan lahir dari malaikat yang turun dari langit? Sudah tentu nenek moyang orang Batak sendiri. Kenapa mereka membuat mitos seperti itu? Saya pikir mereka melakukan itu sebagai upaya pembentukan jati diri baru di tanah yang baru, karena lingkungan dan panggilan alam yang baru. Apakah salah mereka menciptakan mitos baru tentang asal mula mereka? Saya pikir tidak. Karena mereka merasa itulah jawaban terhadap panggilan zaman saat itu.

    Soal PADAN Op. Tuan Situmorang dengan ketujuh cicitnya itu. Betulkah itu pernah terjadi? Walauhu alam. Mungkin penjelasannya sama dengan mitos tentang kelahiran si Raja Batak yang katanya adalah manusia batak pertama yang menurunkan semua marga-marga Batak. Boleh jadi PADAN itu adalah juga mitos yang dicipatakan beberapa nenek moyang orang-orang yang saat ini menjadi marga SITUMORANG, SIRINGO-RINGO dan SITOHANG. Beberapa dari antara mereka yang berjumpa entah dalam situasi seperti apa berkhidmat bagaimana caranya supaya mereka hidup rukun, gotong royong melakukan pekerjaan, saling membantu dalam menghadapi kesulitan, saling membantu melakukan pernikahan anak-anaknya sebagai tanggapan atas situasi saat itu. Adakah menciptakan PADAN itu sesuatu yang salah? Menurut saya tidak. Itulah hikmat manusia saat itu atas keadaan saat itu. Kita harus ingat pola pendidikan manusia saat itu jelas tidak sama dengan pola yang sekarang kita anut. Semua lebih didasarkan pada siapa yang dipercaya/ didaulat untuk memberikan nasihat dan pengetahuan. Sekali seseorang didaulat untuk menjadi Uluan apalagi Raja Ihutan maka apapun yang dikatakan akan diterima pengikutnya sebagai sebuah kebenaran yang harus dipatuhi. Anak Uluan atau Raja Ihutan ini akan menerima sahala sebagai pengganti ayahnya.

    Sejauh PADAN ni Op Tuan Situmorang dengan ketujuh cicitnya, kalau itu betul-betul ada, tentang “SISADA LULU DI ANAK SISADA LULU DI BORU” dan “NA SO JADI MARSIOLIAN, NA SOJADI MARSITINDIAN” di sude pinompar ni na 7 i sebenarnya semua bisa menerima. Masalahnya hanya terletak pada bagaimana mengartikan dan mengimplementasikan padan tersebut dalam kehidupan sehari-hari. SITUMORANG memandang bahwa padan itu harus diimplementasikan dengan semua ulaon adat keturunan yang 7 ompu tadi harus selalu dilakukan bersama-sama. Hal yang sebenarnya tidak ditolak oleh SITOHANG.

    Persoalan ini mulai muncul ketika SITUMORANG mempertanyakan keabsahan SITOHANG sebagai marga. Keturunan Dari Mangambat, Raja Itubungna dan Op. Bonanionan diajari oleh leluhurnya bahwa dari ketujun cicit Op. Tuan Situmorang sudah resmi diberikan marga SITOHANG di depan raja-raja adat saat itu. Lalu kalau ada dua pendapat yang berbeda mengenai satu kejadian seperti ini tanpa ada catatan atau semacam prasasti seperti yang biasa ditemui dalam sejarah kebudayaan jawa dan melayu, maka menjadi pertanyaan bagi SITOHANG, dasar otoritas apa yang dimiliki SITUMORANG menurunkan cerita kepada keturunannya bahwa versinya mengenai asal muasal SITOHANG adalah yang benar dan harus diterima oleh keturunan SITOHANG? Fakta bahwa SITOHANG sudah berketurunan hingga 20 generasi, diterima marga-marga lain sebagai marga yang berdaulat, diakui dalam sistim pencatatan sipil, dan bahkan sudah punya TUGU sendiri, tidakkah itu cukup untuk menerima kenyataan bahwa SITOHANG adalah marga sendiri.

    Kalau dalilnya adalah karena SITOHANG lahir dari Op. Tuan Situmorang sehingga semua keturunan Op. Pangaribuan harus bermarga SITUMORANG, harusnya marga SITUMORANG sendiri menjadi tidak patut. Op. Tuan SITUMORANG adalah anak si Raja Lontung. Bukankah dengan dengal dalil itu berarti Op. Tuan Situmorang dan keturunannya harusnya bermarga Si Raja Lontung. Atau kalau dirunut lagi ke atas dengan menggunakan logika berfikir seperti itu semua orang batak keturunan si Raja Batak harusnya cuma ada satu marga yaitu SIRAJA BATAK karena semua orang batak merupakan keturunan anak-anak si Raja BATAK.

    Kalau setelah hingga 20 generasi marga SITOHANG, marga SITUMORANG tetap mempertanyakan keabsahan marga SITOHANG sebagai marga yang berdaulat, maka menurut saya ini sudah merupakan pelecehan.

    Dan ketika zaman sekarang sudah amat teramat jauh bergerak dan berubah dari saat ketika mitos tentang PADAN ketujuh cicit Op. Tuan Situmorang dihadapan Op. Tuan Situmorang terjadi, atau hampir 23 generasi, antara keturunan SITUMORANG dan SITOHANG tidak mengenal satu sama lain atau tidak menerima jati diri yang satu dengan yang lain, masih adakah landasan buat generasi SITOHANG yang akan datang untuk tetap menerima SITUMORANG sebagai haha dolinya? Dan malangnya ini semua hanya gara-gara PADAN yang sesungguhnya seperti apa persisnya kita semuapun tidak pernah tahu?

    Oleh karenanya saya menjadi sangat bersyukur kepada Tuhan sekarang ada internet. Semua yang saya pernah katakan akan tercatat dan diketahu oleh keturunan saya dan keturunan dari keturunan saya tersebut kelak. Makanya saya berusaha mencatatkan pendapat saya ini dalam blog ini. Supaya keturunan SITOHANG berikutnya tidak ragu akan identitasnya.

    Horas,

    Reply
  10. michael.sitohang

    Horas di angka natua-tua saluhutna,
    menarik sekali mengikuti artikel dan komen2 yang sudah diberikan diatas. Sejauh yang saya tau SITOHANG BUKAN MINTA PENGAKUAN atas KEBERADAANnya dari haha SITUMORANG atas marga yang sudah ada setidaknya sudah 20 generasi ini (hitung dari Raja Babiat)
    Sejauh yang saya tau SITOHANG hanya perlu menegaskan kapada haha SITUMORANG atas Hak, Kewajiban, Porsi, Posisi, dll yang relevan dengan ulaon adat dalam setiap acara paradaton nagok lingkup kekerabatan Op. Tuan Situmorang si7ama. MAAF KALO EXTREME SAYA HARUS SEBUT SELAMA INI YANG TERJADI HAHA SITUMORANG SUDAH menDJOLIMI SITOHANG.

    Reply
  11. Perry Cornelius P. Sitohang [Uruk]

    Sangat menarik membaca seluruh komentar yang ada dalam blog ini. Saya secara pribadi juga sangat takjub membaca komentar dari haha doli JONNER SITUMORANG, dan bahkan sungguh kaget dengan cerita turun temurun yang disampaikannya mengenai kelahiran ‘gelar’ SITOHANG, mengingat baru pertama kali aku dengar (bahkan juga oleh Ompung-ompungku yang masih hidup dan berumur puluhan tahun lebih tua dari haha doli JONNER SITUMORANG).

    Untuk itu saya juga berniat untuk memberikan sedikit komentar. Terdapat beberapa kejanggalan dalam cerita yang disampaikan oleh haha doli kita ini mengenai keberadaan marga SITOHANG, yang bisa saya uraikan sebagai berikut:

    1. JONNER SITUMORANG SAYS: “TOHANG artina PAMELEAN TU SANG PENCIPA dan JURU SELAMAT”.

    Terima kasih sebelumnya tentang definisi dari TOHANG yang disampaikan oleh haha doli JONNER SITUMORANG. Definisi yang disampaikan sungguh membuat kita marga SITOHANG jadi bangga, bahwa kami SITOHANG ini merupakan persembahan kepada TUHAN SANG PENCIPTA dan JURU SELAMAT. Jujur, akupun secara pribadi juga sangat bangga atas adanya definisi ini, hehehe…

    Namun, timbul pertanyaanku dalam hati, apakah benar demikian? Apakah ketika itu nenek moyang kita sudah mengenal TUHAN SANG PENCIPTA dan JURU SELAMAT? Memangnya sejak kapan orang batak, khususnya nenek moyang kita pomparan sipitu ama mengenal agama Kristen? Ah, sedikit janggal…. Wong dulu kita orang batak ini saja terkenal pernah makan orang, yang notabene orang tersebut adalah missionaris yang memberitakan agama. Kita sendiri baru mengenal dan baru mau menerima serta menganut agama Kristen (Protestan) sejak datangnya NOMENSEN. Sebelumnya, batak itu adalah menganut Atheisme. Apakah ajaran Kristen sudah dikenal pada saat gelar TOHANG itu ada?

    Menurutku, ini merupakan satu celah untuk menilai benar tidaknya turi-turian yang disampaikan haha doli kita SITUMORANG itu….

    2. JONNER SITUMORANG SAYS: “SEJATINYA Hamu na -3 Anggi doli digoari Op. Tuan Situmorang DO: SITUMORANG DORI MANGAMBAT, RAJA ITUBUNGNA, dan BONA NI ONAN. SATTABI di SAHALA NI OPPUTTA SIJOLO-JOLO TUBU”.

    Ah, inipun menjadi tidak masuk akal. Kalau betul demikian, mengapa marga orang batak dibuat di belakang? Kok tidak di depan sebagaimana yang dikatakan oleh haha doli kita JONNER SITUMORANG ini… Kalau apa yang dibilang haha doli kita ini benar, seharusnya diapun menulis namanya: SITUMORANG JONNER dan bukan JONNER SITUMORANG…. Jaman itupun aku nggak yakin kalau orang-orang sudah mengharapkan agar keturunannya bisa langsung menggunakan nama Bapaknya… Mustahil lah… Wong mereka juga belum mengerti fungsinya kok….

    Ini celah yang kedua untuk bisa mempercayai turi-turian yang disampaikan oleh haha doli kita itu…

    3. JONNER SITUMORANG SAYS: “On do dalanna asa bergelar hamu alana gabe populer di panjouon : SITOHANG DOLOK, TONGA-TONGA, & TORUAN sampe sonari”.

    Wah, kalau bagi para apparaku SITOHANG TONGA-TONGA & TORUAN mungkin kalimat ini tidak bermasalah ya… Tapi bagiku, sebagai SITOHANG URUK, hal ini jelas menimbulkan tanda tanya besar, dan mungkin kalau tidak mau kukatakan sebagai pelecehan… Sepanjang hidupku, aku hanya mengetahui bahwa SITOHANG itu terbagi atas: URUK, TONGA-TONGA dan TORUAN. Aku tidak pernah mendengar adanya SITOHANG DOLOK…

    Yang sangat tragis, haha doliku JONNER SITUMORANG ini sudah 45 tahun menjalani hidup… Sampai sekarang pun dia tidak mengenal dekat para angginya… Terbukti dari ketidak tahuannya mengenai pembagian SITOHANG yang sebenarnya…. Kalau haha doli JONNER SITUMORANG mengatakan dia mendapat cerita ini dari leluhurnya…. Wah, kamipun marga SITOHANG ini, khususnya aku yang merupakan SITOHANG URUK, sudah mengetahui mengenai SITOHANG URUK dari beberapa generasi di atasku…

    Perbedaan penyebutan SITOHANG URUK dengan SITOHANG DOLOK mungkin terlihat sangat sederhana bagi haha doli JONNER SITUMORANG, tapi bagiku itu SANGAT NYATA perbedaannya, dan bisa dijadikan sebagai acuan atau celah ketiga untuk mempertanyakan kebenaran dari turi-turian yang disampaikan haha doli kita ini…

    4. JONNER SITUMORANG SAYS: “Alai molo las roha muna mamboan goar i, Molo Dos rohatta, Mungkin melalui MUBES di MEDAN BOI DO, Pangidoon muna i”.

    Nah ini dia yang menjadi biang kerok permasalahan… Kalau kita mau jujur haha doliku JONNER SITUMORANG… Sudah sejak berapa generasi dari keluarga kita turunan Op. TUAN SITUMORANG yang pernah mendengar dipergunakannnya marga SITOHANG? Sebagaimana yang dikatakan oleh Sitohang par Bintan, aku juga sependapat bahwa SITOHANG itu dipergunakan sebagai marga sudah belasan tahun dan bahkan sudah mencapai 20 generasi. Kok bisa-bisanya sekarang haha doli mempertanyakan keabsahan marga SITOHANG????

    Yang paling lucu di sini, haha doliku JONNER SITOHANG kan baru berumur 45 tahun, dan merupakan generasi yang lahir di jaman ini… Kok bisa-bisanya berani mempersoalkan hal ini, pada sudah belasan generasi tidak ada perdebatan yang mempersoalkan mengenai hal ini?

    Untuk apa pula kami perlu meminta pengakuan atas keberadaan marga SITOHANG melalui MUBES? Apa legal standi serta otoritas dari MUBES untuk memberikan penegasan atas hal ini, sementara PADA FAKTANYA marga SITOHANG itu sudah diakui oleh bahkan OP. TUAN SITUMORANG sendiri????

    Kalau haha doliku yang kukasihi, JONNER SITUMORANG punya turi-turian menurut versinya (ataupun versi dari para leluhurnya), akupun punya turi-turian yang diceritakan secara turun temurun di keluarga kami mengenai munculnya marga SITOHANG….

    BEGINI CERITANYA YANG KUDAPAT DARI PARA LELUHURKU:

    Pada waktu itu Ompung kita itu mengadakan PESTA SAGU-SAGU. Pesta itu dihadiri oleh raja-raja dan penatua adat dari berbagai pihak. Sebagai keturunan yang satu Ompung yang terikat dengan PADAN, selayaknya lah kita membawa SILUA (persembahan yang diberikan untuk mencukupi kebutuhan untuk pesta). Semua SILUA itu diletakkan di satu tempat… Para Keturunan Op. PANOPARAJA (dalam hal ini LUMBAN PANDE, LUMBAN NAHOR, dan SUHUTNIHUTA serta TUAN RINGO datang duluan. SILUA yang mereka bawa telah memenuhi seluruh tempat yang tersedia….

    Apa yang terjadi dengan keturunan Op. PANGARIBUAN (dalam hal ini DORI MANGAMBAT, RAJA ITUBUNGNA dan BONANIONAN)? Mereka datang terlambat ke pesta sagu-sagu itu… Walaupun mereka datang terlambat, tapi Ompung kita itu tidak marah malahan semakin bahagia… Karena semua anak-anaknya telah berkumpul untuk mengikuti pesta, dan semuanya peduli terhadap kesuksesan pesta SAGU-SAGU itu…

    Sebagaimana layaknya Saudara-saudaranya keturuanan Op. PANOPARAJA, para keturunan Op. PANGARIBUAN inipun masing-masing membawa SILUA-nya… Namun tempat yang disediakan untuk meletakkan SILUA ini sudah tidak ada lagi, sudah penuh dengan SILUA yang dibawa oleh 4 keturuanan Op. PANOPARAJA…

    Melihat kenyataan ini, Ompung kita lantas memerintahkan para keturunan Op. PANGARIBUAN ini untuk meletakkan SILUA-nya di bagian TOHANG dari tempat yang disediakan [catatan: TOHANG itu adalah bagian atas dari rumah, yang letaknya kurang lebih di atas pintu. Kalau kita melihat rumah adat batak, kalau sudah melewati pintu rumah yang berukuran kecil, kita akan melihat tempat di bagian atas dari rumah/pintu itu. Untuk jaman sekarang ini, bila rumahnya masih berbentuk rumah adat batak, tempat itu sering dijadikan sebagai tempat meletakkan bumbu-bumbu dapur. Kalau di rumah model sekarang, maka biasanya bagian atas dari pintu itu adalah celah untuk lubang angin. Inilah yang dinamakan dengan TOHANG itu].

    Oleh Ompung kita itu, ketiga bersaudara keturunan Op. PANGARIBUAN atau anaknya RAJA BABIAT ini diperintahkan untuk meletakkan SILUA-nya secara berurutan… Untuk DORI MANGAMBAT diperintahkan diletakkan di bagian atas [URUK] dari TOHANG tersebut, sedangkan untuk RAJA ITUBUNGNA diperintahkan diletakkan di bagian tengah [TONGA-TONGA] dari TOHANG itu, dan untuk Op. BONANIONAN diperintahkan untuk diletakkan dibagian bawah [TORUAN] dari TOHANG itu…

    Setelah itu pesta pun berjalan semakin meriah…. Sebagai kelanjutannya, para turunan dari Op. PANGARIBUAN ini meminta kepada Ompung kita itu agar sejak saat itu mereka diperkenankan untuk menggunakan TOHANG itu untuk penyebutan identitas mereka… “KARENA SILUA KAMI DILETAKKAN DI TOHANG, MAKA MULAI SEKARANG BIARLAH KAMI INI INI DINAMAI SITOHANG”, mungkin begitulah yang mereka minta. Dan Ompung kita itu, dihadapan semua orang yang hadir mengabulkan permintaan itu. Sejak saat itu para keturunan Op. PANGARIBUAN resmi menggunakan marga SITOHANG. Hal ini tidak hanya diketahui oleh saudara-saudaranya para keturunan Op. PANOPARAJA, tapi juga diketahui oleh semua orang (termasuk raja-raja lainnya) yang hadir di pesta itu…

    Cerita atau turi-turian di atas pun tidak hanya kami para keturunan SITOHANG saja yang mengetahuinya… Banyak orang batak lainnya, yang berbeda marga, juga masih mengetahuinya….

    Lantas apakah cerita itu selesai sampai di situ? Jawabannya MUNGKIN TIDAK…
    Sebagaimana diketahui, apabila diurutkan, para keturunan Op. PANGARIBUAN sebenarnya merupakan keturunan yang paling kecil. Keempat keturunan Op. PANOPARAJA merupakan haha dolinya… Apa yang terjadi sewaktu mereka melihat kenyataan bahwa Ompung kita itu memerintahkan keturuanan yang paling kecil ini untuk meletakkan SILUA-nya di bagian atas dari tempat yang disediakan SEDANGKAN SILUA yang dibawa oleh para haha dolinya justru berada di bawahnya? Harusnya kan terbalik, yang tertua SILUA-nya layaknya diletakkan di atas dan yang termuda di bagian bawahnya. Tentunya mereka tidak bisa berbuat apa-apa… Tapi dalam hati siapa yang tahu… Tak perlu disangsikan, sebenarnya mereka ingin mempermasalahkan hal itu, tapi mau apa lagi, toh itu perintah dari Ompung kita itu… Wajar saja para haha doli keturunan Op. PANOPARAJA itu memiliki kekecewaan, kok justru mereka yang siangkangan SILUA-nya ditempatkan di bawah? Kok malah anggi dolinya (keturunan Op. PANGARIBUAN) -yang sudah datangnya terlambat- masak SILUA-nya diletakkan di bagian atas (di atas mereka punya)?

    Adanya kecemburuan ini membuat kita para SITOHANG memaklumi, kalau selanjutnya banyak dari para haha anggi kita tidak mengakui adanya marga SITOHANG. Mungkin akibat kecemburuan, kekesalan dan kekecewaan dalam masalah penempatan SILUA inilah makanya para haha doli para keturuan Op. PANOPARAJA tidak mau menceritakan hal yang sebenarnya kepada keturunannya, atau bahkan tidak mau menceritakannya sama sekali mengenai kelahiran marga SITOHANG.

    Tapi apa mau dikata. Kalau mau jujur, SITOHANG (DORI MANGAMBAT, RAJA ITUBUNGNA dan Op. BONANIONAN) kelihatannya memang anak-anak yang sangat disayangi oleh Ompung kita itu… Terbukti, udah terlambat pun, masih juga diberikan tempat di bagian atas… Terus minta marga sebagai SITOHANG pun dikabulkan juga….

    Nah, melihat cerita itu, tak heranlah kalau sekarang definisi TOHANG itu berubah menjadi “PAMELEAN TU SANG PENCIPA dan JURU SELAMAT” sebagaimana yang diketahui atau dikatakan oleh haha doli kita JONNER SITUMORANG itu…

    @Buat haha doliku yang kukasihi, JONNER SITUMORANG, aku punya pertanyaan. Kalau ada dua turi-turian yang berbeda seperti di atas, lantas punya siapa yang bisa kita jadikan sebagai acuan dan untuk selanjutnya diceritakan kepada anak cucu kita masing-masing? Bagi diriku SANGAT SULIT menerima kebenaran dari turi-turian yang haha doli sampaikan. Mungkin hal yang sama juga berlaku terhadap diri haha doli… Betul kan?

    Kesimpulannya, turi-turian itu semakin sulit dipegang kebenarannya bila telah dipertentangkan oleh pihak lain… Satu yang pasti, turi-turian dan padan yang ‘mungkin’ kita (i.e. para turunan Op. Tuan Situmorang) sepakati adalah bahwa kita ini bersaudara dan diperintahkan untuk tidak boleh saling menikahi.

    Perlu kami tegaskan, sebagai orang-orang yang sudah menggunakan marga SITOHANG, baik dalam Surat Tardidi, AKTA KELAHIRAN, KTP, SIM, IJAZAH, PASPOR, AKTA KAWIN, dll., tentunya kami ini SAMA SEKALI TIDAK memerlukan LAGI pengakuan dari pihak manapun untuk dapat mempergunakan marga SITOHANG. Marga SITOHANG itu SEJAK DULU SUDAH EKSIS, bahkan SUDAH BELASAN GENERASI. Mempertanyakan eksistensi marga SITOHANG di jaman ini, sebagaimana yang haha doli lakukan, jelas-jelas merupakan tindakan yang dapat menimbulkan keributan, karena dapat dianggap sebagai bentuk pelecehan. Apalagi kalau kami ini ‘dipaksa’ dan ‘didoktrinisasi’ untuk tidak menggunakan marga SITOHANG dan hanya menggunakan satu marga saja yaitu SITUMORANG…

    Kita ini bersaudara haha doliku… Dari dulu kita akur-akur saja… Kalau aku ini ketemu seseorang dengan marga SITUMORANG dan kuperkenalkan diriku sebagai SITOHANG, dia langsung memelukku dan mengatakan bahwa kita ini bersaudara yang memiliki pertalian yang sangat erat. Tidak pernah dia mempertanyakan mengenai eksistensi marga SITOHANG yang kupakai, apalagi menyatakan agar aku menggunakan marga SITUMORANG.

    Perdebatan ini TIDAK PERLU memicu perselisihan yang TIDAK PERLU, apalagi disebabkan hal yang sedang diperdebatkan juga pada dasarnya sudah TIDAK PERLU diperdebatkan lagi…

    Mari kita maju bersama-sama, dengan saling mengasihi dan saling menghargai… Kalau haha doli itu menghargai eksistensi kami para anggi dolimu SITOHANG ini, tentunya tidak akan ada masalah lagi… Perlu kami catat, penghargaan yang kami minta bukan dalam hal PENGAKUAN MARGA (MENGINGAT HAL ITU SUDAH TIDAK DIPERLUKAN LAGI), akan tetapi lebih kepada kedudukan yang berimbang sebagai marhaha-maranggi dalam acara adat dan lain-lain… JANGANLAH MENIADAKAN KAMI, seolah-olah kami ini tidak punya hak ataupun suara sebagai keturunan SIPITU AMA… Bagaimanapun, kalau PADAN itu diakui kebenarannya, kita ini bersaudara sebagai abang dan adik… Sepanjang yang kupahami, bila kita ingin didengarkan, maka dengarkan dulu orang lain. Bila kita ingin dipahami, maka pahami dulu orang lain. Bila kita ingin dikasihi, maka kasihi dulu orang lain….

    Akupun sudah mencoba dan berupaya maksimal untuk mendengarkan apa yang haha doli sampaikan, aku juga mencoba memahaminya dan tetap mengasihi haha doli sebagai saudara… Mudah-mudahan haha doli juga bisa menerapkan hal yang sama dalam membaca seluruh hal yang kusampaikan di sini…

    Sebagaimana turi-turian yang kusampaikan di atas, Ompung kita itu saja ‘menghargai’ serta ‘mengasihi’ kami para SITOHANG ini…..

    SALAM DAMAI DALAM IKATAN PERSAUDARAAN….

    HORAS…

    Reply
  12. Daniel Sitohang

    (Mohon tidak dimuat jika ini makin memperkeruh suasana… atau ada yang sakit hati…)
    Mengapa Situmorang “sepertinya selalu” mempermasalahkan bahwa SITOHANG itu bukan marga??? Kenapa disetiap ulaon adat Sitohang, Situmorang selalu ingin dihargai? (Mungkin ini yang dikatakan appara kita Michael “menjdolomi” Sitohang). Kenapa pula haha doli kami mengatakan baha Situmorang no 6 itu adalah Sitohang DOLOK? Sementara selama sekitar 20 generasi kami Sitohang Uruk tidak pernah menyebut bahwa kami adalah Sitohang Dolok? Mungkin haha doli kami Jonner Situmorang boleh bertanya kesemua Sitohang Uruk yang haha doli kenal, apakah mereka Sitohang Dolok? Pasti mereka akan berkata bahwa Anda SALAH, kami adalah SITOHANG URUK BUKAN SITOHANG DOLOK!!!

    Mari kita berpikir sejenak…
    Mungkinkah Dori Mangambat, Raja Itubunga dan Op. Bon ni Onan dengan seenaknya saja menyebut mereka Sitohang tanpa ada persetujuan dari pemuka adat jaman dulu kala (terutama Op. Tuan Situmorang)? Atau..Mungkinkah Op. Tuan Situmorang tidak mengetahui bahwa ketiga pahoppunya itu menggunakan nama Sitohang selain nama aslinya?
    Ada 3 kemungkinan jawaban dari pertanyaan ini:
    1. Ada perselisihan antara Op. Tuan Situmorang dengan ketiga pahopunya itu dengan kata lain Op. Tuan Situmorang “membenci” ketiga pahoppunya itu sehingga mereka tidak dimasukkan kedalam Situmorang. Sehingga ketiga pahoppunya ini membuat nama sendiri (Sitohang). Namun dalam sejarah Batak tidak pernah diceritakan ada perselisihan antara Op. Tuan Situmorang dengan ketiga pahoppunya. Berarti argumen no. 1 ini SALAH.
    2. Op. Tuan Situmorang tidak mengetahui bahwa ketiga pahoppunya itu menggunakan marga/nama Sitohang selain dari nama yang diberikan oleh bapaknya. Jika ini terjadi, maka pastilah ada saatnya Op. Tuan Situmorang akan mengetahui hal itu dan dia pasti akan “sangat marah” atau mungkin Raja Babiat juga akan marah besar sehingga terjadi perselisihan antara Op. Tuan Situmorang dengan ketiga pahoppunya, atau Raja babiat dengan ketiga anaknya atau ketiga-tiganya malah berselisih. Namun sekali lagi, seperti argumen no.1 diatas, kita tidak pernah mendengar cerita adanya perselisihan itu. Berarti argumen no.2 inipun SALAH.
    3. Argumen ketiga… Ketiga pahoppunya ini meminta ijin kepada Op. Tuan Situmorang/didepan raja adat waktu itu untuk menggunakan marga/nama SITOHANG. Dan karena “RASA SAYANGNYA YANG SANGAT DALAM” Op. Tuan Situmorang mengijinkan pahoppunya menggunakan marga/nama Sitohang dan menunjuk Dori Mangambat sebagai SITOHANG URUK (Sekali lagi BUKAN SITOHANG DOLOK), adiknya Raja Itubunga menjadi SITOHANG TONGA-TONGA dan Op. Bona Ni Onan, adiknya yang paling bungsu menjadi SITOHANG TORUAN.
    Dan mungkin bisa ditambahkan, bahwa ketika Op. Tuan Situmorang dan raja adat lainnya mengijinkan ketiga pahoppunya menggunakan SITOHANG, maka “irilah” saudaranya yang lain (Situmorang no. 1 s/d 4) yang kebetulan juga abang-abang dari mereka bertiga walaupun beda bapak. Kenapa “bos besarnya” mengijinkan ketiga anaknya si RAJA BABIAT itu menggunakan SITOHANG “tanpa melibatkan” mereka yang siabangan?
    Kesimpulan kasarku yang sangat subjektif: Ketiga anaknya RAJA BABIAT sangat disayangi atau mungkin lebih disayangi oleh Op. Tuan Situmorang dibandingkan dengan ke4 pahoppunya yang lain. Mungkin ini juga sebabnya “mereka” Situmorang no1 s/d 4 ingin selalu lebih dihargai disetiap ulaon adat dan ada sebagian yang tidak mau mengakui SITOHANG itu marga.

    Ini sekedar pendapatku/logikaku pribadi dan aku juga tidak terlalu mengerti mengenai sejarah marga kita, jadi mohon maaf jika pendapatku ini makin memperkeruh suasana bukannya memberikan solusi yang baik. Mohon maaf juga buat haha doli kami Situmorang no. 1 s/d 4 jika telah membuat haha doli sekalian tersinggung dengan tulisanku ini. Sekali lagi ini adalah pendapat dan logika subjektifku semata.
    Tapi… aku adalah SITOHANG URUK bagian dari Pomparan SITUMORANG Si Pitu AMA si SADA INA atau bagian dari SIPITU AMA. Dan aku bangga menjadi SITOHANG URUK dan ini tidak perlu disahkan atau adanya pengakuan dari SITUMORANG (khususnya no 1 s/d 4). SITOHANG sudah ada dari sejak kita (generasi sekarang ini) belum ada, kecuali kalau ada diantara kita yang berumur sekitar 300-500an tahun dan masih hidup yang mengetahui bahwa SITOHANG itu bukan marga, baru saya akan mengganti marga saya menjadi Situmorang.

    HORAS JALA GABE!!!

    Reply
  13. Jonner SITUMORANG

    SELAMAT ATAS SUKSES MUBES DAN TERPILIHNYA pengurus DPP Parsadaan Pomparan Ni Ompu Tuan Situmorang Sipitu Ama Dohot Boruna Se-Indonesia terdiri dari Ketua Umum Kombes (Purn) DU SITOHANG, Wakil Ketua Umum Ir JB Siringo-ringo, Drs Tomi Situmorang dan Drs Laham Situmorang, Sekretaris Umum DR Ir Binsar Situmorang,MSi,MAP dan Bendahara Umum Prof DR RS Parhusip,SPp.

    Horasssss….
    Maaf baru bergabung kembali, SEJAK 3 hari yang lalu sedang di kl, malaysia memenuhi undangan memberikan seminar tentang pengembangan gaharu (hau Alim, Mur dalam alkitab) di sana.

    Di Hita namardongan tubu….
    HASIL MUBES MEDAN YANG KITA DUKUNG dan DANAI BERSAMA INI TELAH SUKSES. DARI SUSUNAN PENGURUS BARU YANG TERBENTUK, SAYA SANGAT BERTERIMAKASIH KE TUHAN YME. ADA KESIMPULAN BAHWA PUNGUAN KITA “Ompu Tuan Situmorang Sipitu Ama Dohot Boruna Se-Indonesia” MASIH UTUH. TERBUKTI ANGGIDOLI SITOHANG TERPILIH JADI KETUA UMUM. HALELUYA. TUHAN MEMBERKATI.

    SAYA MASIH MENGUPAYAKAN MENCARI HASIL KESIMPULAN NAULI YANG DIHASILKAN MUBES KITA INI. ATAU BILA ADA YANG SUDAH MENDAPATNYA, TOLONG DI POSTING DI BLOG DONGAN TUBU KITA INI.

    MAULIATE
    jon3mora@yahoo.com

    Reply
  14. lastri vernanda situmorang

    Horas, dihita sudena. Sebenarnya saya juga agak bingung dengan banyaknya persepsi yang berbeda tentang situmorang sipitu ama. Aku juga punya pengalaman yang agak membingungkan seputar marga ini. Saat itu aku kenalan dengan pacar temanku yang kebetulan dia orang batak dan marga siringo. waktu itu saya tanya “berarti abang situmorang yah?” lalu dia menjawab dengan nada yang agak ketus bahwa dia bukan situmorang, tapi si ringo. lalu saya jawab “saya juga si ringo tapi kata ortu saya kita situmorang siringo” lalu dia dengan wajah yang agak tidak sabaran menegaskan kembali kepada saya bahwa itu tidak sama, dan katanya bahwa saya tidak mengerti tentang marga saya. saya sempat tersinggung juga sih, cuma yang menjadi pertanyaan dalam diri saya, mengapa kita sesama marga Situmorang atau yang masuk Klan situmorang harus memiliki perspektif yang sempit seperti itu. Toh, kita masih satu keturunan kenapa mesti gontok2an soal sederhana seperti itu. harusnya kita saling merangkul bukan saling menonjolkan siapa diri kita masing-masing. Maaf, kalo saya agak lancang. cuma saya kira setiap generasi Situmorang Sipitu ama hendaknya bisa mengubah Frame work yang selama ini berkembang dalam keseharian kita dengan paradigma yang baru bahwa aku, kamu, kita semua dalam satu kesatuan Situmorang Sipitu ama adalah bersaudara ( Fraternitas).

    Reply
  15. Parhobas

    @ Ito/ namboru Lastri Situmorang,

    Terimakasih atas kunjungannya.

    Situmorang, Siringo-ringo dan Sitohang itu bersaudara dan marhaha maranggi itu betul. Tapi kalau dibilang ketiga marga itu sama, mungkin tidak tepat juga. Kalau memang sama kenapa leluhur kita yang sebelumnya mewariskan marga yang dua lagi: Siringo dan Sitohang.

    Saya pikir paradigmanya perlu disatukan lagi bahwa ketiga marga tersebut adalah betul berasal dari satu leluhur yang kita hormati bersama yakni Ompu Tuan Situmorang. Tetapi ketiga marga tersebut harus mau mengakui kedaulatan masing-masing dan saling menghargai.

    Analoginya adalah kalau seorang anak sudah dewasa, mandiri dan membentuk keluarga baru, maka dia adalah unit baru yang berdaulat dari orangtua dan saudara-saudaranya yang lain meskipun tetap merupakan bagian dari keluarga besar orangtuanya.

    Kalau yang satu mendiktekan konsep persatuan dan adat kepada yang lain maka fondasi rasa kebersamaan itu akan hilang.

    Reply
  16. Michael Sitohang

    @ Namboruku Lastri Br Situmorang,
    Gak sampai dan Gak Akan Gontok2an kok namboru :D
    Manat mar Dongan Tubu, Elek mar Boru, Somba mar Hula-hula. Petuah Op. kita Si Raja Batak itu masih dan akan terus kita junjung Tinggi serta Pelihara khususnya di lingkungan kekerabatan keluarga kita Pinompar ni Op. Tuan Situmorang si7ama.

    Last But Not the least; pendapatku pribadi dengan pengetahuan yang kudapat dari orang tua kita terdahulu bahwa SITOHANG hanya perlu Penegasan seperti komen yang sudah saya tuliskan diatas beberapa waktu yang lalu.

    Btw, Salam kenal ya Namboru…Selamat Datang di komunitas cyber SITOHANG FAMILY

    Horas dan salam Hangat dari Pulau Moro
    Michael Sitohang

    Reply
  17. Jonter Sitohang

    Wah, terimakasih buat penjelasan tentang Situmorang si pitu ama, saya semakin mengerti sekarang kedudukan Sitohang dalam Situmorang Sipitu Ama, terimakasih atas setiap ulasan yang disampaikan, tetapi jangan ada yang tersinggung ya, PEACE.

    Reply
  18. Harrison Sitohang

    Menurut saya Eksistensi Sitohang sudah tidak perlu dipermasalahkan, karena sudah umum diketahui masyarakat khususnya Batak. Yang perlu sekarang di era modern ini adalah bagaimana setiap pomparan op. Tuan Situmorang, yakni Situmorang, Siringo-ringo dan Sitohang dapat membawa harum nama itu dengan berpacu maju. Jangankan diantara keturunan si pitu ama bahkan terkadang dalam pertemuan kami antar Sitohang masih menanyakan Sitohang, Uruk, Tonga-Tonga atau Toruan? Martappuk Bulung, Marbona Sangkalan. Horas.

    Reply
  19. Tambor Sitohang

    Shalooommmmmmmmm dan Horas di hita Pinompar ni Tuan SITUMORANG.

    Sungguh menarik blog ini. Mohon izin bergabung. Dari semua paparan di atas yang disampaikan para pomparan ni Op. Tuan Situmorang dapat diambil kesimpulan. Bahwa sejatinya sejarah awalnya (dimula-ni mulana)nama dari 7 cicit Tuan SITUMORANG adalah: LUMBAN PANDE, LUMBAN NAHOR, SUHUT NI HUTA, TUAN RINGO, DORI MANGAMBAT, RAJA ITUBUNGNA dan BONANIONAN. Kemudian dalam perjalanan waktu, melalui pesta Sagu yang disampaikan Saudaraku Cornelis dan sebenarnya ada kemiripan dengan ulasan Hahang Jonner, dikasih lagi marga tambahan SITOHANG. Sehingga tanpa meninggalkan nama pertama Dori Mangambat bernama/marga Sitohang Uruk, Raja Itubungna (Sitohang Tonga-Tonga) dan Bona ni Onan (Sitohang Toruan).

    SEJATINYA DALAM SETIAP ACARA ADAT NI POMPARAN TUAN SITUMORANG SIPITU AMA, YANG PENUH IMAN DAN MENGHARGAI SEJARAH DAN PADAN NI OP. TUAN SITUMORANG, YANG SAYA ALAMI BEGINI:

    1. KEDUDUKAN NI NA PITU ON SEDERAJAT, ( DUDUK 7 ORANG PERWAKILAN NI NA-7 DI JOLO, SLALU DI ATUR DEMIKIAN).

    2. PANJOUON DI SITOHANG (BIASA MODERATOR SIAN SI PITU AMA) MANANG HAHA DOLI SELALU MENYEBUT DEMIKIAN. ANGGI DOLI NAMI DORI MANGAMBAT MANANG SITOHANG URUK, RAJA ITUBUNGNA MANANG SITOHANG TONGA-TONGA, JALA SIAMPUDAN NAMI BONA NI ONAN MANANG SITOHANG TORUAN.

    3. DI SETIAP ACARA NAMA SITOHANG SELALU DI PANGGIL JALA SESUAI POSISI DOHOT JAMBARNI HITA NA-7 NAMARDONGAN TUBU.

    4. PESTA NI POMPARAN NI SITUMORANG SI 7 AMA, SAGONDANG DO HITA SALUHUTNA NA-7, JALA SAURDOK.

    Fakta ini slalu terjadi baik di para Punguan SITUMORANG si-7 Ama yang berhati mulia. Termasuk di Bogor, karena saya sering mengikuiti acara adat disana. Bahkan Raja adatnya pun dari kita SITOHANG.

    PERTANYAANKU DI HITA, SESUAI DENGAN SEJARAH AWAL dan PerkembanganTERBENTUKNYA HITA NA-7, SALAH atau BENARKAH ITU???????.

    MOLO PENDAPATHU, ITU SUDAH BENAR SESUAI SEJARAH.
    Jadi Kita harus menghargai Tuan Situmorang yang telah memberikan nama pertama bagi Sitohang, dan mengikutkan nama Sitohang di belakangnya.
    ITU FAKTA SEJARAH YANG TIDAK BISA DIRUBAHHHHHHHHH.

    Tentang PADAN, Maaf memang disampaikan oleh Orang Tua kita melalui cerita, TAPI JANGAN PERNAH SEBUT ITU “TURI-TURIAN”. Turi-turian tidak Hidup, TAPI PADAN ITU HIDUP. Kalau nekad, Langgar aja.

    DEKKE NI SABULAN TU TONGGINA TU TABONA
    AKKA SILAOSI PADAN, TURIPURNA TU MAGONA

    Alasan rasional tentang ini sudah di ulas di atas, Pangalaosi padan sama dengan DURHAKA SAMA ORANG TUA.

    NDUNG DIPASAHAT TUAN SITUMORANG PADAN I TU PINOMPARNA NA-7 i, DISUANTHON DO SADA DAKKA NI JABI-JABI. Sampai sekarang sudah ratusan tahun, Pohon Jabi-Jabi ini masih hidup dan tumbuh subur. LIHAT DI URAT.

    Ini satu bukti sejarah turunnya PADAN itu.

    Terakhir pada kesempatan ini, saya hanya bisa menghimbau.

    1. JANGAN LUPA SEJARAH AWAL.

    2. JANGAN LANGGAR PADAN NAUNG PINASAHAT NI OPPU TUAN SITUMORANG TU PINOMPARNA NA -7 i.

    3. Kita Sitohang jangan memanggil dan membagi pomparan ni Opputati dengan Situmorang, Siringo-ringo, Sitohang. (Siringo-ringo dan Rumapea adalah anak dari TUAN RINGO). TUAN RINGO siampudan na, Tetap mamboan Goar TUAN RINGO. UNANG MARAMBALATAN. Denggan ta jou na-7 i, berurutan.

    3. MARBISUK MA HO SONGON ULOK, JALA MARROHA SONGON DARAPATI.

    4. Tentang nama SITOHANG, Adalah sah dan memang tidak ada yang memperdebatkan. Jala di Paradaton Sitohang juga menghargai nama awal yang sah dan diberikan langsung oleh Tuan SITUMORANG. Jala Hahatta Situmorang menghargai panggoaran na ni leon ni Oppu Tuan Situmorang na parjolo i, ima Dori Mangambat, Raja Itubungna, dan Bona ni Onan.

    5. DOSNIROHA: On do sada arta na diturunthon Opputta di Hita. Ondo arta nasora suda. Molo dosrohatta, Tupa do sude parngoluotta.

    6. Tujoloan nia rion, Dalam konteks Punguan SIPITU AMA, perlu dibuat sebuah Dewan Spiritual (Songon dewan Syuro) yang anggotanya terdiri dari perwakilan dari KE-7 ini (Mulai Siakkangan sampai Siampudan). Dari Lumban Pande sampai Bona ni Onan (Sitohang Toruan) pilih satu yang penuh spiritual KETUHANAN untuk duduk disana.

    7. Dewan Penasehat selama ini, memang sudah berfungsi baik, tapi agar lebih mengkover semua yang 7, DEWAN INI saya pikir akan membuat senang semuanya kita.

    HORASSSSSSSSS DAN TUHAN MEMBERKATI.

    Reply
  20. M. SITUMORANG

    Horas ma dihita saluhutna pomparan ni Oppui !!!
    Sombaku ma tuan nami dihita pomparan ni Oppu Tuan Situmorang sipitu ama, boasa ma hita ” marsigulut ” di naso porlu.
    Au si nomor 2 do ( Lbn. Nahor ), maringanan di Karawang Jawa Barat,tung mansai rarat do huhilala pandohan manang cara berpikir ni angka haha anggiku na adong di blog on,
    1. Boasa ma persoalhononta marga ” Sitohang ” ? aha salana, aha bonsir na ? sian najolo pe nungnga adong margai, lantas ada yang salah dengan marga tersebut?
    Sai tapasomal-somal ma tu hadengganon jala nadenggan ma tutu na ro, kecuali didok sitohang songon on: ah dang masuk tu situmorang hami bah, ai marga nami pe asing do, ninna rupani ! baru pe masalah !!!!!!!
    Jadi dihamu saluhut pinompar ni damang ! sotung ta biasahon mangarukkari naso patut jala naso porlu.

    2. Mari kita sama-sama memikirkan angka na denggan i sahat tu marsundut-sundut pinomparta sogot, sehingga mereka bangga menjadi pinompar ni oppu ” Tuan situmorang ” jala Situmorang sipitu ama tetap solid.

    Horas ma dihita,

    Bintatar ma pandingdingan simartolu ma parhongkom,
    Horas ma dihita pomparan ni oppunta marsipairing-iringan
    Debata ma na margonggom.

    Reply
  21. Drs Dewasa Sitohang

    Saotik masukan sian Ahu, alan nabaru do pe Ahu di Milis on, alana adong do Hata namandok ” Better late than never”.
    Di HITA BATAK, adong do landasan na TOLU i, salah satu ==> ” MANAT ” Mardongan Tubu, arti Hata MANAT, pelan2, teliti, jangan ada menimbulkan akibat yang tidak bagus, atau memaksakan kehendak, molo hata kantang na ” Think today, and speak tomorrow “. Pandokan on di hita BATAK nungnga adong mengandung makna ” LAMBOK ” alana berhubungan tu perasaan antara satu dengan yang lain, apakah itu BICARA, SIKAP atau PERBUATAN. Sian sipitu amai nunga tarida tarsurat SITOHANG i berdiri sendiri di urutan pa 5,6, dohot 7. Sebagai contoh ke 6 ndang disurathon : SITUMORANG SITOHANG RAJA ITUBUNGNA, alai langsung do disurathon SITOHANG RAJA ITUBUNGNA, ndang na mandok SITOHANG i ndang bagian ni keturunan ni ompu Tuan SITUMORANG, artina Marga SITOHANG i ingkon di akui do keberadaanna, jala pangidoan asa MANAT hahadoli. Hea do ra tabege boha argani Goar ni sada halak di Ibana. Tacontohon tu diriku, goarhu si DEWASA, molo adong manjou DEWASA di tempat nagodang / rame jolma, pintor sibuk do mangalului sumber ni soara i, alana tung denggan do hata ” DEWASA ” i di pinggol hu, jala hu hasiholi do goarhi, Las / lomo rohangku mambege. Songoni do Hami Marga SITOHANG, Hata SITOHANG ido goar Marga na huhasihol / huhalomohon Hami, Jadi tetap do SITOHANG. Dibagasan Hata ” MANAT ” i, terkandung arti Masipasangapan. Molo Masipasangapan, sama2 manjaga ma HITA namardongantubu asa unang adong perasaan TIDAK ENAK satu samalain, Pangidoan Marsada ma HITA mampareak na denggani, masiarga an di roha, pangalaho dohot hata. Di culture na asing pe nungnga adong hata ” Deal with others like you want to be dealt with “.Sai anggiat ma lam tudenggan na hita na mardongan Tubu. HORAS ma HITA sasude.

    Reply
  22. benhard SITOHANG

    Topik bahasan Sitohang– Situmorang ini mungkin kurang menarik bagi sebagian orang, karena memang bicara masa lalu.

    Tetapi bagi saya, saya sangat tertarik untuk mengetahui lebih jauh, dan tentunya untuk dapat dimanfaatkan pomparan SI7AMA hari ini, besok,… dan masa depan.

    Khusus untuk saudaraku Situmorang, disamping pendapat dan interpretasi yang sudah dikemukakan, apakah ada yang punya dokumentasi (tertulis) tentang ini semua ?

    Mengapa saya tanyakan, karena biar bagaimanapun, sesuatu yang tertulis, selayaknya masih lebih dapat dipertangung jawabkan dibandingkan dengan sekedar penjelasan lisan turun temurun.

    Suatu tulisan bisa saja didasarkan pada penjelasan lisan, dikompilasi, dan dituangkan dalam 1 tulisan. Tetapi, seperti biasanya, pada saat menulis, maka si penulis akan berfikir serius… dan mencoba cross chek ke beberapa sumber yang patut dipercayai.

    Nah, kalau senadainya diantara saudaraku ada yang punya dokumen tertulis, tentunya tahun penulisan pun akan jadi hal penting untuk dipertimbangkan.

    Salah satu tulisan yang mneraik tentang topik ini, adalah tulisan J.A.M. LAUTAN Sitohang (thn 1978 ???), dan dari tulisan itu jelas disebutkan SI7AMA, bukan SITUMORANG SI7AMA.

    Horas.

    Reply
  23. lastri vernanda situmorang

    Terima kasih buat penjelasan yang diberikan oleh ito2 yang ada di milist ini. aku hanya berharap bahwa dengan adanya komunikasi diantara kita dan dengan adanya transfer knowledge seperti ini, aku rasa akan bisa mengurangi kebingungan dan ketidakmengertian kita seputar marga Situmorang Sipitu Ama. Horassssssss!!!!

    Reply
  24. Situmorang Parsamosir

    Horas,
    Ai godang do nahutanda “marga” Sitohang, molo marsitandaan didok marga Sitohang alai molo di dokumen formalna (contoh: ijazah, KTP) tetap do dibahen margana Situmorang. Berarti, tetap do dibahen natorasna margana Situmorang.

    Gabe adong sukkun-sukkun di bagas roha. Manangna holan niat ni Sitohang generasi terakhir on do nalaho mencoba memisahkan diri sian Situmorang?

    Mauliate,
    Parsamosir

    Reply
  25. Dirjon Sitohang

    Horas ma tutu haha doli Parsamosir,

    Ai tung na teliti do haha dolingku nasadaon, molo marsitandaan mittor diperiksa do KTP dohot Ijazah-na.

    Naparjolo. Molo nisulikkit hata “godang” huhilala songon hata nuaeng relatif do i, sada pe boi do lapatanna godang molo nibandingkon to naso adong. Jadi manungkun majolo ahu, piga do sasintongna nagodang nidok ni haha dolikku?

    Napaduahon. Hapir dirohakku hata “mencoba memisahkan diri”, molo dipaihut-ihut haha dolikku sian ginjang to toru ndang adong nanaeng memisahkan diri, alai manghatindangkon/mempertahankan hinaadong manang existensi.

    Horas,
    Sian Balikpapan

    Reply
  26. lastri vernanda situmorang @23th

    Saya mau menanggapi sedikit ungkapan dari ito Benhard yang ada diatas, yang mana meminta adanya suatu bukti tertulis dari penjelasan silsilah kaitan antara SITUMORANG DENGAN SITOHANG. memang benar, ketika kita ingin membuktikan kebenaran dari sesuatu hal maka kita membutuhkan data tertulis sebagai bukti otentik yang dapat kita gunakan untuk memperkuat pendapat ataupun asumsi kita. Tetapi, apabila kita kaitkan dengan kondisi kontekstual pada jaman oppung2 kita terdahulu apakah tulisan perlu untuk mereka sebagai sebuah traktat ( kita hendaknya mengingat bahwa jaman dulu “trust” itu lebih penting daripada sebuah tulisan. nah dengan cara seperti ini (meminta bukti tertulis) apakah itu tidak berarti kita kurang mempercayai apa yang kita yakini saat ini.Dalam hal interpretasi dan cross-check, saya kira ini juga bisa bersifat subjektif sehingga informasi yang dihasilkan dari data yang ada bisa saja bias. apalagi kalau yang dimintai keterangan sebagai cross check adalah orang2 terdekat yang bisa dimintai keterangan ( menimbulkan sampel seragam). Maaf kalau saya kurang sopan untuk memberi komentar ini, mengigat saya masih muda dan sedang dalam proses belajar budaya batak. Lalu kalau saya boleh meminta kenapa kita tidak bersama2 membuka pikiran, cakrawala kita terhadap sesuatu hal yang bisa kita pelajari bersama dgn penerimaan yang sama dan tentunya melalui proses pembelajaran yang sama supaya kita bisa saling menguatkan bukan mencari celah diantara kita, karena tanpa dicari juga hal itu pasti ada, nah yang penting sekarang adalah bagaimana menerima celah itu sebagai wadah untuk salaing memahami dan mengasihi. HORAS DI HITA SUDE (jogjakarta, 26 September 2008)

    Reply
  27. Harrison

    Menanggapi Appara Situmorang Parsamosir, saya salah satu dari Sitohang yang KTP Situmorang, itu bukan kemauan saya tetapi sudah sejak Amang Tobang karena dia merantau dari Palipi ke daerah Pangaribuan yang nota bene semua marga Lontung (Gultom, Pakpahan, Nainggolan, Harianja), jadi untuk lebih mempererat hubungan dengan masyarakat sekitar Dia menyebut diri Situmorang sekaligus supaya ada saudara dongan tubu (maksudnya sian lontung) karena sampai sekarang setahu saya hanya kami sekeluarga disana Sitohang/situmorang. Saya tidak menyesali apa yang telah dibuat oleh Amang Tobang saya, pada zamannya itu mungkin penting tetapi ketika kami melihat bahwa tarombo kami adalah Sitohang Uruk, sekarang saya lebih bereksistensi dengan Sitohang karena bagaimananpun saya dari sana, akhirnya sayalah yang pertama dari keturunan kami yang mengembalikan marga Sitohang kepada Anak saya. Saya mau tegaskan bahwasannya generasi Sitohang saat ini bukan untuk memisahkan ataupun tidak mengakui garis keturunan dari Ompu Tuan Situmorang tetapi hanya untuk menegaskan bahwa SITOHANG adalah marga (Aksioma). Horas.

    Reply
  28. sitohanguntuktapanuli Post author

    Postingan mengenai hubungan SITOHANG dan SITUMORANG ini merupakan postingan yang paling banyak dibaca pengunjung blog. Ini menandakan masalah ini memang hidup dalam sanubari SITOHANG dan saudaranya SITUMORANG.

    Dari dialog ini terungkap jelas fakta bahwa dalam internal marga SITOHANG maupun marga SITUMORANG ada penafsiran yang berbeda beda mengenai latar belakang lahirnya nama punguan SIPITU AMA.

    Marga SITOHANG umumnya menghendaki nama punguan itu disebut SIPITU AMA; sementara keturunan SITUMORANG menghendaki nama punguan OP TUAN SITUMORANG SIPITU AMA atau Punguan Op. Tuan SIMTUMORANG saja.

    Perbedaan ini tidak akan pernah selesai dan akan menjadi batu sandungan di kemudian hari karena tidak ada dokumen atau prasasti yang mendasari klaim kedua kubu. Semua mengklaim sebagai “itulah bunyi tona ni Op. Tuan Situmorang kepada ketujuh cicitnya yang oleh ketujuh cicit tersebut diterima sebagai padan”. Sayangnya bunyi lengkap padan tersebut tidak pernah dituliskan secara jelas. Kalaupun pada masa itu belum dikenal tulis menulis, generasi keturunan SIPITU AMA yang telah mengenal tulis menulispun tidak pernah berusaha merumuskan kembali rumusan padan tersebut secara bersama-sama untuk diwariskan sebagai pegangan bersama oleh genarasi yang lebih muda.

    Alhasil seperti yang dialami oleh banyak keturunan SIPITU AMA saat ini, semua mengklaim sebagai yang tahu persis mengenai rumusan tona dan poda ompu ini. Bahkan kalau sampai pada perdebatan rumusan poda dan tona mana yang betul sekarangpun ada yang menantang untuk sama-sama pergi ke Urat untuk meminta petunjuk roh nenek moyang untuk memberi petunjuk rumusan tona atau padan yang sebenarnya di bawah pohon jabi-jabi sisangapan. Hal yang rasanya tidak mencerminkan akal sehat ditengah-tengah masyarakat yang sudah jauh berkembang pengetahuan dan teknologinya.

    Meskipun forum ini cukup memberi sumbangan dalam mengangkat permasalahan ke permukaan cukup jelas bahwa dialog di blog ini tidak akan dapat menyelesaikan masalah ini.

    Jelaslah bahwa musyawarah langsung para pengurus marga-marga SITOHANG dan SITUMORANG disertai orang-orang tua dan kaum mudanya merupakan sebuah upaya terbaik. Dan musyawarah semacam itu sudah sepatutnya dilakukan dengan dasar bahwa:

    1. Saat ini marga-marga SITOHANG dan SITUMORANG adalah dua marga yang diakui eksistensinya oleh masyarakat umum baik di dalam masyarakat Batak maupun bukan Batak;
    2. Perlu ada pengakuan dari kedua belah pihak atas kedaulatan masing masing dan sikap berdiri sama tinggi duduk sama rendah;
    3. Harus ada upaya untuk mendokumentasikan hasil-hasil yang dibicarakan dan semua kesepakatan pokok sebaiknya di buatkan dalam bentuk prasasti.

    Semoga keluarga besar SITOHANG dan saudara tua SITUMORANG dapat bergandengan tangan secara bersama-sama menyongsong masa depan manusia yang lebih beradab dan sejahtera.

    Horas,

    Reply
  29. Drs Dewasa Sitohang

    Semakin hujaha sude na nidok ni Haha Doli Jonner Situmorang, adong sada masalah di SITUMORANG dohot SITOHANG di BOGOR.Unang annon Maraprap naso mangulang ( Gabe dohot Haha Doli situmorang na deba nai, nirimpu sarupa pendapat na tu Pendapat Mu ).
    Holan HO ( Panggilan asa akrab na mardongan sabutuha HITA ) dope Jonner Situmorang na mandok:
    Marga SITOHANG bukan MARGA, Holan SITUMORANG do Marga. Baru on dope ( Baru TUBU ==> pertama sekali) hea hubege saleleng na di tano BATAK on Ahu ( Ndang hu ingot be sebelum na, alana adong Theory Reinkarnasi….. ninna……..betul atau tidak ndak tahulah…….mengkel ma jolo HO ). Ahu saonari nungnga marumur 56 tahun.
    Ta Ingot ma ” DOSA ” molo patubu2 hon Hata. Tubu artinya BARU ADA. Sama Hal nya Issue yg mengatakan SITOHANG bukan MARGA, ==> ANDA lah yang membuat itu ” TUBU “. Si Pitu Ama sudah dikenal orang lain di batak si sada hata, si sada…….., mungkin sampe si sada kantong / dompet… molo minum, mangan Manggalangi, sampe mar rude2.

    Saya ikut di MUBES sipitu ama di Medan, disana disebut dan di PERTEGAS ( berarti sudah ada sebelum MUBES ), Panjouon do di Ulaon asa : Di jouhon di Ulaon i didok ULAON ni SITOHANG, karena selama ini olo dope ( beberapa kali saja ) sai didok Ulaon ni SITUMORANG hape SITOHANG do na marulaon.

    Jala hujaha TULISAN muna parjolo, ROOT TAP ( Sumber Akar ) , boasa Hahadoli Jonner Situmorang mandok Marga SITOHANG ndang Marga, Na MANDELE …mungkin MURUK .. do Hamu ala so berapa DENGGAN atau KOMPAK SITUMORANG tu SITOHANG di BOGOR, (didok Ho ) Holan angka boru SITOHANG ido na burju, Memang ingkon Burju do tu HULA2 na.
    Taringot tuson taingot ma Ende ni EBIT G ADE, KENAPA DAUN ITU BERGOYANG, alani Angin do kan ? Jadi dilului ma arah ni Angin i sian dia ro, dohot percepatanna ( KM / Jam ), Boasa sampe GOYANG, alai angin nai… ndang HALISUNGSUNG.. manang….. Angin na Mar impot2 dope kan?
    Jadi Permasalahan, Boasa SITOHANG na diBOGOR hurang jonok tu SITUMORANG, Aha do mambaen. IDO si LULUAN dohot si PADENGGANON, Unang pintor Mambaen sada STATEMENT na so boi di jalo / diterima CHALAYAK RAMAI, apalagi … Dongan samudar MU…aha dope tahe….Dongan Sabutuha / boltok Mu. AHU sandiri ndang boi hu terima STATEMENT na nidok Mi. Molo Ahu,Totop do MARGA ku SITOHANG. Biar pe adong ancaman di..DITEMBAK DUABELAS PAS pe taho.
    Memang menurut Ilmu Jiwa, Lam mar umur se seorang i, Lam maol do MENGAKU SALAH atau MINTA MA”AF….( Ndang na tu Ho na Hu dok )… Sai tong do di pertahankan pendapat / AKSIOMA na. Hape belum tentu BETUL. Jala menurut angka jolma napistar ( Na Culture na asing sian Hita Batak )……..di dok do :
    Orang BATAK itu TEGAS, PINTAR, PEMIKIR ( artinya jolo dipingkiri / dipertimbangkan dalam2 mengenai Akibat dan Hasil dari apa yang mau dikatakan nya ).
    Alai Kelemahan Hita BATAK ( sebahagian kecil …ndang sude) :
    1. Maol Minta Ma’af
    2. Guru Dok na, HATA na asa HATA, Par HATA SADA, kurang mendengar/ mengharga i Pendapat orang lain, biar pe misalna …dongan sabutuhana.
    3……
    4……
    5. Ditambai dongan , asa boi Hita NGACA sendiri, Dalan laho asa bo Hita Lam tu Maju na.

    Molo Ahu sandiri ( Sai anggiat kesampaian ), hucoba do manggabung sifat dari Culture atau suku na adong di Indonesia on, godang do nian suku di Indonesia alai hu coba memahami / mangulahon 3 ( tolu ) sifat :

    I. Suku BATAK ==> TEGAS ( ter masuk mengatakan SALAH atau BENAR, YA atau TIDAK…MARETONG / MATHEMATIC na malo an.. Boi ma jadi DECISION MAKER…alai molo MINTA MA”AF…maol do ), PINTAR, PEMIKIR ( Asi rohangku di Ahu,….Hape sampe saonari so pintar dope Ahu )

    II. Suku JAWA ==> Legowo, Penyabar ( So napola malo nian Nasida…boi do ra di ingot Hamu tingki SINGKOLA na jolo…….Ndang pola na malo nasida di singkola…..Alai Halak Jawa do na jumago / nagabe Pemimpin di Negaranta INDONESIA on, sahat tu KAKANWIL….torus TOP & DOWN…. sa otik do Halak Batak.

    III. Suku Minang ==> Malo Mangkatai / Marsilat Lidah …moloh istilah keren na ..DIPLOMATIS..FLEXIBLE…olo do MINTA MA”AF, Hape Belum tentu Ibana sala… asal ma sahat tujuan gabe…MONANG… biar pe marbelok2 pe taho asal sampai di tujuan na ni tuju ni si Pembicara.

    LAMBAS ma ROHANTA be.

    Ndang na mandok SIFAT dari CULTURE2 na lain na di Indonesia on…ndang denggan. SUDE CULTURE do denggan.

    Ipe di Hahadoli Jonner SITUMORANG, asa totop dumenggan……..Dipadenggan ma Hubungan ni SITUMORANG dohot SITOHANG na di BOGOR, Unang dipukul rata sude na HURANG DENGGAN, sampai2 didok Marga SITOHANG naso MARGA.

    Hami SITOHANG, totop do mangingot Patik Palimahon i ……( ndang leterledge di artihon )==> Ingkon Pasangapon Mu do Natoras Mu. Ho pe Haha doli Jonner, Natoras nami do Ho, ai di ginjang do SITUMORANG di partuturon. ALAI INGKON NA MA SIPASNGAPON DO HITA ..==> asa TABO. Pokok ..e NOTHING TO LOOSE ma..Ndang Adong Salah…Ndang adong diantara HITA JOLMA na PERFECT dohot ABADI…. MARSADA ma HITA. H O R A S

    Reply
  30. Sitohang Panondang

    Salam buat semua appara si doli …….

    Prinsip bagi saya sangat sederhana saja….
    Kita semua bersaudara ….. apalah arti semua nama atau marga kalau hanya membuat saudara kita yang lain tidak menjadi sejahtera.

    Hati saya sangat sedih … jika ada marga situmorang dan sitohang dan mungkin juga siringo-ringo, selalu mempermasalahkan penyebutan atau panggilan atau apapun itu.

    Kita semua pomparan ompu tuan situmorang juga anak-anak Tuhan, menginginkan penghormatan bagi orang tua kita juga leluhur. Saat ini ulah personal-lah yang mendengung bahwa sitohang beginilah..situmorang begitulah…

    Mungkin orang tersebut (saudara kita juga) saat ini berposisi sebagai pengurus di organisasi/punguan ataupun orang yang merasa sudah memberi konstribusi lebih (baik materi atau pemikiran) ingin menunjukkan bahwa ia sangat berperan di punguan sipitu ama, sehingga jika ada saudara lain yang membantah, muncullah issue untuk memecah persatuan.

    Mustahil seorang marga situmorang atau sitohang yang ingin mewujudkan kesatuan di punguan akan tetapi tidak mau mundur selangkah pun, demi hasadaon di pomparan ompu tuan situmorang.

    Percayalah saudaraku… kepada siapapun yang ingin memecah pomparan ni ompu tuan situmorang, adalah sudah mengiris dagingnya sendiri, biarlah Tuhan yang Maha Adil dan Bijak yang akan bertindak.

    Bagi saudaraKu..yang tetap ingin exist akan hasadaon di pomparan ompu tuan situmorang, jangan mundur…tetaplah maju tidak goyang sedikitpun….biarpun gunung–gunung beranjak dan lautpun bergoncang tetap setia pada Tuhan. Amin

    Reply
  31. sitohang bekasi

    Horas ma di hita saluhut na …..

    Pesta Bona Taon Punguan Pomparan ni Ompu Tuan Situmorang Sipitu Ama Boru dohot Bere se-Bekasi

    Rencananya akan diadakan pada :

    Hari : Minggu, 8 Maret 2008
    Tempat : Gorga Mangampu Tua 3 Bekasi Timur
    Acara : – Ibadah
    – Pelantikan pengurus periode 2009-2013
    – Gondang

    Ketua Pesta Bona Taon :
    B. Sitohang / br. Simbolon (Ama Josua) dari sektor 13 (daerah Tambun bekasi)

    Wakil ketua : semua ketua sektor 1 s/d 21

    Sekretaris :
    J.H. Sitohang / br. Purba (Ama Sondang) dari sektor 12
    (daerah wisma asri, dsk)

    Pada hari Minggu, 26 Oktober 2008 akan di kukuhkan sebagai sektor baru sebagai sektor ke -21 (daerah karang satria, alamanda, rawa kalong).

    Untuk Info & register atau partisipasi lainnya hub. email sekretariat : sipituama.bekasi@ymail.com

    Reply
  32. Gregor

    Saudara saudariku dalam Kristus Yesus,

    Sepertinya opini/”perdebatan kecil” ini kembali ke belakang/kemunduran mempersoalkan pengakuan atau apapun bentuknya entah padan/janji leluhur kita antara hubungan sitohang dengan situmorang, yang sebenarnya sudah fakta/nyata sitohang ya sitohang, situmorang ya situmorang dan Op. Tuan Situmorang adalah leluhur/ompung kita.

    Seperti yang dikatakan sdr Benhard, “..semua untuk mengungkap, bagaimana semestinya… bukan bagaimana yang saya tahu.. .dan bukan bagaimana yang dikatakan orang lain…….Tetapi, bagaimana yang SEMESTINYA”.

    Semestinya kita melihat spt berikut ini:
    Kita mempersoalkan hal-hal ini sementara masih banyak hal yang jauh lebih penting dari itu. Ok lah saya katakan saya marga sitohang, yang lain mengatakan dia marga situmorang, dan yang lain lagi mengatakan siringo yang lain lagi mengatakan rumapea, dan yang lain entah marga apa lagi…,
    Tetapi banyak mungkin saudara2 kita disana tdk bisa hidup layak oleh karena kemiskinan atau karena krisis, mari kita lihat saudara-saudara kita di kampung sana, di samosir sana (merupakan kantong kemiskinan), apa yang dulu dinyanyikan saudara kita Bunthora sitomorang tentang pulo samosir yang kaya, tetapi justru kemiskinan yang ada, dan blm ada Program pemberdayaan ekonomi daerah spt dulu didengungkan dalam program “Marsipature hutanabe”.

    Atau apa bedanya dengan bangsa Indonesia ini, berkata :
    “Kita adalah bangsa yang bermartabat, bangsa besar, dan kekayaan alam kita yang melimpah, tetapi lihatlah di Pasuruan sana baru-baru ini banyak mati hanya karena untuk mendapatkan sembako/jakat Rp. 30rb, atau lihat jugalah betapa bangsa kita ini tak punya harga diri banyak tenaga TKW kita yang jadi budak/pembantu rumah tangga di luar negeri, atau banyak juga kita baca di media penjualan gadis-gadis untuk menjadi penghibur bahkan dijual oleh bangsa kita sendiri, Inikah bangsa yang beradap itu? , namun sebaliknya di sisi lain orang-orang expatriat/orang luar yang kerja di Indonesia di hargai dengan gaji tinggi, fasilitas yang mewah walau kemampuan mungkin sama dengan orang-orang kita, jadi lagi-lagi kita memperebutkan hal2 kecil sementara untuk hal besar kita tidak memiliki energi untuk memikirkannya.

    Tapi perlu kita sadari bahwa membangun kualitas hidup di dalam Kristus jauh lebih penting dari pada semua itu
    Mari kita lihat apa yang dikatakan rasul Paulus ini :

    Filipi:
    3:4 Sekalipun aku juga ada alasan untuk menaruh percaya pada hal-hal lahiriah. Jika ada orang lain menyangka dapat menaruh percaya pada hal-hal lahiriah, aku lebih lagi:
    3:5 disunat pada hari kedelapan, dari bangsa Israel, dari suku Benyamin, orang Ibrani asli, tentang pendirian terhadap hukum Taurat aku orang Farisi,
    3:6 tentang kegiatan aku penganiaya jemaat, tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurat aku tidak bercacat.
    3:7 Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus.
    3:8 Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus,
    3:9 dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena mentaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan.

    Jadi apa yang dikatakan rasul Paulus tidak jauh beda dengan yang diperdebatkan di milis ini.
    Anda boleh bangga sebagai situmorang atau sitohang, tetapi sama spt rasul Paulus dahulu bangga dengan segala hal-hal lahiriahnya, namun kemudian dianggap sia-sia dan bahkan sampah setelah mengenal Kristus, Adakah kita mengenal Kristus? dalam arti yang sesungguhnya, sama spt Mother Teresa dengan kaum miskin dan papa?.
    (Silakan anda baca Alkitab tentang Panggilan dan Pertobatan Rasul Paulus di Damsyik waktu perjalanan ke Damaskus)

    Jika anda juga berkata bahwa perdebatan yang dibahas di topik milis ini juga karena alasan kasih, atau sangkamu seolah-olah dengan menemukan “kebenaran” padan itu anda beroleh keselamatan, tentu tidak. Atau jika karena alasan kasih/holong juga silakan anda uji kasihmu itu dengan apa yang dikatakan Rasul Paulus dibawah ini.

    Jauh lebih baik rasanya kalo Sipitu ama ini justru menghidupi Kristus itu sendiri dan memang SEHARUSNYALAH begitu, dalam arti dipimpin/dituntun/dirajai oleh Kristus, dalam seluruh dimensi kehidupannya, dalam hal KASIH/HOLONG, seperti yang dikatakan Rasul Paulus :

    I Korintus 13:
    13:1 Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing.
    13:2 Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna.
    13:3 Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikit pun tidak ada faedahnya bagiku.
    13:4 Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.
    13:5 Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.
    13:6 Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.
    13:7 Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.
    13:8 Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap.
    13:9 Sebab pengetahuan kita tidak lengkap dan nubuat kita tidak sempurna.
    ……..
    13:13 Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah KASIH.

    Menurutku daripada mempersoalkan hal dalam milis ini Situmorang-Sitohang (hanya berupa padan yang tidak ada bukti otentik, dan itupun tidak akan memberikan keselamatan apa2 bagi kita, sama halnya mungkin spt hukum taurat tidak akan memberikan keselamatan apa-apa).

    Jika dari antara anda saudaraku nanti terjadi hal2 kecil di paradatan itu biasa namun ikatlah semuanya itu dengan kasih spt pada Korintus 13 tadi.

    Mari kita lihat apa yang dikatan kepada Titus berikut ini :
    Titus 3
    3:9 Tetapi hindarilah persoalan yang dicari-cari dan yang bodoh, persoalan silsilah, percekcokan dan pertengkaran mengenai hukum Taurat, karena semua itu tidak berguna dan sia-sia belaka.

    Atau apakah menurut saudara bahwa padan itu dapat mengatur dimensi kehidupan sipitu ama?, menurutku tidak, buktinya inilah sudah menjadi perdebatan dan mencari pembenaran untuk menemukan “kebenaran” semu.
    Jadi sama halnya spt yang dikatakan rasul paulus, Karena hukum taurat didasarkan atas siapa yang melakukan/mentaati/memeliharanya, tetapi adalah lebih baik kita melihat lebih jauh dalam bimbingan Roh Kudus apa yang dikatakan Rasul Paulus berikut ini :
    Karena keselamatan yang kita miliki bukan karena mentaati hukum taurat (…mungkin juga padan) tetapi oleh karena iman percaya pada Kristus, tentu saja iman. Tentu saja iman yang berbuat spt dituliskan di kitab Yakobus 2.
    2:26 Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.

    Saya pikir apa yang dituliskan Rasul Paulus ini dapat dipahami dan cukup jelas.

    Jadi mari kita arahkan pandangan kita kedepan, mari kita memandangnya dengan paradigma yang baru; memelihara hidup ini, merawatnya dan mewariskan kehidupan yang lebih baik, membuat hidup ini lebih bermutu.
    Inilah yang mesti kita lakoni:
    Matius:
    22:37 “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.
    22:38 Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.
    22:39 Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.
    22:40 Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”
    Rasanya terlalu panjang nanti kalo kita terus membahasnya. But I want to say “Knowing is something, Action is everything, but Action with Knowing is perfecting” (mengetahui itu adalah sesuatu, melakukannya segalanya, namun melakukan dengan mengetahui yang benar itu adalah sempurna).

    Tuhan Yesus Memberkati

    Reply
  33. Sudirman Situmorang

    Horas… di hita Saluhutna.

    Dihita na Marhaha Anggi, manat hita marsituri turian.

    S.Situmorang – Lbn Pande , Sundut No.16
    Sidikalang , 23 Agust 1963.
    Jl. Propinsi Km. 165 Gg. Korea II No.08
    Kec.Satui. Kab.Tanah Bumbu. Kal.Selatan.
    HP: 0812 5474 824 / 0812 513 7450.
    PT. Wahana Baratama Mining – Grup Bayan Resources.

    Reply
  34. Sudirman Situmorang

    Horas di hita na Marhaha Anggi.
    Ahu S.Situmorang – Lbn.Pande.No. 16 umur 45 thn.tubu dan magodang di Tigalingga Dairi. asal ni Oppung sian Lumban Pande Urat Pulau Samosir.

    Masa lalu yang baik maupun buruk harus kita ingat, tapi jangan salah dalam mengaplikasikannya.masa lalu yang baik kita ingat agar kita dapat berbuat yang lebih baik dan masa lalau yang buruk sebetulnya harus lebih prioritas kita ingat sehingga kita TIDAK MENGULANGI NYA.

    Tu Ampara ku J.Situmorang.hu antusi dan maklum do ahu ampara na ni dokmi versi turiturian manang cerita sian oppungta na parjolo, ini adalah relatif.tapi interpretasi ni Amparakku na mandok Secara otomatis hita Na 7 on gabe Marga Situmorang saya kira ini adalah pola pikir pribadi yang bagi Anggidoli kita Sitohang bahkan mungkin sebagian Anggidoli Siringo ringo pun kita yang memakai marga Situmorang tidak dapat menerima.dan kata kata Ampara ” molo las roha muna jala dos roha ta boido pangidoon muna di Mubes Medan – Tentang pemakaian Marga Sitohang.Saya pribadi hata ni ampara on TIDAK SETUJU.dengan alasan ( versi turiturian ):Setelah op ta sundut pa duahon (Panopa Raja dan Op.Pangaribuan )dohot sundut pa toluhon ( Op.Abbolas, Parhujobung dan Raja Babiat) di Alap Tuhan ta, Alai mangolu dope OP.Tuan Situmorang.roma Op.Tuan Situmorang mandok tu hita na 7 ( 1.Lbn.Pande, 2.Lbn.Nahor= Anak ni Op.Abbolas,3.Suhut Ni Huta,4. Tn.Ringo = Anak ni Parhujobung dan 5.Sitohang Uruk,6.Sitohang Tonga tonga dan 7. Sitohang Toruan = Anak ni Raja Babiat.” Hamu na pitu dang matean ama. adong dope ahu jala Goaranhu ma Hamu Si Pitu Ama. dison ampara (J.Situmorang) tidak disebut Goaranhu ma Hamu Situmorang. mengenai istilah atau definisi atau asal muasal Tohang ( ada 2 versi ) hal ini saya tidak bisa komentar karena saya sendiri belum pernah mendengar.

    Tu hamu Anggidoli nami Sitohang pangidoanhu unang pola di perdalam manang gabe negatif persepsi mu tu Amparaku J.Situmorang on manang tu hami na mamangke Marga Situmorang.alana berbeda beda versi do cerita manang turiturian na tadapot sian sundut ta be.

    Sebagai Pangidoan sian Ahu ,Boi manian hita na 7 holan mamboan Sada Punguan ima “Punguan Tuan Situmorang Si Pitu Ama ”

    Sebagai contoh : Thn 1990 – 1994 Ahu berdomisili di Balikpapan – Kal.Timur ,hanya ada satu Punguan ni Op.Ta. Ima ” Punguan Tuna Situmorang Sipitu Ama”. Thn 1995 – 2004 saya berdomisili di Kabupaten Berau Kal.Timur, juga hanya ada satu Punguan yaitu ” Punguan Tuan Situmorang Si Pitu Ama.Thn 2005 – 2006 saya berdomisili di Kota Samarinda sebagai ibu kota Propinsi Kalimantan Timur, disini ada dua Punguan yaitu ” Punguan Tuan Situmorang Si Pitu Ama ” dan ” Punguan Sitohang “. Thn 2007 sampai sekarang saya berdomisili di salah satu kecamatan di Propinsi Kalimantan Selatan, dan setahu saya hanya ada satu Punguan yang mencakup dua Propinsi yaitu Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah yaitu ” Punguan Tuan Situmorang Si Pitu Ama “. dan seingat saya semasih kuliah di Medan Thn 1984 – 1989 di Kota Medan Juga Hanya ada Satu Punguan yaitu Punguan Tuan Situmorang Si Pitu Ama, kalau tidak Salah Ketua Punguan Ir.Suga Situmorang – (Santabi Sangap ni Goarna).

    Nah , Saya kira ini yang perlu kita bahas.bicara hak azasi membentuk Punguan ,ya itu tidak salah. sekarang di Samarinda Kalimantan Timur dan di Bogor sudah ada Punguan Sitohang yang tersendiri.sekarang kita renungkan kembali kalimat pembuka saya diatas.

    Nungnga tung denggan hita na 7 di pature Op.Ta Tuan Situmorang ,tetap ma nian marsada hita mamboan Goar ni Op Ta Tuan Situmorang Si Pitu Ama.betul Anggidolinami Sitohang Tidak mengingkari bahwa Sitohang adalah Pomparan ni Op. Tuan Situmorang.tapi mari kita renungkan kembali Tona ni Op.Ta Tuan Situmorang.

    Songoni majolo hata sian ahu, molo tung adong hurang lobi pandohanhu marsianjuan hita.Horas di hita Pomparan ni Op. Tuan Situmorang.

    S.Situmorang / Mangalap Br.Manik.

    Reply
    1. Rotua Sitohang

      setuju Bapa tua, kami disini juga cuma satu Punguan “Op.Tuan Situmorang si7ama” tapi tetap marga Sitohang akan dipanggilkan marga sitohang seperti saya dari lahir boru Sitohang sampai kapanpun boru Sitohang dan tidak akan berubah meski kurang tau sejarah nama/marga tersebut…tapi menjunjung tinggi seluruh keturunan Op.Tuan Situmorang sebagai saudara…
      Horas

      Reply
  35. Sudirman Situmorang

    Koreksi salah tulis :Punguan yang di Balikpapan Tertulis Tuna Situmorang Si Pitu Ama seharusnya ” Tuan Situmorang Si Pitu Ama “.

    Reply
  36. patar situmorang

    Horas ma di hita sasude

    Situmorang, Sitohang, Siringo-ringo, Rumapea setahu saya adalah marga. Bahwa kita adalah keturunan Ompu Tuan Situmorang itu yang tetap harus kita pertahankan.
    Horas ma di hita sasude pinomparna. Botima.

    Reply
  37. Ringo Par- Bekasi

    Patingkoshon nasinurat ni Sitohang Bekasi
    October 3, 2008 at 2:38 am
    Tentang,
    Pesta Bona Taon Punguan Pomparan ni Ompu Tuan Situmorang Sipitu Ama Boru dohot Bere se-Bekasi

    Tarsura;
    Hari : Minggu, 8 Maret 2008
    Tempat : Gorga Mangampu Tua 3 Bekasi Timur

    Sasintongna;
    Hari : Minggu, 8 Maret 2009 ( taonna )
    Tempat : Gorga Mangampu Tua 3 Bekasi Timur

    Mauliate ba………

    Reply
  38. Ringo Par- Bekasi

    Patingkoshon nasinurat ni Anggidilikku Sitohang Bekasi
    October 3, 2008 at 2:38 am
    Tentang,
    Pesta Bona Taon Punguan Pomparan ni Ompu Tuan Situmorang Sipitu Ama Boru dohot Bere se-Bekasi

    Tarsura;
    Hari : Minggu, 8 Maret 2008
    Tempat : Gorga Mangampu Tua 3 Bekasi Timur

    Sasintongna;
    Hari : Minggu, 8 Maret 2009 ( taonna )
    Tempat : Gorga Mangampu Tua 3 Bekasi Timur

    Mauliate ba………

    Reply
  39. azer

    Horas …

    Aku Situmorang Suhut Ni Huta…

    setelah membaca tentang “HUBUNGAN SITOHANG DENGAN SITUMORANG DAN SIPITU AMA ” dan Comment appara “Benhard Sitohang”…dan comment-comment yang lain…aku jadi lebih tau tentang Situmorang Si Pitu Ama….Situmorang Never End

    Reply
  40. sitohanguntuktapanuli Post author

    @Hahangdoli dohot ito nami Situmorang dohot boru Tumorang na ro mandulo blog ni Sitohang on,

    Las situtu rohangku di haroro muna di blog na pinatupa ni anggi doli/ ibotomuna on.

    Manang songon dia pe interpretasi na adong di bagas roha ni da hahang manang iboto nami, pos rohanami na ingkon marsada do hita pinomparni Omputa na marsangap na martua i ima Op Tuan Situmorang ma mamompar Omputta na pitu i.

    Ninna rohangku dang adong lapatanna uso-usoan be boasa na adong pinompar ni omputta i na mar marga Siringo, Rumapea manang Sitohang. Ta palasma rohanta ala sian na sada omputta nungga adong opat marga ni pinomparna. Anggo tarsongon di ahu pribadi gabe hasangapon do i di Omputta i. Di siala ni i, dang adong tingkosna molo sai ni persoalhon boasa adong pola punguan ni Sitohang asing ni punguan Op. Tuan Situmorang Sipituama. Molo tung pe adong punguan ni Sitohang manang punguan ni holan Siringo-ringo dohot Rumapea di sada luat, tausahahon ma nisan ikkon rap huta saluhutna mambaen partamiangan bona taon paling tidak sahali dibagasan dua manang tolu taon.

    Tuhan ta ma na mandongani jala marmahan hita saluhut pomparan ni Op. Tuan Situmorang didia pe maringanan.

    Horas,

    Reply
  41. Nathan..

    Horas… dihita sasude
    Ada sedikit cerita yang perlu diluruskan ke proporsinya masing-masing.
    Satu tahun yang lalu di Karawang ini, bapak tua saya menikahkan anaknya dengan marga Tampubolon, yang sekarang menjadi lae saya.. Berarti di sini jelas yang punya acara marga Sitohang dengan Tampubolon.. Tetapi yang menjadi keheranan saya disitu.. marga kami Sitohang jarang disebut oleh raja parhata/MC dan bila dari pihak lae kami Tampubolon menyambut pembicaraan dan menyebut “Sitohang” oleh orang tua-tua disana di ralat untuk menyebut “Ompu tuan Situmorang Sipitu Ama di acara adat tersebut. Yang disebut selalu “Ompu tuan situmorang si pitu ama”. Memang benar marga Sitohang bagian dari “SI PITU AMA”.. Yang menjadi kesan pada acara tersebut… acara adat ini bukan acaranya Sitohang… dan peran Sitohang terbatas di acara tersebut. Yang menjadi pertanyaan saya ; apakah memang begitu adanya atau di daerah tertentu perannya berbeda-beda, krn waktu acara pernikahan saya di Jakarta, jelas sekali bahwa yang punya acara Sitohang. Mohon bimbingan dan koreksi, supaya kedepan semua acara adat baik adanya sesuai porsi masing-masing
    Mauliate godang…..

    Reply
  42. sitohanguntuktapanuli Post author

    @Natan

    Kalau di tempat itu Sitohang sudah membentuk punguan sendiri, sepatutnya pesta itu disebut ulaonnya marga Sitohang.

    Tetapi kalau di tempat itu hanya ada punguan Sipitu Ama maka ulaon itu akan dipanggil sebagai ulaon ni Sipitua Ama.

    Apapun itu semuanya harus dimusyawarahkan pada saat acara Martonggo Raja. Jangan smpai terjadi rebutan nama pada saat acara berlangsung. Nanti malu kita semua…

    Reply
  43. Benhard SITOHANG

    PENGEMBANGAN SDM BONA PASOGIT
    MELALUI PENYEDIAAN ASKES INFORMASI GLOBAL
    (Menggunakan internet)

    Atas inisiatif dan sumbangan ”pomparan@sitohang.org”, sejak tgl. 26 April 2009, fasilitas internet bagi masyarakat di Desa Palipi telah beroperasi, yang ditempatkan di salah satu ”lapo” (untuk kemudahan penggunaan bagi siapapun, tidak dibatasi oleh waktu dan tidak harus bertata-krapa seperti halnya kalau memasuki rumah/ruangan pribadi).

    Seluruh investasi peralatan beserta biaya koneksi internet adalah smbangan dari ”pomparan@sitohang.org”, sehingga pemanfaatannya gratis bagi masyarakat di Desa Palipi.

    Sasaran utama dari penyediaan fasilitas internet ini, adalah :

    1. Memberi kemudahan (gratis, fasilitas ada di lokasi masyarakat) untuk dapat mengakses berbagai informasi dari seluruh dunia (locationless).
    2. Memberi kemudahan untuk dapat berkomunikasi dengan siapapun, melalui email maupun ”chating”. Hal ini akan secara drastis dapat menekan pengeluarang masyarakat untuk pembelian pulsa telpon genggam.

    Sangat diharapkan, keberadaan fasilitas internet ini menjadi sarana untuk peningkatan kualitas SDM Desa Palipi (meredusir tingkat ”buta-informasi”), karena faslitias ini akan memberi kemudahan untuk mendapatkan informasi (dalam sektor apapun) dari seluruh penjuru dunia.

    Reply
  44. adi jongi situmorang

    horas ma di hita pinompar ni Op. Tuan Situmorang si 7 ama mohon saya ikut nimbrung ……………. tung merinding situtu do pakkilaan mengikuti blog on alana menimbulkan suatu konsep pemikiran yang tingkatannya tinggi dan pemahaman yang dalam sekali. salam perkenalan

    +++ Horas appara. Terimakasih sudah berkunjung.

    Reply
  45. Jhohanes Situmorang Pande

    Horas.
    Saya sangat tertarik membaca milis ini.
    saya adalah salah seorang Naposo yang aktif diYogyakarta.

    disini saya hanya menbaca penjelasan tentang SITUMORANG dan SITOHANG, sehingga membuat saya ingin menanyakan sesuatu yg masih membuat saya bingung yang berdasarkan pengalaman saya bersama2 ampara2 dan ito2 saya yang ada di Jogja.

    mohon dari amang2 ato siapapun memberitahukan jawaban pertanyaan saya ini.

    1. kenapa marga Siringo-ringo tetap mengaku bahwa dia Siringo-ringo, bukan Situmorang,
    walaupun tetap Situmorang sipitu ama?

    2. kenapa sekarang aku tahu banyak bermarga RUmapea, bukan Siringo-ringo..??
    (baik memperkenarkan diri,KTP,SIM,papan marga dipintu rumah)

    Reply
  46. Modiarjo Situmorang

    Horas….di sude Pomparan OP TUAN SITUMORANG,klo menurut saya percuma smua klo hanya cerita sprti baca komik,klo tidak ada kepedulian alias martabe,sifat kepedulian untuk membangun persatua dan kesatuan,kepedulian tu dongan tubu.mauliate

    Reply
  47. Bang Mora

    Horas ma diakka hamu natua-tua nami akka napistar jala namarbisuk. Molo na huboto, Sian Debata do ianggo hapistaran ni jolma i. Alai molo hapistaron i di salah gunahon gabe so pasangappon Debata. Jadi sebagai generasi muda: Ramba naposo naso tubuan lata, terus terang ma hudok: Dang pala bermanfaat komentar-komentar bolo tujuanna na lao mamola-mola. Jai hudok ma tu hita saluhutna: Nungga di pasada Debata hita dibagasan par dongan tubu tungpe berbeda goar manang panjou an. Sada do hita Situmorang tung pitu. Horas ma Situmorang Nabonggal jala saiunang ma gabe monggal. Hator Situmorang, Barus-Tapteng

    Reply
  48. pak noel

    Partuturan yang menarik. Molo ahu situmorang lumban nahor do . Bolo boi saotik mangalehon pendapat diblog on, ndang na mangajari. Holan pendapat do on.

    Sejauh na huparohahon masalah ni situmorang holan alani parhundulan dohot eksistensi.

    Sitohang naeng pajongjongkhon marga Sitohang asa lam balga.Las ni roha doi.

    Situmorang naeng pasadahon pomparan asa lam balga. Si dukungon do i.

    Sa sitong na gabe persoalan naso adong dope sada munas manang musawarah di punguan situmorang sipitu ama asa denggan panjaean ni Sitohang.

    Alana bolo ni ihuthon do parmasalahan non boi do hatop sidung. Asal ma adong marpungu aka jonggol jonggol ni na pitu on dibagasan sada parapoton songon na dibaen aka Raja bius na di huta.

    Kesalahan utama na huparohahon holan alani na putus do semacam tali komunikasi taringot masalah panjaean ni di marga Sitohang.

    Jala ndang adong sada solusi apabila ada ulaon, boha ma asa boi rap sauduran mangulahon ulaon on. Songon tona ni Ompu ta Situmorang i.

    Molo adong na berkompeten di bagasan blog on. Coba ma dibahen sada parpunguan seportibi ni Situmorang Sipitu Ama asa pittor sidung masalah on.

    Molo Songon pendapat diahu. Alana Sitohang do na naeng Pabalgahon di Margana, Ba Sitohang ma na sasitong na gabe Panitia Asa unang be adong sada bilangan parpocahan di hita Pomparan NI OP.Tuan Situmorang.

    Alai parjolo dohonon IDE do on. Molo songon au holan na panonton do. Jala holan pandapot do on.

    Semua bisa diatasi molo serep do rohatta di bagasan Tuhan i na naeng pabalgahon Punguan Ta be.

    Mauliate.

    Reply
  49. chandra Lukas Situmorang

    horas ma dihita saluhutna…akka pinopar ni Op Tuan Situmorang!

    Bah tahe…..massai miris,jala songon na tartodi do ahu majaha akka pemaparan muna di forum ta on bah!

    marrede majohita bah, baen hamu jo tuak i namboru asa mar lagu Situmorang jo akka haha namaranggi on, asa marsihaolan jo hami, asa lam marsada roha dohot tondi nami…..asa toho hami pinoppar si pitu ama na marsihaholongan, baen hamu jo bah, asa las sahala jala toddi ni opung nami Op TUAN SITUMORANG i!

    Marede hita dah akka bapakku dohot namboruku!

    Adong sada parende
    Tarbonggal jala tarbarita
    Molo marrude-rude
    Malo muse doi mangardang

    Sitogol markaroncong
    Ai malo muse doi ibana
    Ise mai tahe
    Ima oppung ta Tuan Situmorang

    Situmorang, Situmorang, Situmorang
    Ala situ ala rude
    Situmorang, Situmorang, Situmorang
    Par rude-rude i tahe
    Ala situ ala rude (3 x)
    O inong amonge
    Marningoti tahe
    Haholongan mu ma ibana
    Ai molo ibana marende
    Parjuji talu pasti ikkon monang
    Situmorang (3x)

    tabo nai fuang….nga sai las be rohaku, akka dongan muddarhu nga rap marsihaolan, jala nga rap marebas, to ho do tutu bah, na mar hahamaranggi hami, totong do hami marsiamin-aminan, mauliate ma tu Tuhanta tung cinta hian do ahu tu hamu o Situmorang, tu hamu oh Siringoringo, jala tu hamu Sitohang!sada ma rohatta!

    Boasa ma ikkon sai loja hita marsilat lidah holan ala ni saotik on, Toho do sesuai sejarah i. Akka dongan mudarhu do hamu saluhutna, unang be nian ibaen hamu pardebatan muna i, sotung gabe songon na lilu annon ahu na poso on, ,unang be maradu ilmu hamu, sia-sia do hapistaron muna i, molo holan nai diributhon hamuna, simpan hamu majo tenaga muna i, asa lao hita tu Medan, tu Marindal an, adong do disi namboru ta na so mangan, naso mar jabu, jala nga nalam mabiar, ala ipikkiri ujung ni ngoluna, tu dia do ibana haduan suanon ni gelengna,!

    hu ilala i do na porlu pikiron ta jala hita lului solusi na, molu tutu do hita na mar Tuhan, jala na puna parpunguan Situmorang si Pitu Ama, manang Parpunguan ni Sitohang!

    Jadi buti majo i,mauliate ma di parpungu on ta on, molo adong nahurang di hataku, anju hamu ahu dah…mulak majo ahu, di jabu si Matua ta, Horas jala gabe!

    Pauk ni Situmorang Pauk mangula juma,,,, Molo burju diboan Saur mai matua… Pitu lombu jonggi ….Parhalunghalung hotang …..Piga soara luluan soara usoan ….LUMBANPANDE ma pandapotan

    Chandra Lukas Situmorang (Suhut Ni Huta)

    Reply
  50. Marojahan Situmorang

    Horas ma di Hita Sude, Angka Damang na Pinarsangapan, Au Situmorang Lumban Nahor alai naposo dope au 28 taon, tinggal di Pangururan-Samosir (di Bona Pasogit).

    Tabo situtu topik bahasan ta on, jala las roha sude mangaithon tu hadengganon. toho do napinatorang muna i sude jala fakta doi saonari di parasaoran siapari manang di paradatan pe.

    alai namarpaddapot majo au saotik. molo taringot tu angka poda ni omputta, dang tarbahas hita bei jala hurasa ikkon jaloonta doi sude.

    Taringot tu miskomunikasi ta antara situmorang dohot sitohang, memang tarasahon do i tarsering adong gesekan. sian hamu angka amangudaku Sitohang (amanguda majo hudok ala naposo dope au) mandok poda ni omputta napinarsangapan Raja Babiat do poda i namandok ikkon pajongjongonmu do marga Sitohang (santabi, ido tahe?), Poda Na Uli doi tutu. alai tangkas tong taboto poda ni Omputta Tuan Situmorang mandok ingkon sada do hita “sada lulu di anak, sada lulu di boru”.

    hurasa boi do analogihononta on tu struktur ni perundang-undangan ni negara taon, misalna UUD dohot UU manang UU tu Keppres tu Permen (peraturan menteri) manang UU tu Perda (peraturan daerah), alai santabi ate molo sala pasingot hamu au.

    Jadi hurasa dang sala molo dipajonjong pe punguan Sitohang, punguan Siringo, dll alai ikkon rumikkot do hita di ruhut naumbalga, molo tarbaen dope sada sude di Punguan Ompu Tuan Situmorang ai boasa ikkon baenon angka sekat2 nagumelleng?

    Alai tung hurang pe hita mangulahon, pos rohanta marpanganju do Amanta Debata, jala tong do manumpaki angka Sahala ni Omputta, denggan2 do hubereng angka pinompar ni Ompu i.

    Horas, sahat tabe sian huta.

    Reply
  51. theo pontius situmorang

    HORASS…tu akka Bapa tua,dohot akka uda ku

    au Mahasisiwa dope,,au situmorang suhutni huta kuliah dipalembang jurusan Politik…

    Memang di manapun Orang Batak itu,,terlebih kita poparan op.tuan Situmorang selalu menjunjung tinggi budayanya,,au dang pola berkomentar mengenai Hubungan Sitohang,situmorang,dan Sipitu ama ini sarupa do diau sude i. Dipalembang pe adong do pungan sipitu ama,,satunya kami semua disini.

    jadi,,dimanapun harus tetap satunya kita jangan hanya di kata saja,,..!!! mauliate.

    HORASSSS

    Reply
  52. Fransiscus Situmorang - Raja Dapoton

    Horassssssss,
    Sude akka aha na di diskusihon hamu saluhut di rubrik on dang adong guna na …
    so parduli au manang situmorang aha jala sitohang aha hamu saluhut so adong pengaruhna tu ahu…

    Mauliate…

    Reply
  53. Harry Sihar

    Saya pikir tulisan M Situmorang (diatas) sangat bagus dan pragmatis.
    Juga tulisan2 DR. Benhard Sitohang, cukup logis dan faktual.
    Tapi tolong, buat yang lain, yang ahli tarombo2 ini efek latent nya harus di fikirkan juga dampak negatif ke komunitas keturunan Situmorang Sipituama secara keseluruhan.
    Silsilah mulai si Adam hingga Daud, hingga Pembuangan Ke Babel diperlukan untuk memperkenalkan Mesias – Raja Damai.
    Hendaknya tarombo / Silsilah Situmorang Si7ama juga bisa memperkenalkan pemersatuan keturunannya secara damai untuk saling merasa rendah hati dan menghormati saudaranya, banyak teman dan saudara untuk eksistensi yang positif didalam pergaulan dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.

    dari :
    Sihar Sitohang
    (Pomparan ni Ompu Tuan Situmorang Sipituama, sian anakna ima Ompu Dori Mangambat)

    Reply
  54. Josua

    Kalau ada perkataan yg kurang berkenan tentang “parmargaon” janganlah jadi dibesar”kan..karena dgn sifat seperti itu membuat hubungan jd retak..belum tentu semua berpikiran seperti yg anda pikirkan..anda cerita bukan untuk membangun tp merusak hubungan persaudaraan..byk org jawabanya dan pertanyaanya kedengaran sinis atau sejenisnya tp tujuannya kita belum tau mau kemana..biasakanlah berpikir positif dan mengikat parmargaon..bila perlu mulai dari keturunan adam satukan bukan dipisahkan..jgnlah membuat cerita yg sifatnya kontropersial yg ujungnya memicu pengertian lain bagi yg membaca atau yg mendengar..apalagi cerita yg seperti anda sampaikan yg tdk bs dipertanggung jawabkan atau dibuktikan…ceritamu itu baru kalian berdua yg begitu tp seolah2 semua yg bersikap seperti kalian..dipesan op.tuan situmorang jelas dikatakan semua cicitnya diangkat jd anaknya dan dinamakan “situmorang sipitu ama” tujuanya “mengikat”bukan memisahkan..jadi jgn anda mencari2 alasan lain lagi..”sipituama” artinya hrs anda pahami biar anda jgn membuat opini seperti itu..kesannya udah jelas sejak adanya marga kita dan petua2 dulu ga mengkritik seperti anda..ujung2nya sesudah ada dingding pemisah antara situmorang dgn sitohang lama2 muncul perkawinan antara kedua marga tersebut..APAKAH ITU YG ANDA INGINKAN…? Tidak kan…makanya jgn lg mencari perbedaan dgn cerita seperti itu..jujur aku menganggap itu cerita kanak-kanakan tapi yg lain bisa menanggapi hal lain..TERIMAKASIH.

    Reply
  55. Jonio Situmorang

    Horas amang…
    Saya masih muda, 23 tahun. Belum tahu banyak silsilah situmorang. Saya senang membaca isi dari blog ini. Selama ini ada 2 hal yang membuat saya bingung dengan silsilah situmorang.
    1. Lumban Pande dan Lumban Nahor itu dari 1 bapak yaitu Op. Niambolas
    2. Suhutnihuta dan Tuan Ringo (Siringo-ringo) dari 1 bapak juga yaitu Op. Parhujobung
    3. Mangambat (Sitohang Uruk), Raja itubungna (Sitohang tonga-tonga) dan Op. Bonanionan (Sitohang Toruan) juga dari 1 bapak yaitu Raja Babiat.

    Lalu penggunaan marganya:
    1. Lumban Pande, Lumban Nahor, dan Suhutnihut menggunakan marga Situmorang
    2. Tuan Ringo menggunakan marga Siringo-ringo
    3. Mangambat (Sitohang Uruk), Raja itubungna (Sitohang tonga-tonga) dan Op. Bonanionan (Sitohang Toruan) menggunakan marga Sitohang

    yang jadi pertanyaan saya adalah suhutnihuta dan Tuan Ringo dari 1 bapak tetapi mengapa suhutnihuta menggunakan marga situmorang dan Tuan Ringo menggunakan marga Siringo-ringo?
    Padahal mereka adalah saudara kandung.

    Lalu pertanyaan saya 1 lagi adalah katanya RUMAPEA itu masuk SITUMORANG.
    Masuk Situmorang mana yah?
    Apa termasuk dalam Si PITU AMA atau tidak

    Kedua hal ini masih membingungkan saya karna pengetahuan saya tentang Silsilah dan Sejarah Situmorang atau Si PITU AMA masih minim sekali

    Jika ada kata-kata atau penulisan saya yg salah atau tidak sopan, mohon dimaafkan

    HORAS…

    +++Horas appara Junio Situmorang,
    Terimakasih sudah berkunjung ke blog ini.
    Suhutnihuta dan Tuan Ringo memang dari satu ayah. Tetapi mengapa ada keturunan Tuan Ringo yang menggunakan marga Siringo_ringo dan bukan marga Situmorang saja.
    Sebenarnya, ada juga keturunan Tuan Ringo yang menggunakan marga Situmorang. Sama halnya ada juga keturuan Raja Babiat yang menggunakan marga Situmorang dan bukan marga Sitohang. Ini merupakan bagian dari sejarah dan perkembangan keturunan dari Op Tuan Situmorang nenek moyang Sipituama yang tidak perlu dipersoalkan. Yang penting semua tidak ada yang menyangkal bahwa semuanya adalah keturunan nenek moyang yang sama-sama kita hormati yaitu Op Tuan Situmorang dan teguh memegang ikrar nenek moyang kita yaitu “sisada ulaon, sisada lulu di anak dohot sisada lulu di boru.”.

    Rumapea adalah keturunan dari Tuan Ringo, jadi jelas Rumapea adalah pomparan Sipituama.

    Parhobas

    Reply
  56. Jonio Situmorang

    Mauliate ma amang atas informasi na i
    tambah pengetahuan hu tentang Situmorang. Alani mangaratto do ahu sian gelleng, dang pala godang na di ajari natua-tua ahu tentang sejarah adat batak secara khusus marga situmorang. Naeng do nian hu boto paradaton, asa dang gabe batak dalle iba.

    Mauliate sahali nai di hamu amang

    Reply
  57. junes.situmorang.no.4(tuan ringo. Raja dapoton.

    molo poda/tonani da oppung tu damang,ima taringot tu tarombotta sipitu ama. Molo sitohang dang boi dohonna margana situmorang nangsongoni muse tuan ringo. Dang boi dohonokku siringo ringo au tetap do dohononku si no 4 ima tuan ringo.maranak 2 rajadapoton mai siakkangan sirajarea ma siappudan.jadi dang adong siringo-ringo di hami si no 4.brarti molo adong,, dang sipitu ama be hita. Sisia ama nama dohot rumapea. Maulite tu akka dongan tubu.

    Reply
  58. Tumpak Situmorang

    Horas, ahu Tumoak Situmorang pinompar ni Ompunta Situmorang Tuan Ringo-Raja Dapoton/Raja Hasahatan. Tinggal di Bogor, sahat tu saonari aktif di Punguan Situmorang Sipitu Ama Bogor dohot Nahumaliangna sebagai Ketua Umum, jala Ketua Umum Punguan Situmorang Tuan Ringo-Raja Dapoton/Raja Hasahatan, Boru dohot Bere SEJABODETABEK.
    Naporlu hupangidohon dihita angka Bapakku, Among, Namboru dohot angka Naposo taringot tu pandohan di hami Anggi / Haha dolimuna si nomor 4 Tuan Ringo dang Siringo-ringo.
    Nini ni Ompunta na 7 (Lbn Pande, Lbn. Nahor, Suhut Ni Huta, Tuan Ringo, Dori Mangambat (Sitohang Uruk), Raja Itubungna (Sitohang Tonga-tonga), Bona ni Onan (Sitohang Toruan).
    Pinompar ni Ompunta Tuan Ringo adong 4 (opat) :
    1. Raja Dapoton / Raja Hasahatan (pinompar ni on ma na selalu mambahen marga Situmorang)
    2. Raja Rea (Pinompar ni on ma namamboan marga Siringo-ringo)
    3. Tuan Onggar (Pinomar ni on ma namamboan marga Rumapea)
    4. Siagian Situmorang / Siagian Siringo Situmorang (Godang do nasida marhuta di daerah Indrapura, jala tung mansai masihol do hami pajumpa), Molo pajumpa (marsitandaan) hamu dohot marga Siagian Siringo/Situmorang berarti apala hami mai.

    Jadi dihami namarhahamaranggi nunga pajumpa piga2 hali di Jabodetabek, jala nunga adong sada konensus di hami, molo pajumpa dohot dongan tubu dohonan nami ma Tuan Ringo. Molo disungkun muse sinomor piga hamu, dohon ma nomor 1 berarti pinompar Raja Dapoton/Raja Hasahatan, nomor 2 berarti pinomparni Raja Rea / Siringo-ringo, nomor 3 berarti pinompar ni Tuan Onggar / Rumapea.
    Mengenai pelaskanaan ulaon paradaton di Bogor adong disinggung di Blog on, kebetulan ahu do selalu namangulahon sude ulaon ni anggidoli Sitohang na adong di Bogor. Jadi selalu dipasahat nasida tu punguanta Situmorang Si Pitu Ama. Jada dipanjouon pe selalu nibahen berurutan sian sihaan sahat tu siampudan. (no problem)
    Diau sandiri secara pribadi dang masalah mengenai Sitohang dijouhon, kebetulan hombar nijabunta pe dihuta tong do marga Sitohang, jala namangula ulaon adat di hami di dihuta selalu anggi doli Sitohang walaupun tung mansai torop haha doli di huta i. (Haha doli marulaon, ba anggi doli ma panamboli). Ai mardame sonang do hape angka namarhahamaranggi molo hundul sauduran.
    Memang. adong do sada polemik. Molo marulaon hita dohot marga na asing, Mis. : nasida diboto Hula-hula (parboru) Sitohang, hape parak manjou Hula2 nami Situmorang Sipitu Ama. Sian proses awal dang diboto nasida mungkin ia Sitohang i, tong doi Situmorang Sipituama. Jadi disi do sabotulna hasuhuton diawal patorangkon tu marga nanaeng hela i, asa unang terjadi salah persepsi.
    Blog on cukup menarik dan mendidik, dengan maksud memaparkan sesuatu menjadi pembendaharaan di hita be, anggiat bermanfaat tu hita jala dang porlu menonjolkan ego pribadi. Punguan Sitohang nadenggan do i, songon rahut-rahut do i tu angka pinompar ni ompu, suang songoni dohot Punguan ni par Ompuan, alana disido diboto be tarombona.
    Pangidoanku dihita nang per marpunguan hita be tetap ma dibawah payung Pomparan ni Ompu Tuan Situmorang naung dibahen goarna di Mubes Medan (Hotel Santika) tgl. 21-22 Juni 2014,
    “PARSADAAN SITUMORANG SIPITUAMA DOHOT BORUNA (PSSAB).SE INDONESIA

    Horas ma dihamu saluhutna.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s